Oleh: Siti Hajar
Indonesia hanya memiliki dua
musim—kemarau dan penghujan—namun setiap kali musim hujan datang, seolah kita
selalu dibuat terkejut oleh banjir yang menghampiri. Sudah sekian puluh tahun
kita hidup dalam ritme alam yang sama, tetapi rasanya kebijakan kita masih
tertinggal jauh di belakang peringatan langit. Banjir kembali tiba tanpa
persiapan, tanpa langkah antisipasi yang cukup, dan lagi-lagi masyarakat yang
harus menanggung akibatnya.
Hari ini, banjir dan longsor yang
melanda sepanjang Pulau Sumatera melumpuhkan aktivitas harian. Di sejumlah
daerah, warga terpaksa mengungsi membawa sisa-sisa barang yang sempat
diselamatkan. Jembatan putus, jalan terputus, dan akses komunikasi terhambat—sebuah
potret yang terus berulang, seperti luka lama yang tidak kunjung sembuh.
Bencana hadir bagai pesan keras dari bumi, namun entah mengapa kita masih
berjalan dalam lingkaran yang sama: tak siap, terperangah, lalu meratap.
Kadang aku membayangkan, apa yang
sebenarnya dirasakan oleh mereka yang merusak alam—yang menebang hutan tanpa
peduli, yang mengikis lereng demi keuntungan cepat, yang meninggalkan
tanah-tanah botak tanpa penyangga. Apakah ada setitik rasa bersalah ketika
hujan turun dan membawa serta lumpur yang menelan rumah-rumah warga? Apakah
mereka sempat berpikir tentang anak-anak yang harus diungsikan di tengah malam,
kedinginan di balai desa yang remang? Atau hati mereka sudah terlalu kebal oleh
angka-angka keuntungan?
Mungkin ada di antara mereka yang
sebenarnya tahu bahwa apa yang dilakukan itu salah, tetapi rasa salah itu
terkubur oleh kebutuhan, tekanan ekonomi, atau sekadar kepatuhan kepada
perintah atasan. Yang menebang pohon di hutan seringkali hanya buruh harian,
dibayar tak lebih dari seratus ribu rupiah untuk menebas pepohonan yang usianya
puluhan tahun. Mereka bekerja sambil menelan rasa getir, sadar bahwa alam yang
mereka lukai suatu hari bisa mengirim bencana kembali ke kampung mereka
sendiri.
Namun ada juga yang berada jauh
di balik layar—para pemodal, pemilik alat berat, para pemegang izin yang
bermain dalam sunyi. Kita jarang melihat wajah mereka ketika banjir datang.
Kita jarang melihat mereka berdiri di genangan, memandangi jembatan yang putus,
atau mendengar isak keluarga yang kehilangan rumah. Mereka tidak ada di tenda
pengungsian. Tidak ikut memulihkan desa yang hancur. Dan mungkin karena itulah
rasa bersalah mereka tidak pernah tumbuh.
Tetapi pada akhirnya, meski kita
tak tahu apa yang mereka rasakan, kita tahu satu hal dengan pasti: akibat dari
perbuatan mereka dirasakan oleh semua orang. Alam tidak memilih siapa yang
harus terkena dampak. Ia hanya menunjukkan sebab dan akibat. Yang merusak
mungkin dapat bersembunyi, tetapi bencana tidak pernah berbohong.
Jika kamu mau, aku bisa
melanjutkan bagian ini menjadi paragraf penutup yang menegaskan pesan moral dan
kritik untuk pelaku dan pemerintah—sebagai bagian dari artikel banjir yang
sedang kamu tulis.
Pada akhirnya, kita semua hanya
ingin menjalani hidup dengan aman tanpa harus cemas setiap kali langit mulai
menggelap. Kita lelah melihat banjir datang silih berganti, lelah mendengar
kabar longsor, dan lelah menyaksikan warga mengungsi berulang kali. Lelah
karena peristiwa ini bukan hal baru, tapi perbaikan yang dijanjikan selalu
terasa jauh.
Semoga suatu hari nanti, upaya menjaga alam bukan lagi sekadar wacana yang diulang-ulang, tetapi menjadi tindakan nyata. Kita hanya ingin bisa percaya bahwa tanah yang kita pijak ini dijaga sebagaimana ia menjaga kita. Selebihnya, biarlah bumi menilai siapa yang merawatnya dan siapa yang merusaknya. Kita sudah terlalu letih untuk berkata apa-apa lagi.[]
