Belajar Mindfulness dari Dapur, Tulisan, dan Tanaman



Oleh: Siti Hajar

Setahun terakhir, saya juga mulai belajar menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. Saya mencoba hadir sepenuhnya pada apa yang sedang saya lakukan. Saat menulis, saya benar-benar menulis. Saat membuat kue, saya menikmati aroma mentega, suara mixer, dan proses adonan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang hangat. Saat berkebun, saya belajar menyentuh tanah dengan lebih tenang dan tidak terburu-buru.

Hal yang membuat saya happy adalah ketika keluarga saya menghabiskan bolu dan roti seketika habis sesaat diangkat dari oven. Hahaha ini bisa membuat saya senyum-senyum sendiri. Dan ini menambahkan semangat saya untuk terus belajar membuat bolu dan roti.

Saya mulai melakukan banyak hal dengan niat. Tidak sekadar menjalani rutinitas karena harus, tetapi mencoba sadar bahwa setiap proses memiliki makna. Dan yang paling penting, saya belajar bangga terhadap apa pun hasilnya. Tidak selalu harus sempurna. Tidak selalu harus mendapat pujian. Kadang cukup dengan berkata pada diri sendiri, “Hari ini aku sudah berusaha,” itu pun sudah menenangkan.

Ada masa dalam hidup saya ketika hari-hari terasa begitu penuh. Pagi dimulai dengan rutinitas seorang ibu dan pekerja. Menyiapkan kebutuhan rumah, memastikan anak baik-baik saja, lalu berangkat bekerja dari pukul sembilan sampai lima. Sepulang kantor, hidup belum benar-benar selesai. Ada rumah yang harus tetap hangat, ada tugas kuliah yang menunggu karena di usia yang tidak lagi muda, saya memutuskan kembali menjadi mahasiswa psikologi.

Kadang saya sendiri heran bagaimana semuanya bisa berjalan bersamaan.

Namun di tengah semua itu, saya perlahan menyadari satu hal. Mungkin saya tetap bisa bertahan karena saya memiliki cara sendiri untuk menghadapi stres. Cara yang sederhana, tetapi diam-diam menyelamatkan banyak hal dalam diri saya.

Saya menulis.

Bagi sebagian orang, menulis mungkin hanya aktivitas biasa. Tetapi bagi saya, menulis adalah ruang sunyi tempat kepala yang penuh akhirnya bisa bernapas. Ada hal-hal yang sulit diucapkan keras-keras, tetapi menjadi lebih ringan ketika dituangkan menjadi kalimat. Kadang saya menulis tentang kehidupan sehari-hari, tentang psikologi, tentang perasaan, bahkan tentang hal kecil yang tampak sepele. Namun dari sana saya merasa lebih utuh.

Saya juga Belajar Membuat kue

Aneh memang. Di saat lelah, justru saya memilih masuk ke dapur. Mengaduk adonan, menimbang bahan, mencium aroma roti yang matang perlahan di oven. Semua itu seperti terapi kecil yang menenangkan hati. Saya belajar bahwa hidup mirip seperti membuat adonan. Tidak semua hasil langsung sempurna. Kadang bantat, kadang terlalu keras, kadang gagal total. Tetapi selalu ada kesempatan untuk mencoba lagi.

Dan saat pikiran terasa terlalu ramai, saya berkebun.

Melihat tanaman tumbuh pelan-pelan membuat saya belajar tentang kesabaran. Tidak semua hal harus tumbuh cepat. Ada yang membutuhkan waktu, perawatan, dan ketelatenan. Sama seperti manusia.

Lucunya, saya baru memahami semua ini setelah belajar psikologi. Ternyata apa yang selama ini saya lakukan memiliki nama. Coping mechanism. Cara seseorang menghadapi tekanan hidup agar tetap sehat secara mental dan emosional.

Saya bersyukur karena tanpa sadar, saya memilih cara yang cukup sehat untuk bertahan.

Menulis membuat emosi lebih teratur. Membuat kue memberi rasa tenang dan kendali. Berkebun membantu saya kembali terhubung dengan alam dan diri sendiri. Ketiganya menjadi penolong kecil di tengah hidup yang terus bergerak cepat.

Suatu hari, suami saya pernah berkata, “Kamu mah enak, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres.”

Awalnya saya hanya tertawa. Tetapi setelah dipikir-pikir, mungkin benar. Tidak semua orang punya tempat untuk menemukan dirinya saat pikirannya lelah. Tidak semua orang menemukan aktivitas yang bisa memeluk dirinya sendiri ketika dunia terasa berat.

Dan mungkin itu sebabnya saya tetap bertahan sampai hari ini.

Saya bukan perempuan yang hidupnya tanpa tekanan. Saya juga lelah. Saya juga pernah merasa ingin diam saja. Tetapi saya belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti tidak stres. Menjadi dewasa adalah menemukan cara agar kita tidak tenggelam oleh stres itu sendiri.

Bagi saya, cara itu hadir lewat tulisan, dapur kecil, dan tanaman-tanaman yang tumbuh pelan di rumah. []

Lebih baru Lebih lama