Oleh: Siti Hajar
Ada orang yang pernah menggambarkan ikhlas seperti keluar dari toilet. Selesai, ditinggalkan, tidak dibawa ke mana-mana, dan tidak perlu diingat lagi. Perumpamaan ini terdengar kasar, bahkan canggung jika diucapkan di ruang-ruang yang terbiasa dengan bahasa halus. Namun justru di situlah kejujurannya. Ikhlas tidak selalu lahir dari kalimat indah. Ia sering datang dari kesadaran yang sangat sederhana.
Ikhlas bukan
sesuatu yang rumit. Ia tidak membutuhkan banyak penjelasan. Ia bekerja dalam tanpa
menunggu perintah Ketika sesuatu dilepas dan tidak lagi dicari-cari
keberadaannya di kepala. Ketika hati berhenti menoleh ke belakang hanya untuk
memastikan rasa sakit itu masih ada.
Banyak orang
mengira ikhlas adalah kemampuan untuk tidak merasa apa-apa. Padahal ikhlas
justru mengakui perasaan dengan jujur. Ada sedih. Ada marah. Ada kecewa. Semua
itu nyata. Ikhlas tidak memerangi emosi, ia hanya tidak membiarkannya memegang
kendali terlalu lama.
Ikhlas adalah
keadaan ketika hati berhenti menuntut kenyataan agar sesuai dengan keinginan
kita. Ketika doa tidak lagi berisi permintaan agar masa lalu kembali, melainkan
kekuatan untuk menghadapi hari ini. Di titik itu, sesuatu di dalam diri
perlahan menjadi lebih ringan.
Dalam seni,
ikhlas adalah bagian dari proses kreatif yang sering luput dibicarakan. Karya
lahir dari pergulatan batin, dari pengalaman yang kadang tidak ingin diingat
kembali. Ada fase ketika pencipta begitu dekat dengan karyanya, nyaris menyatu.
Namun ketika karya itu selesai, ia harus dilepas.
Seniman yang
matang tahu bahwa karyanya tidak boleh menjadi beban seumur hidup. Ia tidak
terus menggenggamnya dengan rasa ingin diakui. Ia tidak memaksa orang lain
untuk memahami maksudnya. Karya yang ikhlas akan menemukan jalannya sendiri,
atau bahkan menghilang tanpa jejak. Dan itu tidak apa-apa.
Relasi
antarmanusia berjalan dengan hukum yang serupa. Kita bertemu, terhubung, lalu
kadang harus berpisah. Tidak semua hubungan berakhir dengan pertengkaran.
Sebagian berakhir dalam ketidakpastian yang panjang. Sebagian lagi berakhir
ketika cinta masih ada, tetapi jalan sudah berbeda.
Melepaskan orang
yang paling dicintai adalah ujian ikhlas yang mengandung makna cukup dalam. Tidak
ada tepuk tangan. Tidak ada pengakuan. Hanya hati yang harus berdamai dengan
keputusan yang tidak pernah benar-benar diinginkan. Ikhlas di sini bukan tanda
lemah, tetapi tanda bahwa seseorang memilih waras daripada terus terluka.
Ada fase ketika
seseorang mencoba bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena tidak
tahu harus pergi, tetapi karena takut menghadapi kekosongan setelahnya. Ikhlas
datang ketika kita berani menghadapi ruang kosong itu, lalu perlahan mengisinya
dengan diri sendiri.
Anak muda
menyebut proses ini sebagai move on. Kata yang terdengar ringan, seolah
cukup dengan waktu dan kesibukan. Padahal move on yang sesungguhnya
adalah kerja batin yang panjang. Ia bukan tentang seberapa cepat mengganti,
tetapi seberapa jujur menghadapi kehilangan.
Move on
bukan berarti menghapus masa lalu. Ia tidak menuntut lupa. Kenangan tetap
tinggal, tetapi tidak lagi dijadikan tempat berlindung atau tempat menyiksa
diri. Kenangan hanya menjadi bagian dari perjalanan, bukan tujuan.
Ikhlas membantu
seseorang menata ulang hidupnya dari dalam. Pikiran berhenti mengulang
pertanyaan yang sama. Hati berhenti berharap pada hal-hal yang sudah jelas
tidak kembali. Energi yang dulu habis untuk bertahan mulai dipakai untuk
bertumbuh.
Dalam ikhlas,
seseorang belajar menerima bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Ada yang
cukup dilepas. Ada yang cukup disyukuri karena pernah ada. Ada yang cukup
disimpan sebagai pelajaran agar langkah ke depan lebih jujur dan lebih
hati-hati.
Kita tidak
diminta melupakan masa lalu. Hidup tidak menuntut itu. Kita hanya diajak untuk
tidak tinggal di sana. Ikhlas memberi jarak yang sehat antara siapa kita dulu
dan siapa kita hari ini.
Seperti seni
yang selesai dikerjakan, buku yang selesai dicetak, atau artikel yang baru
diposting. Sama seperti langkah keluar
dari toilet, seperti hubungan yang telah mencapai batasnya. Ada saat ketika ada
sesuatu harus ditinggalkan. Bukan karena tidak berarti, tetapi karena hidup
meminta kita untuk terus berjalan. Dan hati yang ikhlas tahu, berjalan ke depan
tidak selalu berarti mengkhianati masa lalu. Namun, cukup dijadikan pelajaran,
sekadar kenangan, tanpa harus diulang. []
Hayuk melangkah bersama dengan penuh keyakinan tanpa ketergesa-gesaan.
