Oleh: Siti Hajar
Di sebuah lembah tandus yang kelak bernama Makkah, seorang perempuan tegar berdiri menatap kepergian suaminya. Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, menggenggam erat bayinya yang masih merah, Ismail. Ia bertanya dengan hati yang bergetar, “Wahai Ibrahim, mengapa engkau meninggalkan kami di tempat seperti ini?” Tidak ada jawaban, hingga ia menambahkan, “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim menoleh sambil mengangguk. Dan dengan ketenangan iman yang menakjubkan, Hajar berbisik, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”Betapa perihnya hati seorang ibu saat itu. Hajar yang masih menyusui Ismail, berdiri di tengah padang tandus tanpa tetangga, tanpa pohon, tanpa setetes air dan sebutir makanan. Angin gurun yang panas menerpa wajahnya, sementara sosok Ibrahim semakin menjauh di cakrawala. Namun ia menerima semua itu dengan ketundukan penuh. Sami’na wa atha’na—kami dengar, kami taati. Tidak ada pemberontakan hati, hanya keyakinan bahwa perintah Allah pasti membawa kebaikan, meski logika manusia belum mampu melihat ujungnya.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian berat. Bekal air dan kurma habis. Ismail menangis kehausan. Hajar, dengan hati seorang ibu, berlari antara bukit Shafa dan Marwah. Tujuh kali ia ulangi langkah itu—antara harapan dan cemas—mencari secercah kehidupan di padang gersang. Tak ada manusia lain, tak ada pohon, tak ada buah-buahan. Hingga di saat paling letih, Allah menunjukkan keajaiban-Nya. Dari bawah tumit kecil Ismail, memancar mata air. Hajar berseru “Zamzam! Zamzam!” (berkumpullah, berkumpullah), dan air itu tetap memancar di tempatnya hingga hari ini. Itulah awal mula sumur Zamzam—air yang menghidupkan lembah, air yang kelak menghidupkan peradaban.
Berita tentang
mata air itu sampai ke kafilah-kafilah dagang dari Yaman dan Syam. Mereka
singgah, mengambil air, lalu sebagian menetap. Dari sinilah suku Jurhum tinggal
di sekitar Zamzam, dan Hajar tidak lagi hidup sendiri bersama Ismail. Kehidupan
mulai berdenyut di Makkah, kota yang awalnya hanyalah gurun sunyi.
Sementara itu,
jauh di Palestina, Nabi Ibrahim hidup bersama istri pertamanya, Sarah. Mereka
sudah lama mendambakan seorang anak, namun usia mereka semakin renta. Hingga
pada suatu hari, malaikat datang membawa kabar gembira: Sarah akan mengandung,
dan dari rahimnya lahir Ishak. Ia tak percaya pada awalnya, namun janji Allah
pasti. Ishak kelak menjadi nabi, ayah dari Ya’qub, dan dari keturunannya lahir
para nabi Bani Israil.
Waktu terus
berjalan. Ibrahim beberapa kali mengunjungi Ismail dan Hajar di Makkah. Dalam
salah satu pertemuan itu, Allah memerintahkan keduanya membangun sebuah rumah
ibadah sebagai simbol tauhid di tengah lembah tandus itu. Dengan penuh
ketaatan, Ibrahim dan Ismail mengangkat batu demi batu, membangun fondasi yang
kelak dikenal sebagai Ka’bah. Saat pembangunan mencapai ketinggian, Ibrahim
berdiri di atas sebuah batu—yang kini dikenal sebagai Maqam Ibrahim—seraya
berdoa:
"Ya
Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan ini). Sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Doa itu terus
terucap hingga Ka’bah berdiri. Dari tempat inilah perintah haji kelak
disyariatkan, dan jutaan manusia hingga kini menapak jejak Hajar di Shafa dan
Marwah, serta meminum air Zamzam yang sama yang dahulu memancar di bawah kaki
Ismail.
Dari Ibrahim
lahir dua jalur keturunan kenabian: Ismail di Makkah, leluhur Nabi Muhammad
SAW; dan Ishak di Palestina, leluhur para nabi Bani Israil. Semua berawal dari
seorang perempuan tegar dan seorang bayi yang ditinggalkan di padang tandus,
namun dilindungi langsung oleh Allah. Kisah ini bukan hanya sejarah, tapi juga
pelajaran tentang tawakal, cinta, dan kepasrahan total pada takdir Allah yang
selalu indah pada akhirnya.
Kisah ini
diceritakan kembali oleh Bunda Hayani Yahya, Founder Bintang Pejuang Sirah Aceh
di Pustaka Limpok Kecamatan Darussalam Aceh Besar yang di Kelola oleh Bunda Mutia dan tim. Masyaallah,
beruntungnya bisa hadir di majelis ilmu ini.