Kisah Fonna di Balik Dinding Batu Bata

 

Oleh: Siti Hajar

Aku tidak paham sampai sekarang mengapa Kak Sumi belum juga menyerah pada hidupnya—pada keluarganya yang menurutku, jauh dari kata harmonis. Hampir setiap pagi selalu ada saja barang yang terlempar keluar dari rumah itu. Bang Mando, sebagai laki-laki kepala rumah tangga, benar-benar hanya memiliki kesabaran setipis tisu. Yang paling kusayangkan justru Fonna, anak mereka satu-satunya. Aku bahkan menurutku itu suatu  kebaikan mereka hanya memiliki satu anak.

Fonna tumbuh menjadi anak yang pemalu. Sebagai tetangga sekaligus gurunya, aku tahu betul bagaimana anak ini dibesarkan—di tengah temperamen keras bapaknya dan mulut ibunya yang nyaris tak pernah berhenti. “Sudah kubilang, kalau kau tidak sanggup lagi tinggal di rumah ini, bebas kau pergi. Mau tidur di jalan pun terserah,” begitu suara Kak Sumi yang sering terdengar, disusul bentakan Bang Mando yang tak kalah tajam.

Pagi ini, makian Bang Mando terdengar sangat jelas di telingaku. Bukan karena aku sengaja menguping, tapi memang rumah kami hanya dipisahkan oleh dinding batu-bata yang belum diplester, apalagi diberi peredam suara. Setiap kata, setiap amarah dan kata-kata keras bahkan bisikan pun rasanya langsung masuk ke telinga seorang anak kecil yang seharusnya tumbuh dengan rasa aman.

"Mak, jajan ...." di tengah prahara itu, aku tahu Fonna pasti ingin lekas ke sekolah pagi itu... 

Di balik dinding batu bata aku menduga, Kak Sumi mengambil lembar 5.000-an dari kantong dasternya. 

Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kecil tergesa, disusul bunyi tas yang disambar dan pintu yang terbuka cepat. Aku bisa membayangkan Fonna mencium punggung lengan mamaknya singkat—terlalu singkat untuk ukuran seorang anak—lalu berlari ke halaman.

Seakan Fonna paham, daripada ikut kena amarah yang belum reda, lebih baik ia segera melarikan diri.

“Yuk, ikut sama Ibuk,” kataku sambil menepikan motor Beat bututku ke pinggir jalan.
“Hayuk,” jawab Fonna dengan senyum merekah.

Entah mengapa, pagi ini aku ingin Fonna benar-benar terselamatkan—seperti hari-hari sebelumnya. Ada perasaan yang tak bisa kujelaskan, semacam dorongan untuk memastikan anak itu sampai ke sekolah dengan utuh, setidaknya jiwanya. Ia selalu tampak senang setiap kali bertemu denganku.

Selain sebagai gurunya di sekolah, aku juga—dengan sukarela—menjadi guru les di rumahku. Bukan hanya Fonna, beberapa siswa lain juga sering datang. Tidak ada jadwal resmi, hanya menyesuaikan kapan aku punya waktu dan kapan mereka sedang bersemangat. Biasanya di hari Sabtu atau Minggu sore. Rumahku sederhana, tapi aku berusaha membuatnya cukup hangat untuk anak-anak yang barangkali tak selalu menemukan ketenangan di rumah mereka sendiri.

Tidak hanya belajar membaca dan berhitung, aku juga berusaha memberi mereka nasihat—sebatas apa yang aku tahu dan mampu. Aku tidak pernah memancing cerita tentang kehidupan mereka di rumah. Aku membiarkan semuanya mengalir. Namun entah bagaimana, selalu saja ada cerita yang keluar: tentang perasaan mereka di rumah, tentang teman-teman di sekolah, tentang hal-hal kecil yang bagi anak-anak terasa besar.

Dari sekian banyak anak, hanya Fonna yang tampak memikul hidup lebih berat dari yang lain. Ia jarang bercerita panjang, tetapi diamnya berbunyi. Ada kehati-hatian dalam caranya memilih kata, ada kewaspadaan dalam setiap geraknya. Seolah-olah, sejak terlalu dini, ia sudah belajar bahwa hidup tidak selalu ramah—dan bahwa menjadi anak-anak pun kadang bukan perkara yang ringan.

“Fonna, kita makan mi lontong dulu, yuk.”

