Oleh: Siti Hajar
Menjadi tempat seseorang
bercerita bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika cerita yang datang penuh
luka, trauma, kekerasan, kehilangan, atau ketakutan yang begitu dalam. Sebagai
calon psikolog, kita belajar mendengarkan dengan empati. Namun di saat yang
sama, kita juga perlu belajar menjaga diri agar tidak ikut tenggelam dalam
emosi klien.
Karena empati yang sehat bukan
berarti ikut hancur bersama rasa sakit orang lain.
Banyak calon psikolog awalnya
merasa bersalah ketika mencoba menjaga jarak emosional. Seolah-olah
profesionalitas berarti harus ikut merasakan semua kesedihan klien secara
penuh. Padahal jika kita terlalu larut, pikiran menjadi kabur, emosi tidak
stabil, dan kemampuan membantu justru melemah.
Psikolog bukan spons yang
menyerap semua luka. Psikolog adalah ruang aman yang tetap tenang agar orang
lain bisa merasa aman di dalamnya.
Maka regulasi emosi menjadi
keterampilan penting yang harus dilatih sejak dini.
Salah satu langkah pertama
adalah menyadari bahwa kita juga manusia. Ada cerita tertentu yang mungkin
memicu ketakutan pribadi, membuat dada sesak, sulit tidur, atau terus teringat
setelah sesi selesai. Reaksi itu wajar. Yang tidak sehat adalah memendam semuanya
sendirian sambil berpura-pura kuat.
Setelah mendengar cerita yang
berat, cobalah kembali “mendarat” pada diri sendiri. Tarik napas perlahan.
Rasakan kaki menyentuh lantai. Minum air putih. Cuci wajah. Lihat sekitar dan
sadari bahwa saat ini kita berada di ruang yang aman. Teknik sederhana seperti
ini membantu otak keluar dari ketegangan emosional.
Penting juga untuk belajar
membedakan antara empati dan mengambil alih penderitaan orang lain. Kita dapat
memahami rasa sakit seseorang tanpa harus membawa pulang semua luka itu ke
dalam diri. Kadang seorang calon psikolog perlu berkata dalam hati:
“Aku memahami rasa sakitmu,
tetapi hidupmu bukan hidupku, dan lukamu bukan tugasku untuk dipikul
sendirian.”
Kalimat sederhana itu membantu
menjaga batas emosional yang sehat.
Selain itu, jangan biasakan
menyimpan semua beban sendiri. Dalam dunia psikologi ada proses supervisi,
diskusi profesional, dan debriefing untuk membantu tenaga kesehatan mental
tetap stabil secara emosional. Bercerita kepada supervisor atau dosen pembimbing
bukan tanda lemah, tetapi bagian dari self-care profesional.
Tubuh juga perlu dilepaskan
dari ketegangan. Setelah sesi yang emosional, lakukan aktivitas yang membuat
tubuh kembali rileks. Berjalan kaki, menulis jurnal, memasak, membuat roti,
mendengarkan murattal, berkebun, atau sekadar duduk tenang sambil menikmati teh
hangat bisa menjadi bentuk pemulihan kecil yang sangat berarti.
Yang tidak kalah penting,
jangan kehilangan diri sendiri saat terlalu sibuk memahami orang lain. Tetap
miliki hidup di luar dunia psikologi. Tetap tertawa, berkarya, mencintai
hal-hal sederhana, dan menjaga hubungan yang sehat dengan keluarga maupun teman.
Karena psikolog yang baik
bukan psikolog yang paling banyak menanggung luka orang lain, melainkan
psikolog yang mampu tetap hadir dengan tenang, jernih, dan sehat saat
mendampingi orang lain melewati lukanya.
Dan mungkin, di situlah bentuk
empati yang paling dewasa.
Sejak kapan ini harus
disadari dan dilatih? Sejak semester awal kuliah?
Iya, sebaiknya sejak semester
awal kuliah. Bahkan sejak seseorang mulai merasa tertarik masuk ke dunia
psikologi.
Banyak mahasiswa psikologi
datang dengan hati yang penuh empati. Mereka suka mendengar cerita orang lain,
ingin membantu, dan ingin menjadi “penolong”. Itu hal yang baik. Namun tanpa
regulasi emosi yang sehat, empati bisa berubah menjadi kelelahan emosional.
Di awal kuliah biasanya
mahasiswa masih fokus pada teori: perkembangan manusia, kepribadian, psikologi
sosial, atau dasar-dasar konseling. Tetapi sebenarnya, pada masa itulah latihan
mengenali diri sendiri harus mulai dibangun. Karena alat utama seorang psikolog
bukan hanya teori atau tes psikologi, melainkan dirinya sendiri.
Mahasiswa psikologi perlu mulai bertanya:
- Emosi apa yang paling
mudah memancing reaksiku?
- Cerita seperti apa yang membuatku sangat
terguncang?
- Apakah aku mudah merasa bertanggung jawab
atas masalah orang lain?
- Apakah aku sulit
membuat batas emosional?
Kesadaran seperti ini penting
sebelum nanti masuk ke tahap praktikum, observasi, konseling, atau menangani
kasus nyata.
Banyak calon psikolog baru
menyadari pentingnya regulasi emosi setelah merasa kelelahan, sulit tidur,
overthinking setelah mendengar cerita klien, atau mulai membawa masalah klien
ke kehidupan pribadinya. Padahal jika dilatih sejak awal, mereka akan lebih
siap secara mental.
Latihan kecilnya bisa dimulai
dari hal sederhana:
- journaling atau
menulis refleksi diri,
- mindfulness,
- belajar mengenali
emosi sendiri,
- tidak memendam stres,
- menjaga keseimbangan
hidup,
- belajar berkata
“cukup”,
- dan memahami bahwa membantu orang lain tidak
berarti menyelamatkan semua orang.
Dalam pendidikan psikologi
yang sehat, mahasiswa tidak hanya belajar memahami manusia lain, tetapi juga
belajar memahami dirinya sendiri. Karena seseorang tidak bisa menjadi
pendamping yang stabil jika ia belum mengenal kondisi emosinya sendiri.
Itulah sebabnya banyak dosen
psikologi sering mengatakan:
“Kenali dirimu sebelum mencoba
memahami orang lain.”
Kalimat itu sederhana, tetapi
sangat dalam untuk perjalanan seorang calon psikolog.
