Oleh: Siti Hajar
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah
terlintas dalam benak kita ketika melihat kehidupan orang lain. Mengapa ada
seseorang yang tampaknya mampu kembali tersenyum beberapa bulan setelah
kehilangan orang yang sangat dicintainya, sementara ada pula yang
bertahun-tahun kemudian masih terbangun di tengah malam karena mimpi yang sama?
Mengapa ada penyintas gempa bumi yang dapat membangun kembali kehidupannya
sedikit demi sedikit, sedangkan sebagian lainnya seolah berhenti hidup sejak
hari ketika rumah dan keluarganya hilang? Mengapa ada orang yang mampu bangkit
setelah melakukan kesalahan besar, sementara yang lain terus menghukum dirinya
sendiri bahkan setelah semua orang telah memaafkannya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali kita
jawab dengan sederhana. "Belum move on," kata sebagian orang. Kalimat
tersebut terdengar ringan, bahkan terkadang diucapkan sambil bercanda. Padahal,
bagi orang yang mengalaminya, move on bukanlah perkara sederhana. Ia bukan
sekadar keputusan untuk melupakan, apalagi memaksa diri agar tidak lagi
menangis. Di balik seseorang yang sulit melangkah, sering kali terdapat proses
psikologis yang jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar.
Menariknya, para psikolog sejak lama mencoba
memahami mengapa manusia bereaksi sangat berbeda ketika menghadapi kehilangan,
kegagalan, atau peristiwa traumatis. Tidak ada satu teori pun yang mampu
menjelaskan seluruh pengalaman manusia secara sempurna. Namun, jika berbagai
teori itu disatukan, kita akan menemukan sebuah benang merah yang sama, yaitu
bahwa manusia tidak sedang berusaha menghapus masa lalunya. Ia sedang belajar
hidup dengan kenyataan yang telah berubah.
Di sinilah letak kesalahpahaman yang paling sering
terjadi. Kita tumbuh dengan anggapan bahwa move on berarti melupakan. Padahal,
otak manusia tidak bekerja seperti papan tulis yang dapat dihapus begitu saja.
Pengalaman, terutama yang melibatkan emosi yang sangat kuat, tersimpan dalam
jaringan memori yang kompleks. Semakin besar makna sebuah peristiwa, semakin
kuat pula jejak yang ditinggalkannya. Tidak mengherankan jika seseorang masih
dapat mengingat dengan sangat jelas aroma masakan ibunya yang telah meninggal
bertahun-tahun lalu, suara tawa pasangan yang telah tiada, atau detik-detik
ketika sebuah bencana mengubah seluruh hidupnya. Kenangan-kenangan itu bukan
muncul karena seseorang sengaja memeliharanya, melainkan karena memang
begitulah cara otak manusia bekerja.
Salah satu teori yang banyak membantu kita
memahami hal ini adalah Teori Attachment yang dikembangkan oleh psikolog
Inggris, John Bowlby. Menurut Bowlby, sejak bayi manusia memiliki kebutuhan
mendasar untuk membangun ikatan emosional dengan orang-orang yang memberikan
rasa aman. Ikatan ini bukan sekadar hubungan sosial, melainkan fondasi yang
membentuk cara seseorang memandang dunia. Dari pelukan ibu, perhatian ayah,
kasih sayang kakek dan nenek, hingga hubungan dengan pasangan ketika dewasa,
semuanya menjadi bagian dari jaringan keterikatan yang membuat seseorang merasa
memiliki tempat untuk pulang.
Karena itulah kehilangan tidak pernah sekadar
kehilangan seseorang. Yang ikut hilang adalah rasa aman, rutinitas, harapan,
bahkan sebagian identitas diri. Seorang istri yang kehilangan suaminya,
misalnya, tidak hanya kehilangan teman hidup. Ia juga kehilangan seseorang yang
selama bertahun-tahun menjadi tempat berbagi cerita, meminta pendapat, dan
merancang masa depan. Seorang anak yang ditinggal ibunya bukan hanya kehilangan
sosok yang memasakkan makanan atau membangunkannya setiap pagi. Ia kehilangan figur
yang selama ini menjadi sumber rasa aman ketika dunia terasa menakutkan.
Dalam pandangan Bowlby, reaksi duka yang muncul
setelah kehilangan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, rasa sakit itu justru
merupakan konsekuensi alami dari sebuah ikatan yang pernah terbentuk dengan
sangat kuat. Semakin dalam seseorang mencintai, semakin besar pula ruang kosong
yang ditinggalkan ketika orang yang dicintainya pergi. Oleh karena itu,
menangis, merasa hampa, sulit berkonsentrasi, atau sesekali masih berharap
bahwa orang tersebut akan kembali, merupakan bagian dari proses penyesuaian yang
wajar.
Pada masa lalu, sebagian psikolog beranggapan
bahwa seseorang baru dapat pulih apabila ia benar-benar melepaskan keterikatan
emosional dengan orang yang telah meninggal. Namun, penelitian-penelitian
beberapa dekade terakhir justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Banyak orang
yang dapat menjalani kehidupan secara sehat meskipun mereka tetap memelihara
hubungan batin dengan orang yang telah tiada. Dalam psikologi modern, konsep
ini dikenal sebagai continuing bonds, yaitu keberlanjutan ikatan
emosional.
