Oleh: Siti Hajar
Kalau mendengar kata marmer, apa yang
langsung terbayang di kepala? Lantai rumah mewah? Dinding hotel berbintang?
Atau meja dapur yang mengilap seperti baru dipoles setiap lima menit sekali?
Haha... saya juga begitu.
Awalnya saya kira marmer itu urusan tukang
bangunan. Ternyata marmer juga bisa masuk ke dapur dan berubah menjadi sesuatu
yang jauh lebih menggoda: bolu marmer.
Bolu marmer memang unik. Ia tidak pernah rapi.
Motifnya semaunya sendiri. Tidak ada garis lurus, tidak ada pola yang bisa
ditebak. Warna krem berpadu dengan cokelat membentuk corak yang kadang mirip
awan, kadang mirip sungai yang berkelok-kelok, bahkan kadang mirip peta harta
karun yang entah mengarah ke mana.
Anehnya, justru karena tidak beraturan itulah bolu
marmer terlihat cantik. Sama seperti hidup, kadang yang tidak sempurna justru
paling menarik untuk dinikmati.
Untuk membuat bolu marmer, bahan-bahannya cukup
sederhana. Siapkan 4 butir telur, 100 gram gula pasir, 180 gram tepung terigu,
100 gram margarin yang telah dilelehkan, cokelat oles secukupnya, sedikit pasta
cokelat, sedikit soda kue, dan sedikit garam.
Langkah pertama, kocok telur dan gula hingga
mengembang. Pada tahap ini biasanya saya mulai optimis bahwa saya sudah
setengah jalan menuju keberhasilan. Padahal kenyataannya perjalanan masih
panjang dan masih banyak kesempatan untuk melakukan kesalahan-kesalahan
kreatif.
Masukkan tepung terigu, soda kue, dan garam
sedikit demi sedikit sambil terus diaduk perlahan. Setelah tercampur rata,
tuangkan margarin cair dan aduk kembali hingga adonan halus.
Nah, sekarang masuk ke bagian yang paling
menyenangkan.
Ambil sebagian adonan lalu campurkan dengan
cokelat oles dan sedikit pasta cokelat. Jadilah dua warna adonan: satu berwarna
krem dan satu lagi berwarna cokelat.
Tuang adonan krem ke dalam loyang, lalu tambahkan
sebagian adonan cokelat. Ulangi beberapa kali secara berselang-seling. Setelah
itu, ambil tusuk sate atau ujung sendok lalu buat gerakan memutar secara acak.
Inilah saatnya jiwa seniman muncul.
Tidak perlu terlalu serius. Tidak perlu membuat
pola tertentu. Justru semakin santai, motif marmer yang terbentuk biasanya
semakin menarik. Kalau hasilnya terlihat seperti peta Aceh, anggap saja bonus.
Kalau terlihat seperti awan mendung, juga tidak masalah. Yang penting jangan
sampai terlihat seperti soal matematika yang belum selesai dikerjakan.
Setelah selesai, panggang hingga matang dan
permukaannya berwarna keemasan. Aroma harum mentega dan cokelat perlahan akan
memenuhi dapur. Biasanya pada tahap ini anggota keluarga mulai berdatangan
tanpa diundang.
"Sudah matang belum?"
"Masih panas ya?"
"Boleh dicicipi sedikit?"
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana
tetapi sebenarnya merupakan bentuk tekanan psikologis bagi pembuat kue.
Ketika bolu marmer akhirnya matang dan dipotong,
akan terlihat corak khas berwarna krem dan cokelat di bagian dalamnya. Tidak
ada dua potong bolu yang benar-benar sama. Masing-masing memiliki motif unik
hasil karya tangan sendiri.
Dan itulah yang membuat bolu marmer selalu
istimewa. Ia tidak hanya enak dimakan, tetapi juga menyimpan kejutan di setiap
irisan. Mirip hidup yang kadang penuh pola tak terduga, tetapi tetap bisa
dinikmati dengan secangkir teh hangat.
Kalau suatu hari ada yang bertanya, "Sedang
membuat marmer?"
Jangan buru-buru menjawab.
Bisa jadi yang dimaksud bukan lantai atau dinding rumah, melainkan bolu lembut yang membuat satu rumah sibuk mencari potongan kedua.[]
