Oleh: Siti Hajar
Akhir-akhir ini aku mulai
belajar membuat roti. Selain karena aku sendiri menyukainya, orang-orang di
rumah pun tampak begitu akrab dengan makanan berbahan ragi ini. Ada semacam
kehangatan yang hadir setiap kali aroma roti baru keluar dari oven—harum yang
sederhana, tapi menenangkan. Dari situlah rasa penasaran itu muncul. Darimana
sebenarnya asal muasal roti ini? Roti yang hari ini kita kenal dengan begitu
banyak variasi dan rasa.
Di meja makan kita, roti
sudah menjelma menjadi bagian dari keseharian. Ada roti tawar yang setia
menemani pagi, diolesi selai cokelat, srikaya, atau selai nanas. Ada pula roti
sobek yang lembut, kadang polos tanpa isi, kadang menyimpan kejutan rasa kelapa,
cokelat, atau moka di dalamnya. Belum lagi roti-roti isi dengan berbagai
pilihan—cokelat, matcha, srikaya, hingga stroberi—yang seolah tak pernah habis
berinovasi mengikuti selera.
Namun, siapa sangka,
perjalanan roti dimulai jauh dari dapur-dapur modern seperti yang kita kenal
sekarang.
Jejak awal roti dapat
ditelusuri hingga ribuan tahun lalu di wilayah Timur Tengah, tepatnya di
kawasan Mesopotamia. Pada masa itu, manusia mulai mengenal cara mengolah
biji-bijian seperti gandum menjadi adonan sederhana yang kemudian dipanggang di
atas batu panas. Roti pertama tidaklah selembut yang kita nikmati hari ini—ia
keras, pipih, dan sangat sederhana.
Perkembangan penting
terjadi di Mesir Kuno. Di sinilah manusia mulai mengenal proses fermentasi,
kemungkinan besar secara tidak sengaja. Adonan yang dibiarkan ternyata
mengembang karena bantuan ragi alami di udara. Dari proses inilah lahir roti
yang lebih empuk dan bertekstur, menjadi cikal bakal roti modern yang kita
kenal sekarang.
Perjalanan roti kemudian
berlanjut ke Romawi Kuno, di mana teknik pembuatan roti semakin berkembang.
Orang-orang Romawi mulai menggunakan oven dan menciptakan sistem produksi yang
lebih terstruktur. Dari sana, roti menyebar ke seluruh Eropa, berkembang
menjadi berbagai jenis dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Lalu, bagaimana roti bisa
sampai begitu dekat dengan kehidupan kita di Indonesia, bahkan hingga ke
rumah-rumah di Aceh?
Jawabannya tak lepas dari
perjalanan sejarah. Melalui masa kolonial, terutama oleh bangsa Belanda, roti
diperkenalkan ke Nusantara. Awalnya, ia adalah makanan kalangan tertentu,
identik dengan gaya hidup Eropa. Namun seiring waktu, masyarakat lokal mulai
mengadopsi, mengolah, dan akhirnya menyesuaikannya dengan selera sendiri.
Di titik inilah roti
benar-benar “berubah wajah”.
Ia tidak lagi sekadar roti
Eropa, tetapi telah menjadi roti Indonesia, bahkan ada yang dikenal roti Bugis—dan
juga roti Aceh. Teksturnya lebih lembut, rasanya cenderung manis, dan isiannya
mengikuti kekayaan rasa lokal. Roti hadir di warung kecil, di acara keluarga,
di pagi hari yang sederhana, hingga di momen-momen santai bersama secangkir
kopi atau teh.
Dan mungkin, tanpa kita
sadari, setiap kali kita menggigit sepotong roti, kita sedang menyentuh jejak
panjang peradaban manusia—dari ladang gandum di masa kuno hingga dapur hangat
di rumah kita hari ini.
Baiklah, dari rasa
penasaran sederhana itu, ternyata roti membawa kita pada sebuah perjalanan yang
panjang—perjalanan rasa, sejarah, dan budaya yang terus hidup hingga kini.
Resep Roti Sederhana
Ala Siti Hajar
Kemudian, untuk membuat
roti sederhana, aku ingin berbagi resep yang sudah cukup sering aku praktikkan
di rumah. Resep ini fleksibel—bisa dibentuk sesuai selera, diisi dengan
berbagai varian rasa, bahkan bisa dipanggang ataupun dikukus. Jadi benar-benar ramah
untuk siapa saja yang baru mulai belajar membuat roti.
Pertama, tentu saja
siapkan bahan-bahannya. Kita membutuhkan tepung terigu sebanyak 300 gram, gula
2 sendok makan, ragi instan sekitar 1 sendok teh, 1 butir telur, mentega 2
sendok makan, susu bubuk 3 sendok makan dan garam secukupnya. Untuk hasil yang lebih meyakinkan, ragi
bisa dites terlebih dahulu. Caranya, campurkan ragi dengan sekitar 75 ml air
hangat dan sedikit gula, lalu diamkan selama kurang lebih 10 menit. Jika muncul
buih, itu tandanya ragi aktif dan siap digunakan.
Setelah itu, campurkan
semua bahan dalam satu wadah, lalu uleni hingga adonan menjadi kalis—tidak
lengket di tangan dan terasa elastis. Proses ini memang butuh sedikit
kesabaran, tapi di sinilah letak “seni”-nya. Ada rasa puas tersendiri ketika
adonan mulai terasa hidup di tangan kita.
Selanjutnya, adonan perlu
diistirahatkan. Tutup dengan kain bersih, plastik, atau apa saja yang bisa
menjaga kelembapannya, lalu diamkan selama 30 menit hingga 1 jam. Biarkan ragi
bekerja, membuat adonan mengembang hingga kurang lebih dua kali lipat.
Ketika adonan sudah
mengembang, kempiskan perlahan untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Setelah
itu, kita bisa mulai membentuk adonan sesuai selera—bulat, lonjong, atau
sobek—dan menambahkan isian sesuai keinginan, mulai dari cokelat, kelapa,
hingga srikaya.
Jangan terburu-buru.
Setelah dibentuk, diamkan kembali adonan selama sekitar 30 menit agar hasilnya
lebih lembut. Barulah setelah itu roti siap untuk dipanggang di oven atau
dikukus, tergantung selera.
Sederhana, bukan? Tapi dari proses yang sederhana ini, selalu ada kebahagiaan kecil yang lahir—terutama saat roti matang dan aroma harumnya memenuhi rumah. Kalian harus coba ya. []