Konsep tersebut menjelaskan bahwa move on tidak
selalu berarti memutus hubungan, melainkan mengubah bentuk hubungan itu
sendiri. Seorang anak yang setiap hari mendoakan ibunya, seorang ayah yang
tetap mengenang nasihat putrinya, atau seorang istri yang sesekali memasak
makanan kesukaan suaminya sebagai bentuk penghormatan terhadap kenangan yang
indah, bukan berarti mereka gagal berdamai dengan kehilangan. Sebaliknya,
mereka sedang membangun cara baru untuk tetap mencintai tanpa lagi bergantung
pada kehadiran fisik.
Pemahaman ini terasa sangat menenangkan karena
menghapus anggapan bahwa seseorang harus melupakan orang yang dicintainya agar
dianggap telah sembuh. Faktanya, banyak orang yang telah menjalani hidup dengan
penuh makna justru tetap membawa kenangan itu sepanjang hidupnya. Yang berubah
bukanlah kasih sayangnya, melainkan cara kasih sayang itu diekspresikan.
Jika Teori Attachment menjelaskan mengapa
kehilangan terasa begitu menyakitkan, maka psikiater Elisabeth Kübler-Ross
membantu kita memahami bagaimana seseorang menjalani proses berduka. Melalui
pengalamannya mendampingi pasien-pasien dengan penyakit terminal, Kübler-Ross
mengemukakan bahwa duka sering kali melibatkan beberapa respons emosional,
yaitu penolakan, kemarahan, tawar-menawar, kesedihan yang mendalam, dan pada
akhirnya penerimaan. Kelima respons ini kemudian dikenal luas sebagai lima
tahap berduka.
Sayangnya, teori tersebut sering disalahpahami
sebagai sebuah tangga yang harus dinaiki satu per satu hingga seseorang tiba di
puncak penerimaan. Dalam praktiknya, proses berduka jauh lebih dinamis.
Seseorang dapat merasa telah menerima kenyataan, tetapi kemudian kembali
menangis ketika mendengar lagu tertentu atau menemukan pakaian milik orang yang
telah tiada. Ada pula yang sempat marah kepada keadaan, kemudian merasa tenang
selama beberapa minggu, lalu kembali diselimuti kesedihan ketika tanggal ulang
tahun orang yang dicintainya tiba.
Duka ternyata tidak berjalan lurus. Ia lebih
menyerupai ombak di lautan. Pada awal kehilangan, ombak itu datang bertubi-tubi
dan terasa sangat besar hingga seolah menenggelamkan siapa saja yang
mengalaminya. Seiring waktu, ombak tersebut biasanya mulai mereda. Bukan
berarti lautan menjadi benar-benar tenang, melainkan jarak antarombaknya
menjadi lebih panjang sehingga seseorang memiliki kesempatan untuk bernapas,
bekerja, bercanda, dan menikmati hidup sebelum ombak berikutnya kembali datang.
Gambaran ini membantu kita memahami bahwa
seseorang yang sesekali masih menangis setelah bertahun-tahun kehilangan bukan
berarti mengalami kemunduran. Ia hanya sedang mengalami salah satu gelombang
duka yang sewaktu-waktu memang dapat muncul kembali. Semakin kita memahami
bahwa proses tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia yang normal,
semakin kecil pula kecenderungan kita untuk menghakimi diri sendiri ataupun
orang lain.
Pada akhirnya, hampir semua teori psikologi modern
mengajak kita melihat move on dengan cara yang berbeda. Move on bukanlah
perlombaan untuk menjadi orang yang paling cepat melupakan, bukan pula tanda
bahwa seseorang telah berhenti mencintai. Move on adalah proses perlahan ketika
seseorang mulai mampu menerima bahwa hidupnya memang telah berubah, lalu
sedikit demi sedikit belajar membangun kehidupan baru tanpa harus mengingkari
masa lalu yang pernah begitu berarti.
Mungkin di sinilah letak keindahan sekaligus ironi
menjadi manusia. Kita memang diciptakan dengan kemampuan untuk mengingat,
sehingga luka dapat bertahan jauh lebih lama daripada yang kita inginkan. Namun
pada saat yang sama, kita juga dianugerahi kemampuan untuk beradaptasi,
menemukan makna baru, dan kembali menumbuhkan harapan. Luka mungkin tidak
pernah benar-benar hilang, tetapi ia dapat berubah menjadi bagian dari
perjalanan hidup yang membuat seseorang lebih bijaksana, lebih berempati, dan
lebih menghargai setiap momen bersama orang-orang yang masih ada di sisinya.
Pada bagian kedua nanti, kita akan melangkah lebih jauh untuk memahami mengapa sebagian orang tetap sulit berdamai dengan masa lalunya. Kita akan melihat bagaimana pola pikir dapat memperpanjang penderitaan melalui Cognitive Behavioral Therapy, bagaimana Acceptance and Commitment Therapy mengajarkan keberanian menerima emosi tanpa dikuasai olehnya, dan bagaimana pendekatan Konstelasi Keluarga mengajak kita memandang luka sebagai bagian dari sebuah sistem keluarga yang jauh lebih luas daripada diri kita sendiri. []
