Oleh: Siti Hajar
Mengenal love
language itu penting, karena cinta tidak selalu berbicara dengan bahasa
yang sama pada setiap orang. Banyak yang mengatakan bahwa dari semua love
language yang ada—words of affirmation (kata-kata peneguhan), quality
time (waktu berkualitas), acts of service (tindakan melayani), receiving
gifts (menerima hadiah), dan physical touch (sentuhan
fisik)—sebenarnya kita membutuhkan semuanya. Dan itu benar. Kita semua butuh
dihargai, ditemani, dibantu, diperhatikan, dan dirasakan kehadirannya. Namun
pada praktiknya, hampir setiap orang memiliki satu atau dua bahasa cinta yang
paling membuat hatinya terasa penuh. Di situlah letak perbedaannya.
Ada orang yang
merasa sangat dicintai hanya dengan kalimat sederhana, “Aku bangga padamu.” Ada
pula yang tidak terlalu butuh kata-kata, tetapi hatinya luluh ketika ditemani
tanpa gangguan gawai. Sebagian merasa dicintai ketika dibantu tanpa diminta,
sebagian lain merasa diperhatikan lewat hadiah kecil yang penuh makna, dan ada
juga yang membutuhkan sentuhan hangat sebagai penanda aman dan dekat. Perbedaan
ini bukan soal manja atau tidak bersyukur, melainkan tentang bagaimana emosi
seseorang terbentuk dan bagaimana ia belajar merasakan cinta sejak awal
kehidupannya.
Memahami love
language menjadi penting karena sering kali konflik bukan terjadi karena
kurang cinta, tetapi karena salah cara menyampaikannya. Seseorang merasa sudah
memberi banyak, sementara yang lain merasa tetap kosong. Yang satu merasa cukup
dengan bekerja keras demi keluarga, yang lain justru merindukan waktu
berbincang. Yang satu rajin memberi nasihat, yang lain hanya ingin didengar.
Tanpa kesadaran akan bahasa cinta, relasi bisa lelah oleh salah paham yang
berulang.
Ungkapan cinta
dengan bahasa yang tepat dibutuhkan di banyak momen kehidupan. Saat seseorang
sedang rapuh, gagal, atau merasa tidak berharga, words of affirmation
bisa menjadi penopang jiwa. Saat hubungan mulai terasa hambar, quality time
sering kali menjadi jembatan yang menyambung kembali kedekatan. Dalam masa
lelah dan kewalahan, acts of service bisa terasa jauh lebih bermakna
daripada kata-kata. Pada momen perayaan atau pengingat, receiving gifts
menjadi simbol bahwa seseorang dipikirkan. Dan dalam kondisi duka, cemas, atau
butuh rasa aman, physical touch sering kali menjadi bahasa yang tidak
tergantikan.
Dalam lingkup
keluarga, semua anggota layak menerima bahasa cinta. Pasangan hidup
membutuhkannya agar relasi tidak hanya berjalan, tetapi juga bertumbuh.
Anak-anak membutuhkannya untuk membangun rasa aman, percaya diri, dan harga
diri. Orang tua pun layak mendapatkannya, karena mereka tidak hanya berperan
memberi, tetapi juga manusia yang ingin dihargai dan disayang. Bahasa cinta
dalam keluarga adalah fondasi emosional yang membentuk cara seseorang mencintai
dunia di luar rumah.
Dalam relasi
pertemanan, love language juga relevan, meski bentuknya tentu lebih
proporsional. Teman layak mendapat waktu, perhatian, dukungan, dan penghargaan,
terutama di masa sulit. Persahabatan yang sehat sering kali terjaga bukan oleh
intensitas pertemuan, tetapi oleh ketepatan cara hadir satu sama lain.
Mengetahui love
language membuat kita lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih sadar bahwa
cinta bukan hanya tentang niat baik, tetapi juga tentang cara yang bisa
benar-benar dirasakan. Karena cinta yang tidak sampai, sering kali bukan karena
tidak ada, melainkan karena disampaikan dengan bahasa yang keliru.
Bagaimana kita
mengenal seseorang dengan love languagenya?
Mengenal love
language seperti mengetahui proses
membaca, mendengar, dan merasakan dengan penuh perhatian. Ia tidak selalu
terucap langsung, lebih sering tampak dari kebiasaan kecil dan reaksi emosional
yang berulang.
Biasanya, love
language seseorang dapat dikenali dari apa yang paling sering ia berikan
kepada orang lain. Orang yang gemar memberi pujian dan dukungan verbal, sering
kali merasa dicintai lewat kata-kata. Mereka yang suka mengajak mengobrol,
menemani, atau sekadar duduk bersama tanpa banyak agenda, kerap menjadikan quality
time sebagai bahasa cintanya. Ada pula yang spontan membantu, mengurus,
atau mengambil alih hal-hal kecil tanpa diminta; sering kali itulah cara ia
mencintai sekaligus ingin dicintai.
Bahasa cinta
juga bisa dibaca dari apa yang paling sering mereka keluhkan atau rindukan.
Kalimat seperti “kamu jarang dengerin aku,” “kita sudah lama tidak ngobrol,”
atau “aku capek ngurus semuanya sendiri” biasanya bukan sekadar keluhan, tetapi
petunjuk kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Di baliknya, ada bahasa
cinta yang sedang meminta ruang untuk diakui.
Perhatikan pula
reaksi seseorang ketika menerima perlakuan tertentu. Ada orang yang tampak
biasa saja saat diberi hadiah, tetapi matanya berbinar ketika ditemani. Ada
yang tidak terlalu responsif terhadap pujian, namun merasa sangat tersentuh
ketika dibantu dalam hal konkret. Respons inilah yang sering lebih jujur
daripada kata-kata.
Cara lain yang
paling sehat adalah dengan bertanya secara terbuka, dalam suasana aman dan
tanpa menghakimi. Bukan dengan nada menginterogasi, tetapi sebagai bentuk
kepedulian: “Apa yang biasanya bikin kamu merasa paling diperhatikan?” atau
“Kalau lagi capek, kamu lebih butuh ditemani, didengarkan, atau dibantu?”
Pertanyaan semacam ini bukan tanda kelemahan relasi, justru tanda kedewasaan
emosional.
Penting juga
diingat bahwa love language seseorang bisa berubah seiring fase hidup.
Di masa tertentu, seseorang lebih butuh kehadiran. Di masa lain, ia lebih
membutuhkan dukungan nyata atau kata-kata penguatan. Karena itu, mengenal
bahasa cinta bukan sekali jadi, melainkan dialog yang terus hidup.
Mengenal love
language seseorang adalah tentang kesediaan untuk tidak menyamakan semua
orang dengan diri kita sendiri. Ia menuntut empati, kesabaran, dan kepekaan.
Karena ketika kita bersedia belajar bahasa hati orang lain, relasi tidak hanya
menjadi lebih hangat, tetapi juga lebih manusiawi. So apa love language-mu? []
