Sophie's Sunset Library: Kenanganku di Sini

Oleh: Siti Hajar
Shopie’s Sunset Library. Aku seperti menemukan oase kecil di tengah perjalanan, ya. Tempatnya mungkin sederhana, tapi ruhnya terasa begitu hidup dari buku-buku yang berjejer rapi—seakan masing-masing menyimpan dunia yang siap dibuka kapan saja. Ia terletak di Kawasan Wisata Lampuuk Aceh Besar. Persis diapit oleh Joels Bungalow dekat Lhoknga.

Sophie's Sunset Library merupakan ruang sebuah gudang ilmu yang tidak hanya menyimpan buku, tapi juga menyimpan harapan. Bayangkan, di sebuah kawasan wisata pantai yang identik dengan debur ombak dan senja yang tenang, justru berdiri sebuah taman bacaan dengan koleksi lintas bahasa—Inggris, Arab, Aceh, dan Indonesia. Ini bukan sekadar tempat membaca, tapi ruang pertemuan berbagai peradaban kecil dalam satu rak.

Seribuan buku untuk ukuran taman bacaan masyarakat itu bukan angka yang kecil. Itu adalah seribu pintu, seribu kemungkinan, seribu percakapan sunyi antara pembaca dan penulis yang mungkin tak pernah saling bertemu. Dan yang lebih menghangatkan hati, keberagaman bahasanya menunjukkan bahwa pustaka ini tidak membatasi siapa yang boleh belajar dan dari mana pengetahuan itu datang.

Aku bisa membayangkan, mungkin ada anak-anak yang awalnya datang hanya untuk bermain di sekitar pantai, lalu perlahan tertarik membuka satu buku. Atau seseorang yang sengaja datang untuk mencari ketenangan, lalu menemukan dirinya larut dalam halaman-halaman yang tak terduga.

Sepeda Penyambut Tamu

Di depan pintu masuk Sophie's Sunset Library itu, aku seperti disambut oleh sesuatu yang tidak biasa—sebuah sepeda tua yang berdiri diam, setia di tempatnya. Catnya mulai memudar, besinya berkarat, dan udara laut tampaknya tak pernah benar-benar berkompromi dengan usianya. Tapi entah mengapa, justru di situlah letak pesonanya. Ia tidak tampak rapuh, melainkan seperti penjaga waktu. Seolah ia berbisik pelan, “Silakan masuk, kami menanti kehadiran kalian.”

Langkahku pun berlanjut ke dalam. Ruang pustaka itu sederhana, tidak berusaha menjadi megah. Namun di dalamnya, benda-benda seperti menyimpan cerita yang lebih tua dari usia bangunannya sendiri. Sebuah piano tertutup kain berdiri tenang, seperti seseorang yang memilih diam setelah lama bercerita. Di sampingnya, sebuah tape recorder besar—model lama yang mungkin pernah menjadi pusat hiburan di zamannya—mengingatkanku pada masa ketika musik tidak sekadar didengar, tapi dinanti.

Aku membayangkan, dulu mungkin ada keluarga yang duduk bersama, menekan tombol play, lalu membiarkan suara mengisi ruang dengan kebahagiaan yang sederhana. Ukurannya yang besar seperti menegaskan, bahwa benda ini bukan milik sembarang orang. Ia pernah menjadi bagian dari kehidupan yang penuh rasa.

Tak jauh dari sana, sebuah gitar kecil tergantung, nyaris tak mencolok. Tapi justru di situlah letak kehangatannya. Ia seperti menunggu disentuh kembali, menunggu jari-jari yang mau menghidupkan nadanya. Di antara buku-buku yang diam, benda-benda ini seperti ingin mengingatkan—bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari kata-kata, tapi juga dari bunyi, dari kenangan, dari sesuatu yang pernah hidup dan kini memilih untuk diam.

Dan aku berdiri di sana, merasa seperti tidak hanya sedang berkunjung ke sebuah pustaka, tapi sedang masuk ke dalam ruang waktu—tempat di mana buku, musik, dan kenangan saling berpelukan tanpa suara.

Buku Toto Chan

Di antara rak-rak buku di Sophie's Sunset Library itu, tanganku tanpa ragu meraih satu judul yang rasanya seperti “wajib hadir” di setiap pustaka: Totto-chan: The Little Girl at the Window. Buku itu seperti sahabat lama—hangat, jujur, dan selalu punya cara untuk menyentuh sisi terdalam pembacanya.

Di dalamnya, Tetsuko Kuroyanagi bercerita tentang dirinya sendiri, tentang seorang anak kecil yang begitu kaya imajinasi hingga justru dianggap “berbeda.” Ia bahkan dikeluarkan dari sekolah pada hari pertamanya. Sebuah awal yang mungkin terdengar menyedihkan, tapi justru menjadi pintu menuju pengalaman belajar yang jauh lebih manusiawi.

Latar kisahnya juga tidak sederhana. Jepang saat itu sedang berada dalam bayang-bayang Perang Dunia II. Namun di tengah situasi yang penuh ketidakpastian itu, cerita Totto-chan justru menghadirkan harapan—tentang bagaimana seorang anak bisa tetap tumbuh, belajar, dan merasa diterima apa adanya.

Tak heran jika buku ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Ia melampaui batas negara, karena yang dibicarakan adalah sesuatu yang sangat universal: tentang menjadi diri sendiri, tentang pendidikan yang memanusiakan, dan tentang melihat dunia dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

Aku menutup buku itu perlahan, tapi rasanya cerita di dalamnya masih tinggal. Di sekelilingku, masih banyak buku lain yang seakan memanggil untuk dibaca—masing-masing dengan kisahnya sendiri.

Suamiku lalu berkata pelan, “Kapan-kapan kita harus kembali lagi ke sini.”

Aku tersenyum. Rasanya bukan sekadar ajakan biasa. Ada janji kecil di dalamnya—untuk kembali, untuk duduk lebih lama, membuka lebih banyak halaman, mungkin sambil ditemani suara ombak dari pantai Lampuuk yang tak jauh dari sana.

Siapa tahu, kami juga beruntung menyaksikan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Membaca buku di antara cahaya senja—sebuah kemewahan sederhana yang tidak semua orang sempat rasakan.

Masyaallah… di momen itu aku benar-benar merasa beruntung. Bukan hanya karena menemukan sebuah pustaka dengan koleksi yang kaya, tapi karena diberi waktu, kesempatan, dan hati yang masih mau berhenti sejenak—untuk membaca, untuk merasakan, dan untuk bersyukur.

Doa untuk Owner Sophies Sunset Library

Di akhir kunjungan itu, aku berharap , semoga Sophie's Sunset Library terus menjadi tempat yang memberi manfaat bagi siapa saja yang melangkah masuk ke dalamnya. Bukan hanya sebagai ruang membaca, tetapi sebagai ruang bertumbuh, ruang menemukan kembali ketenangan, dan mungkin juga ruang untuk menyembuhkan diri dari riuhnya dunia.

Kepada pemiliknya, semoga Allah limpahkan keberkahan yang luas. Dari setiap buku yang dibaca, dari setiap langkah yang singgah, hingga dari usaha kafe yang berjalan berdampingan dengan pustaka ini—semoga semuanya menjadi pintu rezeki yang baik, yang mengalir tanpa putus dan membawa kebaikan bagi banyak orang.

Semoga kesehatan selalu menyertai, agar semangat untuk merawat tempat ini tidak pernah padam. Karena dari tempat sederhana seperti inilah, seringkali lahir perubahan besar—pelan, tapi pasti. []

Lebih baru Lebih lama