Setahun terakhir, saya juga mulai belajar
menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. Saya mencoba hadir
sepenuhnya pada apa yang sedang saya lakukan. Saat menulis, saya benar-benar
menulis. Saat membuat kue, saya menikmati aroma mentega, suara mixer, dan
proses adonan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang hangat. Saat berkebun,
saya belajar menyentuh tanah dengan lebih tenang dan tidak terburu-buru.
Hal yang membuat saya happy adalah ketika keluarga
saya menghabiskan bolu dan roti seketika habis sesaat diangkat dari oven.
Hahaha ini bisa membuat saya senyum-senyum sendiri. Dan ini menambahkan
semangat saya untuk terus belajar membuat bolu dan roti.
Saya mulai melakukan banyak hal dengan niat. Tidak
sekadar menjalani rutinitas karena harus, tetapi mencoba sadar bahwa setiap
proses memiliki makna. Dan yang paling penting, saya belajar bangga terhadap
apa pun hasilnya. Tidak selalu harus sempurna. Tidak selalu harus mendapat
pujian. Kadang cukup dengan berkata pada diri sendiri, “Hari ini aku sudah
berusaha,” itu pun sudah menenangkan.
Ada masa dalam hidup saya ketika hari-hari terasa
begitu penuh. Pagi dimulai dengan rutinitas seorang ibu dan pekerja. Menyiapkan
kebutuhan rumah, memastikan anak baik-baik saja, lalu berangkat bekerja dari
pukul sembilan sampai lima. Sepulang kantor, hidup belum benar-benar selesai.
Ada rumah yang harus tetap hangat, ada tugas kuliah yang menunggu karena di
usia yang tidak lagi muda, saya memutuskan kembali menjadi mahasiswa psikologi.
Kadang saya sendiri heran bagaimana semuanya bisa
berjalan bersamaan.
Namun di tengah semua itu, saya perlahan menyadari
satu hal. Mungkin saya tetap bisa bertahan karena saya memiliki cara sendiri
untuk menghadapi stres. Cara yang sederhana, tetapi diam-diam menyelamatkan
banyak hal dalam diri saya.
Saya menulis.
Bagi sebagian orang, menulis mungkin hanya
aktivitas biasa. Tetapi bagi saya, menulis adalah ruang sunyi tempat kepala
yang penuh akhirnya bisa bernapas. Ada hal-hal yang sulit diucapkan
keras-keras, tetapi menjadi lebih ringan ketika dituangkan menjadi kalimat.
Kadang saya menulis tentang kehidupan sehari-hari, tentang psikologi, tentang
perasaan, bahkan tentang hal kecil yang tampak sepele. Namun dari sana saya
merasa lebih utuh.
Saya juga Belajar Membuat kue
Aneh memang. Di saat lelah, justru saya memilih
masuk ke dapur. Mengaduk adonan, menimbang bahan, mencium aroma roti yang
matang perlahan di oven. Semua itu seperti terapi kecil yang menenangkan hati.
Saya belajar bahwa hidup mirip seperti membuat adonan. Tidak semua hasil
langsung sempurna. Kadang bantat, kadang terlalu keras, kadang gagal total.
Tetapi selalu ada kesempatan untuk mencoba lagi.
Dan saat pikiran terasa terlalu ramai, saya
berkebun.
Melihat tanaman tumbuh pelan-pelan membuat saya
belajar tentang kesabaran. Tidak semua hal harus tumbuh cepat. Ada yang
membutuhkan waktu, perawatan, dan ketelatenan. Sama seperti manusia.
Lucunya, saya baru memahami semua ini setelah
belajar psikologi. Ternyata apa yang selama ini saya lakukan memiliki nama.
Coping mechanism. Cara seseorang menghadapi tekanan hidup agar tetap sehat
secara mental dan emosional.
Saya bersyukur karena tanpa sadar, saya memilih
cara yang cukup sehat untuk bertahan.
Menulis membuat emosi lebih teratur. Membuat kue
memberi rasa tenang dan kendali. Berkebun membantu saya kembali terhubung
dengan alam dan diri sendiri. Ketiganya menjadi penolong kecil di tengah hidup
yang terus bergerak cepat.
Suatu hari, suami saya pernah berkata, “Kamu mah
enak, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres.”
Awalnya saya hanya tertawa. Tetapi setelah
dipikir-pikir, mungkin benar. Tidak semua orang punya tempat untuk menemukan dirinya saat
pikirannya lelah. Tidak semua orang menemukan aktivitas yang bisa memeluk
dirinya sendiri ketika dunia terasa berat.
Dan mungkin itu sebabnya saya tetap bertahan
sampai hari ini.
Saya bukan perempuan yang hidupnya tanpa tekanan.
Saya juga lelah. Saya juga pernah merasa ingin diam saja. Tetapi saya belajar
bahwa menjadi dewasa bukan berarti tidak stres. Menjadi dewasa adalah menemukan
cara agar kita tidak tenggelam oleh stres itu sendiri.
Bagi saya, cara itu hadir lewat tulisan, dapur
kecil, dan tanaman-tanaman yang tumbuh pelan di rumah. []
