Mengapa Saudara Kandung Bisa Memiliki Kepribadian yang Sangat Berbeda? Telaah Buku Family Constelation Karya Melanie Sutanto

Oleh: Siti Hajar

Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin dua orang yang lahir dari rahim yang sama, dibesarkan oleh ayah dan ibu yang sama, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, bahkan bersekolah di lingkungan yang hampir sama, justru tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda?

Ada kakak yang pendiam dan penuh pertimbangan, sementara adiknya begitu berani mengambil risiko. Ada anak yang sejak kecil rajin membantu orang tua, sedangkan saudaranya lebih senang mengejar kebebasan. Bahkan tidak sedikit keluarga yang memiliki satu anak sangat religius, sementara saudaranya memiliki cara pandang hidup yang jauh berbeda.

Fenomena ini telah lama menjadi salah satu pertanyaan terbesar dalam psikologi perkembangan. Selama bertahun-tahun para ilmuwan mencoba menjawabnya melalui penelitian tentang genetika, pola asuh, lingkungan, hingga perkembangan otak. Di sisi lain, muncul pula pendekatan yang melihat keluarga bukan hanya sebagai kumpulan individu, melainkan sebagai sebuah sistem yang saling memengaruhi. Salah satunya adalah pendekatan Family Constellation atau Konstelasi Keluarga yang dipopulerkan oleh Bert Hellinger dan diperkenalkan kepada pembaca Indonesia melalui buku Konstelasi Keluarga karya Melanie Sutanto.

Menariknya, kedua pendekatan ini sama-sama berusaha menjawab pertanyaan yang sama, tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Memahami keduanya membantu kita melihat bahwa kepribadian seseorang dibentuk oleh proses yang jauh lebih kompleks daripada sekadar "cara orang tua mendidik."

Apakah Orang Tua Benar-Benar Mengasuh Semua Anak dengan Cara yang Sama?

Sebagian besar orang tua akan menjawab, "Saya memperlakukan semua anak dengan adil."

Kalimat itu hampir selalu diucapkan dengan tulus. Namun, jika direnungkan lebih dalam, benarkah semua anak mengalami masa kecil yang sama?

Bayangkan sebuah keluarga dengan tiga orang anak.

Anak pertama lahir ketika ayah baru merintis usaha. Keuangan keluarga masih pas-pasan. Sang ibu juga masih belajar menjadi orang tua.

Lima tahun kemudian lahirlah anak kedua. Kondisi ekonomi mulai membaik. Orang tua sudah lebih tenang menghadapi tangisan bayi dan lebih percaya diri dalam mengasuh.

Lalu lahir anak ketiga ketika keluarga telah mapan. Namun, pada masa itu sang ayah justru sangat sibuk bekerja sehingga lebih jarang berada di rumah.

Ketiga anak tersebut memiliki ayah dan ibu yang sama. Namun sesungguhnya mereka lahir ke dalam "keluarga" yang berbeda. Bukan berbeda orang tuanya, melainkan berbeda situasi, tantangan, dan suasana emosional yang sedang dialami keluarga.

Inilah salah satu gagasan penting yang diangkat Melanie Sutanto. Sebuah keluarga selalu berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, setiap anak memasuki sistem keluarga pada momen yang berbeda.

Setiap Anak Memiliki Tempat yang Berbeda dalam Sistem Keluarga

Dalam pandangan Konstelasi Keluarga, setiap anggota keluarga memiliki posisi atau tempatnya masing-masing.

Anak sulung mengalami keluarga yang berbeda dibandingkan adiknya. Anak bungsu juga tidak pernah benar-benar mengalami pengalaman yang sama dengan kakaknya.

Bahkan anak kembar sekalipun tidak menjalani kehidupan yang identik. Salah satu mungkin lebih sering sakit, yang lain lebih aktif. Salah satu lebih dekat dengan ibu, sementara yang lain lebih dekat dengan ayah.

