Bagaimana Masa Kecil Membentuk Kepribadian Kita?


Oleh: Siti Hajar

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu menarik ketika seorang tokoh hadir dalam podcast. Bukan hanya tentang pekerjaan, pencapaian, atau kehidupan yang sedang dijalani, tetapi tentang masa kecilnya.

“Bagaimana kehidupanmu ketika kecil?”

“Pelajaran apa yang paling berharga dari orang tua?”

“Adakah guru yang paling berpengaruh dalam hidupmu?”

“Seperti apa teman-teman bermainmu dulu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, sering kali jawabannya membawa kita pada cerita yang lebih dalam. Ada pengalaman yang membuat seseorang berani bermimpi. Ada pula pengalaman yang membuatnya belajar berhati-hati, sulit percaya kepada orang lain, atau terus berusaha membuktikan bahwa dirinya berharga.

Masa kecil memang telah berlalu. Akan tetapi, pengalaman pada masa itu dapat menjadi salah satu bagian yang membentuk cara seseorang melihat dirinya dan menjalani kehidupan ketika dewasa.

Rumah: Tempat pertama mengenal diri sendiri

Sebelum mengenal dunia yang lebih luas, seorang anak belajar memahami dirinya melalui keluarga. Dari rumah, ia mulai mengenal kasih sayang, penerimaan, aturan, tanggung jawab, dan cara berhubungan dengan orang lain.

Anak yang sering didengarkan mungkin belajar bahwa perasaannya penting. Anak yang diberi kesempatan untuk mencoba mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa kesalahan tidak selalu berarti kegagalan.

Sebaliknya, anak yang terbiasa menerima kritik berlebihan mungkin belajar bahwa dirinya harus selalu sempurna agar diterima. Ada pula anak yang merasa harus memenuhi harapan orang tua sebelum berani mengenali keinginannya sendiri.

Namun, pengalaman keluarga tidak selalu sederhana. Orang tua bisa sangat mencintai anaknya, tetapi memiliki keterbatasan dalam mengekspresikan kasih sayang. Ada keluarga yang penuh kehangatan, tetapi menghadapi tekanan ekonomi. Ada pula anak yang tumbuh dengan pengalaman kehilangan, konflik, atau pengasuhan yang tidak konsisten.

Semua pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari cerita perkembangan seorang anak. Tidak berarti masa kecil secara otomatis menentukan masa depan seseorang. Manusia tetap memiliki kesempatan untuk belajar, memperoleh dukungan baru, dan membangun pemahaman diri yang lebih sehat.

Sekolah: Tempat mengenal kemampuan dan keberhargaan diri

Ketika memasuki sekolah, dunia seorang anak menjadi lebih luas. Ia mulai mengenal aturan yang berbeda, bertemu banyak orang, dan menemukan bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang tidak sama.

Di sekolah, seorang anak mungkin pertama kali merasa bangga karena berhasil menyelesaikan tugas. Ia mungkin menemukan bahwa dirinya pandai menggambar, menyukai matematika, senang bercerita, atau memiliki kemampuan memimpin teman-temannya.

Namun, sekolah juga dapat menjadi tempat munculnya perbandingan.

Seorang anak yang sering mendapat nilai tinggi mungkin mulai menghubungkan keberhargaan dirinya dengan prestasi. Anak yang mengalami kesulitan belajar mungkin merasa tertinggal. Anak yang sering dibandingkan dengan saudara atau teman sekelas dapat belajar bahwa dirinya harus bekerja lebih keras agar dianggap cukup baik.

Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang melihat kemampuan dirinya ketika dewasa. Ia mungkin menjadi pribadi yang percaya diri, atau justru merasa takut mencoba karena khawatir melakukan kesalahan.

Meski demikian, hubungan antara pengalaman sekolah dan perkembangan diri tidak selalu langsung. Dukungan keluarga, karakter pribadi, lingkungan, dan pengalaman lain sepanjang hidup juga memiliki peran.

