Menilik Siapa yang Berpeluang Memenangkan Kejuaraan Piala Dunia 2026

 


Oleh: Siti Hajar

Berdasarkan perkembangan turnamen hingga hari ini, Spanyol memang menjadi favorit kuat untuk menjuarai Piala Dunia 2026, tetapi belum bisa dipastikan sebagai juara karena mereka masih harus menghadapi pemenang semifinal lainnya (Inggris atau Argentina). Para analis, bandar taruhan, dan model statistik banyak menempatkan Spanyol sebagai kandidat nomor satu berkat performa mereka yang sangat konsisten.

Mengapa Spanyol difavoritkan?

Beberapa alasan utamanya adalah:

  • Pertahanan luar biasa. Spanyol baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen dan mencatat enam clean sheet dalam tujuh pertandingan.
  • Penguasaan bola yang dominan. Tim asuhan Luis de la Fuente mampu mengontrol tempo pertandingan sehingga lawan kesulitan mengembangkan permainan.
  • Generasi emas baru. Lamine Yamal, Pedri, Rodri, Dani Olmo, hingga Mikel Oyarzabal tampil sangat matang, memadukan kreativitas dengan disiplin taktik.
  • Momentum positif. Spanyol kini tercatat tidak terkalahkan dalam puluhan pertandingan sejak 2024, membuat kepercayaan diri mereka sangat tinggi.

Cerita pertandingan: Spanyol 2–0 Prancis

Semifinal di Dallas diprediksi akan berlangsung sangat ketat. Banyak yang menyebut laga ini sebagai "final sebelum final" karena mempertemukan dua tim terbaik turnamen.

Namun sejak peluit awal dibunyikan, Spanyol tampil lebih tenang dan menguasai permainan. Mereka tidak terburu-buru menyerang, melainkan terus memutar bola sambil memaksa Prancis mengejar.

Pada menit ke-22, Lamine Yamal melakukan penetrasi berbahaya hingga dijatuhkan di kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih, dan Mikel Oyarzabal menjalankan tugasnya dengan sempurna. Skor berubah menjadi 1–0 untuk Spanyol.

Tertinggal satu gol, Prancis mencoba bangkit melalui Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, dan Michael Olise. Namun pertahanan Spanyol tampil sangat disiplin. Rodri dan rekan-rekannya memutus hampir semua jalur serangan sehingga para penyerang Prancis kesulitan menciptakan peluang bersih.

Memasuki babak kedua, Spanyol kembali menunjukkan efektivitasnya. Pada menit ke-58, sebuah kombinasi cepat antara Dani Olmo dan Pedro Porro membelah pertahanan Prancis. Porro menyelesaikan peluang tersebut dengan penyelesaian yang tenang sehingga skor menjadi 2–0.

Setelah unggul dua gol, Spanyol tidak bermain bertahan total. Mereka tetap mempertahankan penguasaan bola, memperlambat ritme pertandingan, dan memaksa Prancis menghabiskan energi untuk mengejar bola. Mbappé dan kolega akhirnya gagal mencetak gol hingga peluit panjang berbunyi.

Kemenangan 2–0 ini membawa Spanyol ke final Piala Dunia pertama mereka sejak 2010, sekaligus mengakhiri harapan Prancis untuk tampil di final ketiga secara beruntun.

Apakah Spanyol akan menjadi juara?

Jika melihat performa saat ini, peluang Spanyol memang sangat besar karena mereka memiliki:

  • pertahanan paling kokoh di turnamen,
  • lini tengah terbaik dalam menguasai permainan,
  • pemain muda yang sedang berada di puncak performa,
  • dan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Prancis.

Meski demikian, final tetap hanya berlangsung satu pertandingan. Jika lawannya adalah Argentina, pengalaman Lionel Messi dan mental juara mereka bisa menjadi tantangan terbesar. Jika lawannya Inggris, duel penguasaan bola dan efektivitas serangan akan menjadi penentu. Saat ini, saya menilai peluang Spanyol menjadi juara berada di kisaran 60–65%, sedangkan peluang lawan mereka sekitar 35–40%. Ini tetap merupakan prediksi, bukan kepastian.

Bagi kami Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi, tetapi tentang bagaimana trofi itu diraih. Menang memang membanggakan, tetapi kemenangan yang lahir dari permainan yang jujur, saling menghormati, dan sportif akan selalu dikenang lebih lama daripada sekadar angka di papan skor.

Sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dari berbagai negara, bahasa, dan budaya. Karena itu, saya berharap setiap pertandingan menghadirkan persaingan yang keras di dalam lapangan, tetapi tetap penuh rasa hormat kepada lawan, wasit, dan para pendukung. FIFA sendiri juga terus menekankan pentingnya perilaku yang menghormati pertandingan dan para ofisial sebagai bagian dari nilai fair play menjelang Piala Dunia 2026.

"Siapa pun yang menjadi juara, semoga kemenangan itu lahir dari kerja keras, permainan yang indah, dan sportivitas yang membuat seluruh dunia ikut bertepuk tangan."

Juara hanya ada satu. Tetapi ketika semua tim bermain dengan hormat, jujur, dan penuh semangat, maka sepak bola sendirilah yang menjadi pemenang. Dan ini akan dikenang sepanjang masa. []

 

Lebih baru Lebih lama