Asal-Usul Bubur Asyura: Tradisi Muharram yang Masih Bertahan di Aceh dan Berbagai Negara

Oleh: Siti Hajar

Tradisi bubur Asyura merupakan salah satu warisan budaya Islam yang masih hidup kuat di Aceh hingga sekarang. Setiap memasuki 10 Muharam, masyarakat di banyak gampong berkumpul untuk memasak bubur dalam belanga besar, lalu membagikannya kepada seluruh warga tanpa membedakan status sosial. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan memasak, tetapi menjadi simbol syukur, gotong royong, sedekah, dan persaudaraan.

Asal-usul tradisi bubur Asyura

Asal-usul bubur Asyura sebenarnya memiliki dua lapisan: kisah religius yang dipercaya masyarakat dan sejarah perkembangan tradisinya.

Pertama, berasal dari kisah Nabi Nuh AS.

Cerita yang paling banyak dikenal di dunia Islam menyebutkan bahwa setelah banjir besar surut dan bahtera Nabi Nuh berlabuh pada tanggal 10 Muharam, persediaan makanan yang tersisa sangat sedikit. Nabi Nuh kemudian mengumpulkan seluruh sisa bahan makanan—beras, gandum, kacang-kacangan, jagung, ubi, buah-buahan, dan bahan lain—lalu memasaknya menjadi satu hidangan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas keselamatan mereka. Dari kisah inilah kemudian muncul tradisi memasak bubur yang terdiri dari banyak bahan. Perlu dicatat bahwa kisah ini merupakan tradisi yang hidup di masyarakat, bukan riwayat yang memiliki dasar hadis sahih yang kuat.

Kedua, berkembang sebagai tradisi masyarakat Aceh.

Sejak Islam berkembang di Aceh, tradisi tersebut berakulturasi dengan budaya lokal. Bubur Asyura kemudian menjadi media untuk:

  • bersyukur kepada Allah,
  • mempererat silaturahmi,
  • bersedekah kepada masyarakat,
  • dan memperkuat semangat gotong royong.

Karena itu, nilai utama bubur Asyura bukan terletak pada makanannya, melainkan pada proses memasaknya secara bersama-sama.

Mengapa bubur Asyura terdiri dari banyak bahan?

Di Aceh, tidak ada standar baku mengenai jumlah bahan. Setiap daerah memiliki resep sendiri. Ada yang menggunakan sekitar 20 bahan, ada pula yang mencapai 40 hingga 41 bahan.

Biasanya bahan-bahan tersebut meliputi:

  • beras,
  • jagung,
  • ubi,
  • pisang,
  • berbagai jenis kacang,
  • nangka,
  • santan,
  • rempah-rempah,
  • daun pandan,
  • serta bumbu khas Aceh.

Banyaknya bahan melambangkan keberagaman rezeki yang Allah berikan kepada manusia.

Mengapa tradisi ini masih bertahan?

Di tengah perubahan zaman, tradisi bubur Asyura tetap lestari karena memiliki fungsi sosial yang sangat kuat.

Pertama, menjadi media gotong royong. Hampir seluruh warga ikut terlibat. Ada yang menyumbangkan beras, kelapa, kayu bakar, tenaga, hingga uang. Semua merasa memiliki tradisi tersebut.

Kedua, menjadi sarana silaturahmi. Memasak bubur membutuhkan waktu berjam-jam. Selama proses itu masyarakat berkumpul, berbincang, dan mempererat hubungan antartetangga.

Ketiga, menjadi bentuk sedekah. Bubur dibagikan kepada seluruh warga, termasuk fakir miskin, anak-anak, dan para musafir. Semangat berbagi inilah yang membuat tradisi tetap relevan hingga kini.

Keempat, diwariskan lintas generasi. Anak-anak sejak kecil sudah terbiasa membantu orang tua mengaduk bubur atau membagikannya ke rumah-rumah, sehingga tradisi terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Tradisi di Aceh Besar

Di beberapa wilayah seperti Indrapuri, masyarakat biasanya mulai memasak sejak sehari sebelum 10 Muharam. Bubur dimasak dalam belanga besi berukuran besar menggunakan kayu bakar. Setelah matang, bubur dibagikan kepada warga sebagai hidangan berbuka puasa Asyura maupun untuk dinikmati bersama keluarga. Penelitian dari perguruan tinggi di Aceh menunjukkan bahwa masyarakat memandang tradisi ini sebagai sarana memperkuat kebersamaan dan menjaga identitas budaya Islam Aceh.

Nilai-nilai yang terkandung

Tradisi bubur Asyura mengandung banyak nilai luhur, di antaranya:

  • syukur kepada Allah atas nikmat kehidupan,
  • gotong royong (meuseuraya),
  • sedekah dan kepedulian sosial,
  • persatuan masyarakat,
  • pelestarian budaya Islam Aceh,
  • pendidikan karakter bagi generasi muda.

