Biru, Hari Pertama di Rumah Kami

Oleh: Siti Hajar

Namanya Biru. Ia datang diantar oleh kedua orang tuanya, Mami dan Abi demikian kami memanggilnya. Biru diantar karena keluarga merasa sangat sibuk dan khawatir Biru tidak terperhatikan dengan baik. Mereka menititipkan Biru bersama kandang, makanan, pasir wangi, dan segala perlengkapannya.

Namanya Biru, tapi bulunya justru abu ke krem. Tidak ada warna biru sedikit pun. Entah mengapa ia diberi nama itu. Mungkin pemiliknya menyukai langit biru, atau ada kenangan tertentu yang tersimpan di balik nama itu. Tapi yang pasti, melihat wajahnya saja sudah cukup membuat hati luluh. Lucu, tenang, dan ada kesan lembut yang menenangkan.

Malam harinya, aku membuat keputusan yang terasa sederhana. Aku melepaskannya dari kandang. Rasanya tidak tega melihatnya terkurung. Bang Budy, suamiku, pernah berkata hal yang sama—ia tidak tahan melihat kucing dipelihara dalam kandang. Jadi aku pikir, tidak apa-apa. Biarlah ia bebas, mungkin lebih nyaman.

Kami pun tidur dengan tenang.

Namun pagi harinya, Biru tidak ada.

Aku mulai mencarinya ke seluruh sudut rumah. Di bawah meja, di balik kursi, hingga kolong tempat tidur. Tidak ada. Adzan Subuh berkumandang, kami berhenti sejenak untuk salat. Dalam hati masih ada harapan, mungkin setelah ini ia akan muncul. Tapi setelah itu, pencarian berlanjut, dan tetap tidak ditemukan.

Kami keluar rumah. Menyusuri blok belakang, berjalan ke depan hingga dua blok dari rumah. Biru tetap tidak terlihat. Perasaan mulai berubah. Dari khawatir menjadi penyesalan. Kenapa semalam aku harus melepaskannya? Apakah ia keluar sendiri? Tapi melihat geraknya yang lembut, rasanya ia bukan tipe yang berani pergi jauh.

Kami kembali masuk ke rumah, mencari lagi dengan lebih teliti. Lalu aku mencoba mengitari rumah.

Dan di sanalah aku menemukannya.

Di sudut rumah tetangga, ada lorong kecil yang sempit dan gelap. Biru masuk ke dalamnya. Semakin dipanggil, ia justru semakin masuk ke dalam. Aku memanggilnya berkali-kali, mencoba membujuk dengan suara lembut. Tidak berhasil. Aku ambil makanannya, kubunyikan wadahnya, berharap ia keluar.

Tapi Biru tetap diam di sana. Seperti sedang bersembunyi dari dunia.

Akhirnya aku menyerah. Aku biarkan ia di sana, dengan harapan ia akan keluar sendiri.

Rutinitas pagi tetap berjalan. Aku, Bang Budy, dan Dara pergi sarapan ke warung. Tapi pikiranku masih tertinggal di lorong sempit itu.

Siang harinya, saat aku sudah di kantor, Bang Budy mengabari bahwa Biru sudah kembali. Ia sudah berada di dalam kandangnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Alhamdulillah.

Hari pertama Biru di rumah kami langsung mengajarkan satu hal sederhana: setiap makhluk butuh waktu untuk merasa aman. Dan kadang, yang kita anggap “kebebasan”, justru terasa menakutkan bagi mereka yang belum siap. []

Lebih baru Lebih lama