Guru: Seseorang yang mungkin tidak pernah melupakan kita

Ada guru yang mungkin sudah lupa kepada muridnya. Namun, murid tersebut masih mengingat satu kalimat yang pernah disampaikan bertahun-tahun lalu.

“Coba lagi. Kamu pasti bisa.”

“Tidak apa-apa kalau belum berhasil.”

“Atau mungkin, kamu memiliki cara berpikir yang berbeda. Itu bukan sesuatu yang buruk.”

Bagi seorang anak, kalimat sederhana dari guru dapat memiliki makna yang besar. Guru bukan hanya seseorang yang menyampaikan pelajaran, tetapi juga dapat menjadi orang dewasa di luar keluarga yang memberikan pengakuan, rasa aman, dan kesempatan untuk berkembang.

Seorang anak yang merasa tidak menonjol di rumah mungkin menemukan kepercayaan diri ketika gurunya menghargai hasil karyanya. Anak yang sering merasa gagal mungkin mulai berani mencoba karena ada guru yang tidak mempermalukannya ketika melakukan kesalahan.

Sebaliknya, pengalaman dipermalukan, diabaikan, atau terus-menerus dibandingkan di sekolah juga dapat meninggalkan kesan yang kuat.

Namun, tidak semua pengalaman dengan guru akan membentuk kepribadian secara menetap. Pengalaman tersebut merupakan salah satu bagian dari perjalanan perkembangan, bukan satu-satunya penentu masa depan seseorang.

Teman bermain: Belajar menjadi diri sendiri bersama orang lain

Masa kecil juga dibentuk oleh pengalaman bersama teman-teman bermain.

Di antara permainan sederhana, seorang anak belajar banyak hal. Ia belajar berbagi, menunggu giliran, bernegosiasi, meminta maaf, mempertahankan pendapat, dan memahami perasaan orang lain.

Bermain bersama juga menjadi kesempatan untuk mengenali dirinya. Ada anak yang senang memimpin permainan. Ada yang lebih suka mengamati. Ada yang mudah mengajak orang lain berteman. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman.

Pengalaman bersama teman dapat membentuk cara seseorang memahami hubungan sosial. Ketika diterima, anak mungkin belajar bahwa dirinya layak memiliki hubungan yang baik. Ketika sering ditolak atau menjadi sasaran perundungan, ia mungkin membawa rasa takut atau tidak percaya diri ke dalam hubungan berikutnya.

Akan tetapi, pengalaman sosial masa kecil tidak harus menentukan seluruh hubungan seseorang ketika dewasa. Hubungan yang sehat, dukungan sosial, dan proses memahami diri dapat membantu seseorang membangun pola relasi yang baru.

Ketika pengalaman lama muncul dalam kehidupan dewasa

Seorang perempuan dewasa muda mungkin datang ke psikolog dengan keluhan bahwa dirinya selalu takut mengecewakan orang lain.

Ia sulit menolak permintaan. Ia merasa bersalah ketika mengambil keputusan sendiri. Dalam pekerjaan, ia terus mencari pengakuan. Dalam hubungan romantis, ia khawatir jika pasangannya kecewa, maka ia akan ditinggalkan.

Pada saat asesmen, psikolog mungkin menemukan bahwa sejak kecil perempuan tersebut terbiasa mendapat pujian ketika memenuhi harapan orang lain. Kesalahan sering dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Ia jarang mendapat kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.

Pengalaman itu dapat menjadi salah satu hal yang membantu menjelaskan mengapa ia sekarang sulit mempercayai keputusannya sendiri.

Namun, psikolog tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa seluruh masalahnya disebabkan oleh orang tua. Bisa saja ada pengalaman lain yang berperan, seperti hubungan pertemanan, pengalaman kerja, kondisi sosial, atau kerentanan pribadi.

Tugas psikolog adalah memahami cerita klien secara menyeluruh. Bukan mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan membantu klien mengenali pola yang mungkin memengaruhi kehidupannya.

Apakah kita sedang menjalani hidup sendiri atau mengulang pelajaran lama?

Ada kalanya seseorang merasa sudah dewasa, tetapi masih membawa keyakinan yang terbentuk sejak kecil.