Di tengah modernisasi, bubur Asyura membuktikan bahwa sebuah tradisi dapat tetap bertahan bukan hanya karena diwariskan, tetapi karena masih memiliki makna nyata bagi kehidupan masyarakat. Selama nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur tetap dijaga, besar kemungkinan tradisi ini akan terus hidup di gampong-gampong Aceh pada setiap datangnya bulan Muharam.

selain di aceh dimana lagi tradisi ini tetap lestari

Tradisi memasak bubur Asyura ternyata tidak hanya ditemukan di Aceh. Hampir di seluruh dunia Islam terdapat tradisi serupa, meskipun nama, bahan, dan maknanya sedikit berbeda. Yang menarik, hampir semuanya memiliki benang merah yang sama: memperingati 10 Muharam, bersyukur kepada Allah, dan berbagi makanan kepada sesama.

1. Malaysia (paling mirip dengan Aceh)

Malaysia merupakan daerah yang tradisinya paling dekat dengan Aceh. Di banyak negeri seperti Johor, Melaka, Selangor, Perak, Kelantan, dan Terengganu, masyarakat masih memasak Bubur Asyura secara gotong royong di masjid atau balai kampung.

Bahkan di Terengganu terdapat dua jenis bubur Asyura:

  • Bubur Asyura manis (menggunakan gula merah).
  • Bubur Asyura gurih (menggunakan daging, santan, dan rempah).

Tradisi ini masih sangat hidup hingga sekarang dan menjadi agenda tahunan masyarakat.

2. Brunei Darussalam

Di Brunei, masyarakat juga mengenal Bubur Syura. Tradisi ini diselenggarakan oleh masjid-masjid dan lembaga pemerintahan sebagai bentuk sedekah kepada masyarakat. Kegiatan memasaknya menjadi ajang mempererat hubungan sosial.

3. Kalimantan Selatan (Suku Banjar)

Masyarakat Banjar masih mempertahankan tradisi memasak bubur Asyura pada bulan Muharam. Resepnya sedikit berbeda dari Aceh, tetapi semangat gotong royong dan berbagi kepada masyarakat tetap sama.

4. Jawa

Di beberapa daerah di Jawa, terutama di lingkungan pesantren dan masyarakat tradisional, dikenal Bubur Suro.

Bubur ini dibuat pada tanggal 1 hingga 10 Muharam (Suro dalam penanggalan Jawa). Isinya lebih sederhana dibandingkan bubur Aceh, tetapi tetap menjadi simbol doa keselamatan, rasa syukur, dan sedekah.

Tradisi ini banyak dijumpai di:

  • Jawa Tengah,
  • Yogyakarta,
  • Jawa Timur.

5. Sumatera Barat

Sebagian masyarakat Minangkabau juga mengenal tradisi memasak bubur pada bulan Muharam, meskipun tidak sepopuler di Aceh. Biasanya dilakukan di surau atau masjid sebagai bagian dari kegiatan keagamaan.

6. India dan Pakistan

Di Asia Selatan, dikenal Haleem atau Khichra, hidangan yang sering dimasak pada bulan Muharam. Walaupun berbeda dari bubur Asyura Nusantara, tradisi memasaknya juga melibatkan pembagian makanan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah.

7. Turki

Di Turki terdapat makanan penutup terkenal bernama AÅŸure atau Noah's Pudding.

Inilah salah satu tradisi Asyura yang paling tua dan terkenal di dunia. AÅŸure dibuat dari:

  • gandum,
  • kacang-kacangan,
  • buncis,
  • kacang arab,
  • kismis,
  • aprikot kering,
  • delima,
  • buah ara,
  • kayu manis.

Masyarakat Turki memasaknya dalam jumlah besar lalu membagikannya kepada tetangga, kerabat, dan orang yang membutuhkan. Tradisi ini secara langsung dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh AS setelah banjir besar.


Mengapa tradisi ini tersebar luas?

Sejarawan berpendapat bahwa penyebaran tradisi bubur Asyura mengikuti jalur perdagangan dan dakwah Islam. Pedagang Arab, Persia, India, dan kemudian Kesultanan Turki membawa tradisi berbagi makanan pada bulan Muharam ke berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara. Di setiap daerah, tradisi itu kemudian beradaptasi dengan bahan pangan lokal. Itulah sebabnya bubur Asyura Aceh menggunakan beras, kelapa, ubi, dan rempah-rempah khas Nusantara, sedangkan AÅŸure di Turki lebih banyak menggunakan gandum, buah kering, dan kacang-kacangan.

Aceh memiliki posisi yang istimewa karena sebagai salah satu pintu masuk awal Islam di Nusantara, tradisi ini berkembang menjadi sebuah ritual sosial yang sangat kuat, melibatkan seluruh warga gampong dalam semangat meuseuraya (gotong royong). Di Indonesia, hanya sedikit daerah yang masih mempertahankan tradisi memasak bubur Asyura secara besar-besaran seperti yang dilakukan masyarakat Aceh dan sebagian masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Tradisi tersebut menjadi contoh bagaimana ajaran agama dan budaya lokal dapat berpadu menjadi warisan yang tetap hidup hingga lintas generasi.[]

Lebih baru Lebih lama