Fonna mengangguk pelan. Aku tahu betul, pagi ini ia belum sempat sarapan. Ia terlalu cepat bersiap, terlalu ingin pergi, karena tragedi kecil yang kembali pecah di rumahnya sejak subuh. Tanpa banyak bicara, kami makan dengan cepat. Tidak ada obrolan panjang, hanya bunyi sendok dan kunyahan yang saling mengisi diam.

Jarum jam hampir menyentuh angka delapan ketika aku melirik pergelangan tanganku. Waktu berjalan seperti biasa, sementara bagi seorang anak kecil, pagi itu mungkin terasa jauh lebih panjang dari seharusnya.

“Nanti sore, habis Asar ke rumah Ibuk, ya. Bilang mamak, ada les matematika.”

Fonna mengangguk. Ia turun dari motor, melambaikan tangan kecilnya, lalu berlari masuk ke gerbang sekolah.

Aku tidak tahu, siang itu ternyata bara di rumah mereka belum juga padam—bahkan justru membesar.

Menjelang sore, suara gaduh kembali pecah. Lebih keras dari biasanya. Teriakan Bang Mando terdengar seperti orang yang kehilangan kendali. Pintu dibanting, kursi diseret kasar. Kali ini bukan sekadar amarah tanpa sebab. Belakangan aku baru tahu, sudah seminggu ini Bang Mando menganggur. Ia dipecat oleh mandornya sendiri setelah ketahuan menyelipkan uang gaji teman-temannya. Uang itu habis untuk rokok dan judi online—permainan kecil di layar ponsel yang diam-diam menggerogoti hidupnya.

Kak Sumi menjerit. Bukan jerit minta tolong, tapi jerit marah yang bercampur putus asa. Kata-kata tajam beterbangan, lebih menyakitkan daripada benda-benda yang dilemparkan. Di sela kekacauan itu, aku melihat Fonna keluar rumah. Tasnya masih di punggung, seragamnya kusut, wajahnya pucat. Ia berdiri ragu di halaman, seperti anak burung yang salah musim keluar dari sarang.

“Ke mana kau?” bentak Bang Mando.

“Ma mau… mau les,” jawab Fonna lirih.

Jawaban itu justru menyulut amarah. Bang Mando melangkah cepat, tangannya terangkat. Seketika kakiku refleks bergerak. Aku keluar rumah tanpa berpikir panjang.

“Bang,” kataku, suaraku bergetar tapi kupaksa tegas, “biar Fonna ikut saya. Sudah janji.”

Bang Mando berhenti. Matanya merah, napasnya berat. Ada malu yang singgah sebentar di wajahnya—atau mungkin hanya lelah. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik masuk. Kak Sumi terduduk di lantai, menangis tanpa suara.

Fonna mendekatiku, tangannya dingin saat kugenggam. Sore itu, les matematika bukan lagi tentang angka dan rumus. Itu tentang menyelamatkan seorang anak—sekali lagi—dari rumah yang tak pernah benar-benar tenang.

Minggu itu berlalu dengan sangat cepat, seolah tak memberi jeda bagi siapa pun untuk bernapas. Bang Mando akhirnya dilaporkan ke polisi oleh bos tempat dia bekerja. Ternyata, kejadian minggu lalu bukanlah yang pertama—melainkan yang ketiga. Kali ini tak ada ampun. Mandornya menuntut uang itu segera dikembalikan.

Namun hasilnya nihil.

Mereka bukan orang berada, tidak punya simpanan, apalagi harta yang bisa dijual. Mereka hanyalah pendatang dari jauh, hidup dari hari ke hari. Yang paling kasihan adalah Kak Sumi. Uang hasil menjual kerupuknya habis tak bersisa. Selama ini, meski suaminya bekerja, penghasilan Bang Mando tak pernah cukup. Diam-diam, justru Kak Sumi yang menanggung kehidupan mereka—menutup kekurangan, menahan lapar, dan menelan lelah tanpa banyak suara.

Tanpa Bang Mando, rumah tetanggaku itu justru menjadi sepi. Keadaan ini bukan sesuatu yang nyaman untuk dirasakan oleh tetangga sepertiku. Kak Sumi dan Fonna, dua jiwa yang selama ini hidup di bawah riuh pertengkaran, seharusnya bisa merasa tenteram. Namun yang tampak justru sebaliknya: mereka seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah benar-benar baik, tetapi tetap bagian dari hidup.