Posisi dalam keluarga inilah yang perlahan membentuk pengalaman batin setiap anak.

Bagi pendekatan Konstelasi Keluarga, keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan sebuah sistem hidup yang terus bergerak dan berubah.

Mengapa Ada Anak yang Selalu Mengalah?

Pernahkah Anda mengenal seseorang yang sejak kecil selalu menjadi penengah ketika orang tuanya bertengkar?

Atau seorang anak yang selalu merasa harus menjaga adik-adiknya, padahal orang tua tidak pernah memintanya?

Dalam pendekatan Konstelasi Keluarga, kondisi seperti ini disebut sebagai proses mengambil peran dalam sistem keluarga.

Tanpa disadari, seorang anak bisa berkembang menjadi "penjaga kedamaian", "penolong", "anak yang kuat", "anak yang selalu mengalah", atau bahkan "kambing hitam" keluarga.

Yang menarik, peran-peran tersebut sering kali tidak diberikan secara langsung.

Tidak pernah ada ayah yang berkata, "Mulai hari ini kamu menjadi penengah keluarga."

Namun, karena terus-menerus melihat konflik atau merasakan ketegangan di rumah, anak belajar bahwa agar keluarga tetap berjalan baik, ia harus mengambil peran tertentu.

Lama-kelamaan peran itu menjadi bagian dari kepribadiannya.

Ketika dewasa, ia tetap menjadi orang yang sulit mengatakan tidak, selalu mendahulukan orang lain, atau merasa bersalah ketika tidak membantu siapa pun.

Mengapa Ikatan Emosional Setiap Anak Berbeda?

Banyak orang mengira bahwa karena ibu mengandung semua anak selama sembilan bulan, maka kedekatan emosional mereka pasti sama.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Seorang anak mungkin tumbuh sangat dekat dengan ibunya karena sering menemani sang ibu di rumah.

Saudaranya justru lebih banyak bersama ayah karena memiliki hobi yang sama.

Anak lainnya diasuh oleh nenek karena ibu harus bekerja.

Pengalaman sehari-hari seperti ini membentuk cara setiap anak memandang dunia.

Dalam psikologi, hubungan emosional awal ini dikenal sebagai attachment. Kualitas hubungan dengan pengasuh utama akan memengaruhi rasa aman, kepercayaan terhadap orang lain, dan cara seseorang menjalin hubungan ketika dewasa.

Dengan kata lain, meskipun tinggal di rumah yang sama, pengalaman emosional setiap anak bisa sangat berbeda.

Bagaimana dengan Trauma dari Generasi Sebelumnya?

Inilah bagian yang paling menarik sekaligus paling banyak diperdebatkan dalam Konstelasi Keluarga.

Menurut Melanie Sutanto yang merujuk pada Bert Hellinger, sebuah keluarga dapat membawa luka yang belum selesai dari generasi sebelumnya.

Misalnya, seorang kakek pernah kehilangan anak ketika masih kecil. Peristiwa itu tidak pernah dibicarakan lagi.

Atau seorang nenek mengalami penderitaan berat selama masa perang, tetapi memilih menyimpan semuanya sendiri.

Konstelasi Keluarga berpendapat bahwa pengalaman-pengalaman yang tidak terselesaikan ini dapat memengaruhi dinamika keluarga pada generasi berikutnya. Seorang anak mungkin tanpa sadar membawa beban emosional yang bahkan tidak pernah ia alami secara langsung.

Di sinilah penting untuk bersikap kritis.

Dalam dunia psikologi ilmiah, gagasan bahwa trauma dapat memengaruhi generasi berikutnya memang mendapat perhatian besar. Namun penjelasannya berbeda. Penelitian lebih banyak menunjukkan bahwa pengaruh tersebut terjadi melalui pola pengasuhan, cara orang tua mengelola emosi, kebiasaan keluarga, lingkungan sosial, dan kemungkinan mekanisme biologis tertentu yang masih terus diteliti.

