Oleh: Siti Hajar
Artikel ini untuk
kamu yang sedang berusaha menjadi diri sendiri.
Untuk kamu yang sedang belajar mencintai diri sendiri perlahan-lahan.
Kamu yang sedang
menuju jalan pulih dari luka batin.
Yang sedang
mencoba keluar dari trauma yang menyakitkan.
Yang lelah dengan
isi kepala sendiri, dengan pikiran-pikiran aneh yang terus datang tanpa
diundang.
Untuk kamu yang
sedang berjuang mengelola kemarahanmu sendiri, bahkan kadang tanpa tahu apa
penyebabnya.
Bagaimanapun
keadaannya kamu Kamu hebat. Kamu istimewa, dan kamu kuat. Buktinya kami masih
bertahan sejauh ini.
Mungkin hari ini
hidup belum sepenuhnya mudah. Mungkin ada luka yang belum selesai. Ada kecewa
yang masih tertinggal. Ada rasa takut yang belum benar-benar pergi. Tetapi
percayalah, tidak ada manusia yang tercipta tanpa makna.
Hari ini dan
seterusnya, cobalah menerima dirimu sebagai sebaik-baik ciptaan Allah. Tidak
ada yang gagal dari ciptaan-Nya. Semua yang terjadi dalam hidup, bahkan luka
sekalipun, mungkin sedang membawa manusia menuju tujuan yang lebih besar dan
lebih mulia.
Ada orang-orang
yang begitu lembut kepada dunia, tetapi terlalu keras kepada dirinya sendiri.
Mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi sulit berdamai dengan
kekurangannya sendiri. Mudah memahami luka orang lain, tetapi menganggap
lukanya sendiri sebagai kelemahan yang harus disembunyikan.
Padahal, sebelum
menjadi tempat pulang bagi siapa pun, manusia terlebih dahulu harus mampu
menjadi rumah yang nyaman bagi dirinya sendiri.
Menjadi sahabat
baik untuk diri sendiri bukan berarti menjadi egois atau terlalu memanjakan
diri. Ini tentang belajar memperlakukan diri dengan cara yang lebih manusiawi.
Tidak terus-menerus memaksa diri harus kuat setiap waktu. Tidak selalu menuntut
diri harus sempurna di depan semua orang.
Banyak orang
tumbuh dengan kebiasaan mengkritik dirinya sendiri. Saat gagal sedikit,
langsung merasa tidak berguna. Saat melakukan kesalahan, berhari-hari menghukum
diri dengan rasa bersalah. Saat hidup terasa berat, malah menyalahkan diri
karena dianggap kurang hebat menghadapi keadaan.
Padahal hidup
memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ada hari ketika
tubuh lelah, pikiran penuh, hati rapuh, dan semuanya terasa ingin berhenti
sebentar. Dalam momen seperti itu, diri sendiri justru paling membutuhkan teman
yang menenangkan, bukan suara batin yang terus menyudutkan.
Lalu bagaimana
caranya menjadi teman yang baik untuk diri sendiri?
Pertama, belajar berbicara lembut kepada diri
sendiri.
Cara kita berbicara dalam hati ternyata sangat memengaruhi kesehatan mental.
Jangan terus-menerus memaki diri saat gagal. Cobalah berbicara seperti kita
menenangkan sahabat sendiri.
Kedua, berhenti membandingkan hidup dengan
orang lain.
Setiap orang punya waktu, jalan, dan ujian yang berbeda. Tidak semua yang
terlihat bahagia benar-benar tanpa luka.
Ketiga, beri tubuh hak untuk beristirahat.
Tidak apa-apa lelah. Tidak apa-apa berhenti sebentar. Tubuh dan pikiran juga
membutuhkan jeda agar tidak runtuh diam-diam.
Keempat, belajar memaafkan diri atas masa lalu.
Tidak semua keputusan di masa lalu lahir dari versi diri yang sudah dewasa
seperti hari ini. Manusia belajar sambil berjalan.
Kelima, kenali apa yang membuat diri tenang.
Ada orang yang tenang setelah menulis, memasak, berkebun, berjalan sore,
berdoa, atau sekadar minum teh hangat sambil diam. Temukan hal kecil yang
membuat hati terasa hidup kembali.
Keenam, jangan memendam semua emosi sendirian.
Menangis bukan tanda lemah. Bercerita bukan berarti mencari perhatian. Kadang
hati hanya ingin didengar.
Ketujuh, jaga lingkungan yang sehat untuk mental.
Tidak semua orang harus diberi akses masuk ke hidup kita. Ada orang yang hadir
membawa ketenangan, ada pula yang hanya meninggalkan luka.
Kedelapan, syukuri hal-hal kecil dalam hidup.
Mungkin hari ini belum sempurna, tetapi masih bisa bernapas lega, makan dengan
tenang, atau tertawa kecil juga sebuah nikmat besar.
Kesembilan, dekatkan diri kepada Allah.
Ada luka yang tidak bisa dijelaskan kepada manusia. Ada lelah yang hanya bisa
dipahami oleh Tuhan yang menciptakan hati itu sendiri.
Kesepuluh, terima bahwa diri ini tetap berharga
meskipun belum sempurna.
Manusia tidak harus selalu kuat, selalu berhasil, atau selalu dipuji untuk
menjadi berharga.
Kalimat-kalimat
kecil ternyata punya pengaruh besar terhadap kesehatan mental seseorang.
Ada orang yang
begitu sibuk memenuhi harapan orang lain sampai lupa bertanya kepada dirinya
sendiri:
“Apa aku baik-baik saja?”
Pertanyaan
sederhana itu sering terlupakan.
Menjadi sahabat
bagi diri sendiri juga berarti mengenali batas kemampuan. Tidak memaksakan diri
terus-menerus hanya demi terlihat kuat. Sebab manusia bukan mesin. Hati juga
bisa lelah.
Kadang bentuk
paling tulus dari self-love bukan tentang liburan mahal, makanan mewah, atau
hadiah besar untuk diri sendiri. Tetapi tentang mampu menerima bahwa diri ini
tetap berharga meskipun belum sempurna.
Dan hidup terasa jauh lebih ringan ketika seseorang tidak lagi menjadi musuh bagi dirinya sendiri, melainkan menjadi sahabat yang menguatkan setiap kali dunia terasa melelahkan. []
