Oleh: Siti Hajar
Dalam suasana Hari Raya Idul Fitri di Aceh, minuman bukan sekadar pelengkap, tapi bagian dari cara kita menyambut dan memuliakan tamu. Dari yang sederhana sampai yang segar berwarna-warni, semuanya punya tempatnya sendiri.
10 minuman khas yang kerap hadir:
- Sirup merah “patung”Ini juaranya. Rasanya belum Lebaran kalau belum lihat botol sirup merah berdiri di meja.
- Es buahSegar, ramai isi, dan selalu cepat habis saat tamu ramai.
- Es timun (biasa, bukan timun suri)Lebih ringan, lebih sederhana, tapi justru menyegarkan dengan cara yang khas.
- Sirup orangeAlternatif dari sirup merah, biasanya untuk variasi warna dan rasa.
- Teh (panas atau es)Setia menemani dari pagi sampai malam, terutama setelah makan berat.
- Es kopyorLembut, manis, dan terasa “lebih spesial” saat disajikan.
- KopiIni Aceh—kopi bukan sekadar minuman, tapi bagian dari identitas dan obrolan panjang.
- Es semangkaSegar alami, sederhana, tapi selalu disukai.
- Sop buahLebih “niat” dari es buah, biasanya disajikan untuk tamu yang lebih lama duduk.
- Es cincauMenenangkan, cocok setelah makanan bersantan.
Kalau diperhatikan, minuman-minuman ini seperti mencerminkan karakter orang Aceh sendiri—hangat, terbuka, dan penuh perhatian pada tamu. Gelas boleh sederhana, tapi isinya selalu diusahakan yang terbaik.
Menariknya lagi, di balik semua itu biasanya ada satu sosok yang bolak-balik ke dapur, memastikan gelas tak pernah kosong. Kadang tanpa banyak bicara, tapi justru di situlah letak cinta yang paling terasa. Mereka juga membereskan peralatan yang ada sehabis acara jejamuan hari raya. []