Sementara itu, gagasan Konstelasi Keluarga tentang "loyalitas tak sadar" atau "energi sistem keluarga" belum memiliki dukungan empiris yang kuat. Karena itu, pendekatan ini lebih tepat dipahami sebagai model terapeutik daripada teori ilmiah yang telah terbukti.

Mengapa Psikologi Modern Juga Mengatakan Saudara Kandung Berbeda?

Menariknya, psikologi modern justru sepakat bahwa saudara kandung memang bisa memiliki kepribadian yang sangat berbeda.

Hanya saja alasannya dijelaskan melalui penelitian ilmiah.

Pertama adalah faktor genetika. Saudara kandung memang berasal dari orang tua yang sama, tetapi kombinasi gen yang diwariskan kepada masing-masing anak tidak pernah identik. Itulah sebabnya sejak bayi pun temperamen mereka sudah berbeda. Ada bayi yang mudah ditenangkan, ada yang sangat aktif, ada pula yang sangat peka terhadap suara atau perubahan lingkungan.

Kedua adalah apa yang disebut sebagai non-shared environment atau pengalaman yang tidak dibagi bersama. Meskipun tinggal serumah, setiap anak memiliki guru, teman, pengalaman sekolah, kegagalan, keberhasilan, penyakit, bahkan momen-momen penting yang berbeda. Semua pengalaman itu perlahan membentuk kepribadiannya.

Ketiga, orang tua sendiri sering kali, tanpa sadar, memperlakukan setiap anak secara berbeda. Bukan karena pilih kasih, tetapi karena setiap anak membutuhkan pendekatan yang berbeda. Anak yang keras kepala tentu tidak dihadapi dengan cara yang sama seperti anak yang pemalu.

Yang terakhir, anak bukan hanya menerima pengaruh dari lingkungan. Mereka juga memengaruhi lingkungan. Anak yang ceria membuat orang tua lebih sering bercanda. Anak yang sensitif membuat orang tua lebih berhati-hati. Hubungan ini berlangsung dua arah dan terus berkembang sepanjang masa pertumbuhan.

Jadi, Mana yang Benar?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana memilih salah satu.

Konstelasi Keluarga membantu kita memahami bahwa hubungan antarmanusia sering kali jauh lebih rumit daripada yang tampak di permukaan. Pendekatan ini mengajak kita melihat keluarga sebagai sebuah sistem yang saling memengaruhi dan menyadari bahwa setiap anggota memiliki tempat serta pengalaman batinnya sendiri.

Sementara itu, psikologi modern memberikan penjelasan yang dapat diuji melalui penelitian tentang bagaimana genetika, perkembangan otak, pengalaman hidup, hubungan emosional, dan lingkungan membentuk kepribadian seseorang.

Alih-alih mempertentangkan keduanya, kita dapat memandangnya sebagai dua lensa yang berbeda. Yang satu menawarkan pemahaman terapeutik dan reflektif, sedangkan yang lain menawarkan penjelasan berdasarkan bukti ilmiah.

Mungkin, inilah pelajaran terpenting yang dapat kita ambil. Tidak ada dua manusia yang benar-benar menjalani masa kecil yang sama, bahkan jika mereka tumbuh di rumah yang sama.

Setiap anak membawa temperamen yang unik, mengalami pengalaman yang berbeda, menjalin hubungan emosional yang berbeda, dan memberi makna yang berbeda terhadap setiap peristiwa dalam hidupnya.

Karena itulah, ketika melihat seseorang hari ini, kita sebenarnya sedang melihat hasil dari ribuan pengalaman kecil yang membentuk dirinya selama bertahun-tahun.

Dan mungkin, daripada bertanya, "Mengapa dia berbeda dari saudaranya?", pertanyaan yang lebih bijaksana adalah, "Pengalaman apa yang membuatnya menjadi dirinya yang sekarang?" []

 

Lebih baru Lebih lama