Oleh: Siti Hajar
Pandangan Abraham Maslow cukup menarik untuk
memahami fenomena zaman sekarang. Namun ada satu hal yang sering disalahpahami.
Maslow tidak pernah mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengumpulkan
uang atau harta sebanyak mungkin. Yang ia jelaskan adalah bahwa manusia
memiliki kebutuhan yang bertingkat, dan perilaku manusia sering dipengaruhi
oleh kebutuhan yang sedang dominan pada dirinya.
Maslow menggambarkan kebutuhan manusia sebagai
sebuah hierarki.
Pada tingkat paling bawah terdapat kebutuhan
fisiologis: makan, minum, tidur, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis
lainnya. Bagi orang yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan ini, mencari uang
menjadi sangat penting karena uang adalah jalan untuk bertahan hidup.
Di atasnya terdapat kebutuhan akan rasa aman.
Orang ingin memiliki pekerjaan tetap, tabungan, asuransi, rumah yang layak, dan
masa depan yang lebih pasti. Pada tahap ini, mengejar stabilitas ekonomi masih
merupakan sesuatu yang sangat masuk akal.
Setelah itu muncul kebutuhan akan cinta dan rasa
memiliki (belongingness). Manusia ingin diterima keluarga, teman,
komunitas, atau kelompok sosial. Di sinilah mulai muncul fenomena yang menarik.
Kadang-kadang seseorang membeli barang tertentu bukan karena membutuhkannya,
melainkan karena ingin diterima oleh lingkungan sosial tertentu.
Tahap berikutnya adalah kebutuhan akan penghargaan
(esteem needs). Manusia ingin dihargai, diakui, dihormati, dan dianggap
berhasil. Pada tahap inilah harta, jabatan, gelar, dan simbol status sering
menjadi sangat penting.
Masalahnya, masyarakat modern dan media sosial
seolah membekukan manusia pada tahap ini.
Dulu seseorang mungkin cukup dihargai oleh
keluarga atau lingkungan sekitar. Sekarang ia dapat membandingkan dirinya
dengan ribuan bahkan jutaan orang setiap hari melalui media sosial. Setiap kali
membuka layar ponsel, ia melihat orang lain membeli rumah, naik haji, liburan
ke luar negeri, membeli mobil baru, memperoleh penghargaan, atau meraih jabatan
tertentu.
Akibatnya kebutuhan akan penghargaan menjadi tidak
pernah benar-benar terpuaskan.
Dulu seseorang membandingkan dirinya dengan
tetangga satu kampung. Sekarang ia membandingkan dirinya dengan seluruh dunia.
Maslow sebenarnya menempatkan satu tahap yang
lebih tinggi, yaitu aktualisasi diri (self-actualization).
Pada tahap aktualisasi diri, fokus seseorang mulai
bergeser dari "Bagaimana orang melihat saya?" menjadi "Apa yang
bisa saya lakukan dengan potensi yang saya miliki?"
Contohnya, seorang guru yang mengajar dengan
sepenuh hati karena mencintai pendidikan. Seorang penulis yang menulis karena
ingin berbagi gagasan. Seorang ilmuwan yang meneliti karena ingin memahami
kebenaran. Seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan penuh kesadaran karena
menganggap itu sebagai panggilan hidup.
Mereka tetap membutuhkan uang, tetapi uang bukan
lagi sumber utama makna hidup.
Dalam karya-karya Maslow pada masa akhir hidupnya,
ia bahkan berbicara tentang tahap yang lebih tinggi lagi, yaitu self-transcendence
(melampaui diri sendiri). Pada tahap ini seseorang mulai memikirkan sesuatu
yang lebih besar daripada dirinya sendiri: Tuhan, kemanusiaan, ilmu
pengetahuan, masyarakat, atau warisan yang akan ditinggalkannya.
Jika kita melihat fenomena "pamer
pencapaian" saat ini melalui kacamata Maslow, bisa jadi banyak orang
sebenarnya sedang berusaha memenuhi kebutuhan penghargaan (esteem).
Mereka ingin mendapatkan pengakuan, validasi, rasa berharga, dan status sosial.
Harta dan kemewahan menjadi bahasa yang paling mudah dipahami masyarakat untuk
menunjukkan bahwa mereka "berhasil".
Namun ada paradoks yang menarik.
Penghargaan dari luar memiliki sifat yang tidak
pernah selesai. Setelah mendapatkan satu pencapaian, muncul target berikutnya.
Setelah membeli motor ingin mobil. Setelah memiliki mobil ingin mobil yang
lebih mahal. Setelah memiliki rumah ingin rumah yang lebih besar. Setelah
mendapat seribu pengikut ingin sepuluh ribu pengikut.
Karena sumber kepuasannya berasal dari penilaian
orang lain, garis finisnya selalu bergeser.
Sebaliknya, aktualisasi diri dan transendensi
memiliki sumber kepuasan yang lebih internal. Seorang penulis bisa merasa puas
karena berhasil menyelesaikan tulisan yang bermakna. Seorang guru merasa puas
karena muridnya berkembang. Seorang ibu merasa bahagia karena anak-anaknya
tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Dari perspektif Maslow, masyarakat modern sering
kali mengira bahwa puncak kehidupan adalah kekayaan dan status. Padahal dalam
teorinya, kekayaan dan status hanyalah bagian dari tahap penghargaan. Puncaknya
justru terletak pada menjadi diri sendiri secara utuh dan menggunakan hidup
untuk sesuatu yang bermakna di luar kepentingan diri sendiri.
Itulah sebabnya kita sering menemukan orang yang sangat kaya tetapi masih merasa kosong, sementara ada pula orang yang hidup sederhana namun merasa hidupnya penuh arti. Menurut Maslow, perbedaan itu bukan terutama soal jumlah harta, melainkan pada tingkat kebutuhan mana yang sedang menjadi pusat kehidupannya. []