“Saya harus selalu menyenangkan orang lain.”

“Saya tidak boleh gagal.”

“Saya harus kuat dan tidak boleh meminta bantuan.”

“Saya tidak cukup baik jika tidak berprestasi.”

Keyakinan seperti ini dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, membangun hubungan, dan menilai dirinya sendiri. Dalam psikologi, pola berpikir tersebut dapat dipelajari lebih lanjut melalui konsep seperti skema kognitif, harga diri, dan pengalaman keterikatan.

Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua keyakinan yang terbentuk pada masa kecil bersifat buruk. Banyak nilai positif yang juga tumbuh dari pengalaman keluarga, sekolah, dan pertemanan.

Seorang anak yang diajarkan bertanggung jawab mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang dapat dipercaya. Anak yang dibiasakan menghargai orang lain mungkin membawa nilai tersebut ke dalam keluarga dan pekerjaannya.

Masa kecil bukan hanya tentang luka. Ia juga tentang kekuatan, nilai, kenangan baik, dan pelajaran yang terus hidup dalam diri seseorang.

Mengingat masa kecil bukan berarti menyalahkan masa lalu

Ketika seseorang mulai mempelajari dirinya, masa kecil sering menjadi bagian yang ingin dipahami kembali.

Ia mungkin bertanya mengapa dirinya mudah takut. Mengapa ia sulit menerima pujian. Mengapa ia selalu merasa harus bekerja keras agar dihargai. Atau mengapa ia begitu takut kehilangan orang yang dicintai.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi pintu untuk mengenali pengalaman dan pola yang selama ini tidak disadari.

Namun, memahami masa kecil tidak sama dengan menyalahkan orang tua, guru, atau teman bermain. Setiap orang dewasa juga memiliki keterbatasan, pengalaman, dan persoalan hidupnya sendiri.

Memahami masa lalu adalah upaya untuk melihat perjalanan diri dengan lebih utuh. Kita dapat mengakui bahwa ada pengalaman yang menyakitkan, sekaligus menyadari bahwa kehidupan kita tidak berhenti pada pengalaman tersebut.

Jika pengalaman masa lalu terus menimbulkan tekanan, mengganggu hubungan, atau memengaruhi kehidupan sehari-hari, bantuan psikologis dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasinya secara aman.

Pertanyaan sederhana yang mungkin membawa kita pada cerita panjang

Mungkin itu sebabnya banyak podcast menghadirkan pertanyaan tentang masa kecil.

Ketika seorang tokoh bercerita tentang rumahnya, kita mulai mengenal nilai-nilai yang membentuk dirinya. Ketika ia mengingat guru yang pernah mendukungnya, kita melihat bagaimana pengakuan dapat menumbuhkan keberanian. Ketika ia bercerita tentang teman bermain, kita memahami pengalaman sosial yang pernah dilaluinya.

Dari sana, kita menyadari bahwa pencapaian seseorang hari ini tidak berdiri sendiri. Ada pengalaman, hubungan, kesempatan, dan pelajaran yang mungkin telah membentuk cara ia melihat dunia.

Pada akhirnya, masa kecil bukanlah satu-satunya jawaban tentang siapa kita. Namun, ia dapat menjadi salah satu bagian penting untuk memahami perjalanan tersebut.

Mungkin, sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana kehidupan saya ketika kecil?

Apa pelajaran paling berharga yang saya dapatkan dari rumah?

Guru mana yang pernah membuat saya merasa mampu?

Apa yang saya pelajari dari teman-teman bermain?

Nilai apa yang masih saya bawa sampai hari ini?

Dan yang tidak kalah penting, adakah keyakinan lama yang sekarang ingin saya pahami kembali?

Sebab, mengenal diri sendiri bukan hanya tentang melihat siapa kita hari ini. Terkadang, kita juga perlu menengok perjalanan panjang yang telah membawa kita sampai di sini.[]

Baca juga artikel berikut:

Quarter Life Crisis: Panduan Menghadapi Krisis Dewasa Awal pada Era Digital dalam Pandangan Islam

Lebih baru Lebih lama