Berempati Tidak Harus Kehilangan Diri-Ini Tentang Aku di Hari Itu

Oleh: Siti Hajar

Ada hari-hari ketika tubuh terasa lemah tanpa sebab yang jelas. Bukan karena tidak makan, bukan pula karena kurang tidur semata.

Kemarin adalah salah satu hari itu bagiku.

Aku sedih sebagai perempuan. Mendengar kabar seorang gubernur di daerahku kembali menikah—istri keempat—di tengah Aceh yang masih bergelut dengan bencana yang seolah tak berkesudahan. Entah mengapa, hatiku terasa perih. Bukan karena iri, bukan pula karena ingin menghakimi, tetapi karena sebagai perempuan aku tahu: setiap keputusan publik selalu punya gema panjang, terutama bagi perempuan lain. Apalagi ketika istri-istrinya sebelumnya adalah perempuan-perempuan baik, kuat, dan—masyaallah—keren dengan caranya masing-masing. Ada rasa tidak adil yang sulit dijelaskan, hanya terasa.

Hari itu berjalan sempurna, tapi tidak mudah

Aku sibuk mengurus rencana kegiatan ibu-ibu komplek. Menelepon satu per satu, menyusun, menenangkan, mengatur. Di saat yang sama, aku harus berkonfrontasi dengan pihak sekolah yang mendadak mengadakan kegiatan tanpa pemberitahuan yang layak. Jadwal berubah, rencana berantakan, dan aku dipaksa memilih dalam waktu sempit.

Berita dari sekolah anakku harus belajar di luar sekolah. Dan aku pusing jam jemputnya bersamaan dengan kegiatanku di sore  hari dan aku sudah merencanakannya. Aku ada pengajian dan aku sudah berjanji akan hadir, untuk pertama kalinya. Janji itu penting. Tapi anakku juga penting. Kepalaku pusing bukan karena perjalanan, melainkan karena tanggung jawab yang saling tarik-menarik.

Keputusanku sederhana tapi berat: aku menjemput anakku di sekolah. Setelah itu, ada lagi kabar duka yang datang cukup menguras emosi seorang teman meninggal dunia. Dia lama menderita, fisik dan batin. Diabetes dan hipertensi berjalan bersamaan. Seorang ibu dengan tiga anak perempuan yang sedang tumbuh. Di saat ia berjuang menahan sakit, suaminya memiliki pasangan lain. Berita itu membuat dadaku sesak. Aku membayangkan anak-anaknya. Aku membayangkan beban yang ia pikul dalam diam.

Di titik itu, aku sadar: ini terlalu banyak untuk satu hari.

Tubuhku melemah bukan karena aku tidak kuat, tetapi karena aku terlalu peduli. Terlalu banyak emosi yang masuk tanpa sempat diberi ruang untuk diendapkan.

Hari itu mengajarkanku sesuatu yang penting: berempati tidak harus kehilangan diri. Kepedulian bukan kewajiban untuk mengorbankan kesehatan mental dan fisik. Kesedihan orang lain boleh menyentuhku, tetapi tidak harus menguasai seluruh hidupku.

Aku belajar bahwa ada empati yang cukup menjadi doa. Tidak semuanya harus menjadi aksi. Tidak semuanya harus kuselesaikan dalam satu waktu. Ada batas yang perlu dijaga agar aku tetap bisa berfungsi sebagai ibu, sebagai manusia, sebagai diriku sendiri.

Malam itu, aku memilih merilis emosi yang menumpuk. Aku menarik napas pelan dan berkata dalam hati: yang bukan tanggung jawabku untuk diselesaikan, aku lepaskan. Kesedihan yang tidak bisa kuperbaiki, keputusan orang lain yang tidak bisa kuubah, penderitaan yang tidak berada dalam kendaliku—aku lepaskan satu per satu.

Aku mengizinkan diriku lelah. Aku mengizinkan diriku berhenti sejenak. Aku mengizinkan tubuhku memulihkan diri tanpa rasa bersalah.

Surat untuk Diriku

Malam ini aku mengakui bahwa aku lelah. Bukan karena aku lemah, tetapi karena aku peduli terlalu banyak, terlalu dalam, dalam waktu yang hampir bersamaan. Aku terluka sebagai perempuan, letih sebagai ibu, dan sedih sebagai manusia yang menyaksikan ketidakadilan dan kehilangan.

Aku sudah berusaha mengambil keputusan terbaik dengan hati yang jujur. Aku memilih anakku. Aku memilih komitmen yang sudah kuucapkan. Aku tetap berdiri meski kepalaku pusing dan hatiku berat. Itu bukan hal kecil.

Malam ini aku mengizinkan diriku berhenti. Tidak semua kesedihan harus kuselesaikan hari ini. Tidak semua empati harus kuubah menjadi tindakan. Sebagian cukup menjadi doa, dan sebagian lagi cukup kulepaskan agar tubuhku bisa bernapas.

Aku berjanji pada diriku sendiri: aku akan tetap peduli, tetapi aku tidak akan kehilangan diriku. Aku berhak tenang. Aku berhak pulih. Dan besok, jika aku hanya mampu melangkah kecil saja, itu sudah cukup.

Refleksi ini bukan tentang menjadi kuat tanpa air mata, tetapi tentang belajar mengenali batas. Empati yang sehat adalah empati yang tidak menghabiskan diri sendiri. Dari batas itulah aku belajar bertahan, menjaga kewarasan, dan tetap hadir bagi orang-orang yang kucintai. Karena merawat diri bukan bentuk keegoisan, melainkan cara agar aku tetap bisa peduli dengan utuh.[]

Lebih baru Lebih lama