Bercerita tentang ibu rumah tangga
sepertinya tidak ada habisnya. Pekerjaan yang terus berulang dari pagi ke
malam, hari ini, besok dan seterusnya.
Bangun pagi, menyiapkan kebutuhan rumah,
mengurus anak, membereskan ini itu, lalu malam datang… hanya untuk mengulang
semuanya lagi keesokan hari.
Di tengah rutinitas yang tampak biasa itu,
perlahan muncul rasa lelah yang berbeda. Bukan hanya capek fisik, tapi lelah
yang sulit dijelaskan. Lelah karena pekerjaan yang tidak pernah benar-benar
selesai. Lelah karena tidak ada garis akhir yang jelas. Semua yang dilakukan
terasa seperti “harus”, bukan “pilihan”.
Kadang, tanpa disadari, hati mulai
bertanya pelan: “Hidup kok begini-begini saja, ya?”
Bukan tidak bersyukur. Bukan tidak menerima. Tapi ada ruang dalam diri yang
terasa datar. Flat. Seperti kehilangan warna.
Perasaan itu semakin rumit ketika tanpa
sengaja membuka media sosial. Melihat orang lain dengan kehidupan yang tampak
lebih rapi, lebih bahagia, lebih “hidup”. Ada yang traveling, ada yang punya
pencapaian, ada yang terlihat punya waktu untuk dirinya sendiri. Sementara diri
ini… masih berkutat dengan piring kotor, cucian, dan daftar pekerjaan yang
tidak ada habisnya.
Perbandingan itu mungkin tidak diundang,
tapi diam-diam masuk. Menggerus rasa cukup yang sebelumnya baik-baik saja.
Di titik inilah banyak ibu rumah tangga
mulai merasakan burnout—bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka terus
memberi tanpa cukup ruang untuk mengisi ulang diri sendiri.
Dan sering kali, semua itu terjadi dalam
diam. Tanpa jeda. Tanpa benar-benar dipahami.
Apa yang kamu rasakan itu sangat
manusiawi—dan jujur saja, sangat banyak ibu rumah tangga mengalami hal yang
sama, hanya saja tidak semua bisa mengungkapkannya. Burnout dalam pekerjaan
domestik itu unik: tidak ada “jam pulang”, tidak ada “cuti resmi”, dan sering
kali tidak terlihat sebagai kerja keras oleh orang lain. Padahal energinya
terkuras terus-menerus.
Masalah utamanya bukan sekadar “tidak ada
waktu”, tapi ritmenya tidak pernah berhenti. Bahkan ketika weekend yang
seharusnya jadi waktu istirahat, justru berubah jadi “shift kedua” dengan
bentuk yang berbeda.
Jadi kita tidak bisa menyelesaikannya
hanya dengan nasihat umum seperti “ambil me time ya”—karena kenyataannya, me
time itu harus dibuat, bukan ditunggu.
Coba lihat ini dari sudut yang lebih
realistis dan bisa diterapkan, kamu sangat bisa untuk mencobanya.
Pertama,
ubah definisi me time.
Me time
tidak harus selalu pergi keluar, spa, atau waktu panjang sendirian. Dalam fase
hidup seperti ini, me time bisa sangat kecil tapi konsisten. Misalnya:
- 10–15
menit minum teh hangat tanpa gangguan
- Duduk
diam setelah subuh sebelum semua bangun
- Mendengarkan
sesuatu yang kamu suka sambil melakukan pekerjaan ringan
Yang penting bukan durasinya, tapi rasa
“ini waktuku, bukan untuk orang lain”.
Kedua,
jangan menunggu weekend untuk istirahat.
Ini yang sering menjebak. Kita berharap
weekend jadi “balasan”, padahal justru lebih padat. Jadi, lebih sehat kalau
istirahat itu disebar di hari biasa, walaupun sedikit-sedikit.
Ketiga, buat batas halus (soft
boundaries). Bukan
berarti menolak keluarga, tapi mengatur ritme:
- Tidak semua undangan harus diiyakan
- Tidak
semua harus sempurna (rumah, masakan, dll.)
- Boleh
bilang: “sebentar ya, ibu mau duduk dulu”
Kalimat sederhana, tapi itu bentuk self
respect.
Keempat, libatkan anggota keluarga. Kadang burnout datang bukan karena
banyaknya pekerjaan saja, tapi karena merasa memikul semuanya sendiri.
Anak-anak, bahkan pasangan, bisa dilibatkan—walau kecil. Bukan hanya membantu
kerja, tapi mengurangi beban mental.
Kelima, izinkan diri untuk “tidak
produktif”. Ini penting.
Banyak ibu merasa bersalah kalau tidak melakukan apa-apa. Padahal diam,
rebahan, atau sekadar menatap kosong itu juga kebutuhan tubuh dan pikiran.
Dan Self
love itu adalah memberi ruang untuk diri sendiri. Merenungi dan mengambil hikmah dari perjalanan
hidup yang telah terlewati, momen-momen indah. Tentu saja menentukan langkah baik
yang harus dilakukan esok hari. Ada target-target pribadi, pengembangan diri
dan segala macam itu. Tentu saja poin akhir adalah lebih memahami dan
mencintai diri sendiri. []
