Tidak ada manusia yang selalu benar. Sebaik apa pun kita berusaha, akan selalu ada bagian yang mungkin luput, kurang tepat, atau masih bisa diperbaiki. Karena itu, kritik sebenarnya bukan sesuatu yang perlu selalu ditakuti. Kita membutuhkannya, sebab sesuatu yang sudah baik pun masih bisa menjadi lebih baik ketika ada orang yang bersedia memberikan masukan.
Namun, menerima kritik ternyata tidak selalu mudah. Ada kalanya satu kalimat sederhana membuat hati tidak nyaman sepanjang hari. Kita mulai memikirkan nada bicara orang tersebut, maksud di balik perkataannya, bahkan bertanya-tanya apakah sebenarnya ia tidak menyukai kita. Padahal, bisa jadi ada sesuatu yang berharga di balik kritik tersebut. Mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menjadi orang yang kebal terhadap kritik, tetapi bagaimana menata hati ketika kritik menghampiri.
Pertama, jangan langsung bereaksi. Ketika kritik datang, beri diri kita waktu untuk mendengarkan sampai selesai. Tidak perlu langsung menjelaskan, buru-buru membela diri, apalagi membalas dengan mengungkit kesalahan orang yang mengkritik kita. Jeda beberapa detik bisa sangat berarti karena kita memberikan kesempatan kepada pikiran untuk bekerja sebelum emosi mengambil alih. Terkadang, respons terbaik bukanlah jawaban yang cepat, melainkan hati yang lebih tenang sebelum memutuskan apa yang perlu dikatakan.
Kedua, pisahkan kritik dari harga diri. Ini mungkin salah satu bagian yang paling sulit dilakukan. Ketika seseorang mengatakan bahwa pekerjaan kita masih perlu diperbaiki, jangan sampai hati menerjemahkannya menjadi bahwa kita tidak mampu. Keduanya adalah hal yang berbeda. Kita bisa melakukan sesuatu dengan kurang tepat tanpa berarti kita adalah orang yang buruk, dan kita bisa melakukan kesalahan tanpa kehilangan nilai diri. Kritik terhadap pekerjaan bukanlah vonis terhadap siapa diri kita.
Ketiga, dengarkan isinya, bukan hanya rasanya. Kadang cara seseorang menyampaikan kritik memang membuat kita tidak nyaman. Nada suaranya mungkin terdengar keras atau pilihan katanya terasa kurang menyenangkan. Namun, sebelum menolak seluruh kritik, cobalah mencari isi yang sebenarnya ingin disampaikan. Tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah ada bagian dari perkataannya yang benar?” Jika ada, ambillah bagian itu sebagai bahan untuk memperbaiki diri. Kita tidak harus menyukai cara seseorang menyampaikan kritik untuk bisa belajar dari isinya.
Keempat, jangan buru-buru menganggap kritik sebagai bentuk ketidaksukaan. Kritik tidak selalu berarti seseorang tidak menyukai kita. Bisa jadi ia melihat sesuatu yang tidak kita lihat, ingin pekerjaan menjadi lebih baik, atau memiliki sudut pandang yang berbeda. Karena itu, jangan terlalu cepat menambahkan cerita ke dalam sebuah kritik. Satu kalimat bisa tetap menjadi satu kalimat, tanpa harus kita kembangkan menjadi cerita panjang tentang bagaimana orang lain menilai diri kita.
Kelima, tanyakan apa yang bisa dipelajari. Alih-alih terus bertanya, “Mengapa dia mengkritikku?” cobalah mengubah pertanyaan menjadi, “Apa yang bisa kupelajari dari kritik ini?” Pertanyaan sederhana tersebut membuat hati kembali berada dalam posisi sebagai seorang pembelajar. Kita tidak lagi sibuk mencari siapa yang salah, tetapi mulai mencari bagian mana yang bisa diperbaiki. Terkadang, pelajaran terbaik memang datang dari sesuatu yang pada awalnya membuat kita tidak nyaman.