Kak Sumi tidak pernah berkata lega. Tidak juga tampak marah. Yang ada hanya wajah lelah dan doa-doa yang dipanjatkan pelan. Ia berharap, dengan suaminya dipenjara, Bang Mando bisa sadar dan bertobat atas kesalahannya. Baginya, penjara bukan tempat siksaan, melainkan tempat untuk merenung, memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta. Kak Sumi berharap suaminya bisa bercermin dan memperbaiki semuanya.

Tidak pernah terlintas di benaknya untuk meninggalkan Bang Mando. Bagaimanapun, Fonna tetap membutuhkan sosok ayah. Bukan ayah yang sempurna, hanya ayah yang mau berubah. Dan di rumah yang kini lebih tennag  itu, Kak Sumi memilih bertahan—bukan karena tak punya pilihan, melainkan karena masih ada harapan yang ia jaga, meski rapuh.

Dengan tetap berusaha hidup, Kak Sumi justru memperluas usahanya. Ia membuat kerupuk lebih banyak, menitipkannya ke hampir semua warung di kampung, bahkan sampai ke kampung tetangga. Pelan-pelan, hidup harus terus berjalan. Hubunganku dengan Kak Sumi pun kian terasa seperti keluarga. Terkadang kami saling bertukar lauk, saling menguatkan dengan cara yang sederhana. Fonna pun sering dititipkan kepadaku saat Sumi menjenguk Bang Mando di penjara.

Seminggu sekali, ia membawa makanan untuk suaminya. Tidak mewah, tidak pula berlebihan, tetapi cukup baginya untuk menunjukkan bahwa ia masih seorang istri—yang memilih setia dengan caranya sendiri. Banyak orang menyarankannya untuk pergi saja. “Nanti kalau bebas, dia akan jahat lagi,” kata mereka. “Orang seperti itu mana mungkin berubah.”

Namun Sumi tetap bertahan.

Ia mengingat kembali awal perkenalan mereka, masa-masa ketika segalanya terasa apa adanya. Dia ingat bagaimana mereka menikah, lalu pindah ke kota lain, membawa harapan dan janji untuk selalu bersama dalam suka dan duka. Meski pernah disakiti, Sumi masih percaya bahwa suaminya menyayanginya—juga menyayangi Fonna, buah cinta mereka. Dan di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh, keyakinan itulah yang membuatnya terus melangkah, pelan tapi teguh.

Malam-malam kemudian, setelah rumah kembali tenang dan suara-suara itu tak lagi terdengar, aku sering merenung sendirian. Tentang hidup, tentang pilihan, tentang betapa satu keputusan bisa menentukan arah sebuah keluarga. Melihat Kak Sumi dan Bang Mando membuatku paham bahwa cinta saja tidak selalu cukup. Ada tanggung jawab yang harus dipelihara, ada akal sehat yang mesti dijaga, dan ada luka yang bisa diwariskan tanpa disadari.

Aku berdoa, kelak jika aku berkeluarga, aku tidak salah memilih orang untuk berjalan bersama. Bukan hanya orang yang mampu membuatku jatuh cinta, tetapi orang yang sanggup menahan amarahnya, jujur pada pekerjaannya, dan tahu bahwa rumah adalah tempat pulang, bukan medan pelampiasan. Aku berharap bisa memilih seseorang yang, saat lelah, memilih diam dan berpikir, bukan melukai yang saat kekurangan, memilih bekerja dan bertahan, bukan menghindar.

Semoga aku cukup jernih untuk mengenali tanda-tanda sejak awal, cukup berani untuk berkata tidak pada yang tampak manis tapi rapuh, dan cukup rendah hati untuk terus belajar menjadi manusia yang layak dijadikan pasangan. Karena dari rumah tangga orang lain, aku belajar satu hal penting: keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi jiwa—terutama bagi anak-anak yang tidak pernah memilih untuk dilahirkan ke dalamnya.

Aku sadar bahwa jika rumah tangga berantakan bukan suami atau istri yang paling menderita, melainkan anak—anak yang dilahirkan dari cinta yang belum dewasa. Mereka tumbuh di antara amarah yang bukan salahnya, belajar membaca suasana sebelum belajar membaca buku, dan memahami luka bahkan sebelum mengenal bahagia. Anak-anak itu tidak pernah memilih orang tuanya, tetapi merekalah yang paling lama menanggung akibat dari pilihan orang dewasa.[]

Lebih baru Lebih lama