Keenam, beri waktu kepada hati. Tidak semua kritik harus langsung kita terima saat itu juga. Ada kritik yang baru bisa kita pahami setelah hati lebih tenang. Ada pula perkataan yang awalnya membuat kita tersinggung, tetapi setelah dipikirkan kembali ternyata ada benarnya. Tidak apa-apa jika kita membutuhkan waktu untuk mencerna sebuah masukan. Menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah tersinggung, melainkan mampu membawa rasa tersinggung itu untuk direnungkan dan tidak membiarkannya mengendalikan tindakan.
Ketujuh, belajar mengucapkan, “Terima kasih sudah mengingatkan.” Kalimat ini bukan berarti kita harus menyetujui semua kritik yang diberikan. Kita hanya sedang menghargai seseorang yang telah memberikan masukan kepada kita. Setelah itu, kita tetap memiliki hak untuk menimbangnya dengan pikiran yang jernih. Jika benar, perbaiki. Jika hanya sebagian yang benar, ambil bagian yang bermanfaat. Jika tidak sesuai, kita boleh meninggalkannya. Menerima kritik bukan berarti menerima semuanya tanpa berpikir.
Kedelapan, jangan membalas kritik dengan membuka kesalahan orang lain. Ketika dikritik, sering kali muncul dorongan untuk menunjukkan bahwa orang yang mengkritik kita juga memiliki kekurangan. Kita mungkin berpikir, “Memangnya dia tidak pernah salah?” Mungkin saja benar, tetapi kesalahan orang lain tidak otomatis membuat kesalahan kita menjadi benar. Jika ada sesuatu dalam diri kita yang memang perlu diperbaiki, perbaikilah tanpa harus mengurangi nilai kritik hanya karena orang yang menyampaikannya juga bukan manusia sempurna.
Kesembilan, ingat bahwa sesuatu yang sudah baik masih bisa menjadi lebih baik. Kita tidak perlu menunggu menjadi buruk untuk menerima masukan. Seorang penulis masih membutuhkan editor, seorang pemimpin masih membutuhkan orang yang berani mengingatkan, dan seseorang yang sudah berpengalaman pun masih bisa belajar dari orang lain. Manusia tidak pernah benar-benar selesai belajar. Kritik yang disampaikan dengan niat baik bisa menjadi cermin yang membantu kita melihat bagian yang selama ini tidak terlihat.
Kesepuluh, tetap rendah hati tanpa merendahkan diri. Rendah hati berarti bersedia mengakui bahwa kita masih memiliki kekurangan, sedangkan merendahkan diri berarti menganggap diri kita tidak berharga hanya karena memiliki kekurangan. Kita boleh berkata, “Ya, bagian ini memang perlu saya perbaiki,” tanpa harus menyimpulkan bahwa kita adalah orang yang tidak mampu. Kita boleh mengakui kesalahan tanpa kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Sebab menjadi manusia yang baik bukan berarti menjadi manusia yang tidak pernah salah, melainkan terus bersedia belajar ketika menyadari ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Mungkin itulah cara yang lebih sehat dalam memandang kritik. Kita tidak perlu menjadi kebal terhadapnya, karena kita tetap manusia yang memiliki perasaan. Ketika kritik datang, kita boleh merasa tidak nyaman, bahkan mungkin tersinggung. Namun, setelah emosi itu muncul, kita bisa belajar mengambil jeda, menenangkan hati, lalu melihat kembali apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
Kritik yang baik bukan untuk membuat kita merasa kecil. Ia bisa menjadi cermin yang membantu kita melihat sesuatu yang belum mampu kita lihat sendiri. Tentu saja, tidak semua kritik harus diterima begitu saja, karena kita tetap perlu menggunakan akal sehat untuk memilah mana yang benar-benar membangun dan mana yang tidak perlu kita bawa terlalu jauh ke dalam hati.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu bertanya apakah kita sudah menjadi orang yang sempurna dalam menerima kritik. Cukup tanyakan apakah hari ini kita masih bersedia belajar. Sebab sesuatu yang sudah baik tidak harus merasa sempurna. Ia masih boleh diperbaiki, masih boleh belajar, dan masih boleh bertumbuh.
Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan yang paling indah adalah ketika kita mampu berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak harus menyukai kritik ini, tetapi aku bersedia melihat apakah ada sesuatu yang bisa membuatku menjadi lebih baik.” []
Baca artikel menarik lainnya
