Ulasan Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans Menurut Psikologis

 Oleh: Siti Hajar

Sedih rasanya membaca Broken Strings dan menyadari bahwa kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi luka yang terlalu lama diabaikan. Kekerasan fisik dan mental yang dialami Aurelie—tamparan, pukulan hingga tubuhnya membiru, diludahi, diancam penyebaran foto tanpa busana—adalah bentuk kekerasan yang tak sanggup dibayangkan, apalagi dialami oleh seorang anak dan remaja. Yang lebih menyakitkan, ia pernah berusaha bersuara. Ia datang ke media dan lembaga perlindungan anak dengan harapan ada yang mendengar, ada yang melindungi. Namun suaranya tenggelam, seolah penderitaan itu tidak cukup penting untuk diperjuangkan.

Buku ini menunjukkan dengan sangat jelas bagaimana child grooming bekerja. Relasi dibangun perlahan, dibungkus perhatian dan rasa aman, hingga korban terikat secara emosional. Ketika kekerasan mulai terjadi, korban sudah terlanjur bingung, takut, dan merasa bersalah. Inilah luka psikologis yang paling dalam: bukan hanya dipukul secara fisik, tetapi dibuat ragu pada diri sendiri, pada perasaan, bahkan pada kenyataan.

Broken Strings juga memperlihatkan betapa tubuh dan jiwa anak sering kali sudah berteriak jauh sebelum pikiran mampu memberi nama pada kekerasan itu. Kelelahan, kecemasan, rasa hampa, dan diam panjang adalah bahasa trauma yang sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal itu adalah cara bertahan hidup.

Ironisnya, suara Aurelie baru benar-benar terdengar ketika ia membagikan bukunya dalam versi PDF secara gratis. Bukan saat ia meminta perlindungan, tetapi saat ia memilih bercerita dengan caranya sendiri. Ini menjadi cermin yang pahit bagi kita semua: betapa sering korban harus berteriak sendirian sebelum akhirnya dipercaya.

Dari sisi psikologis, buku ini mengajarkan bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari sistem yang ideal, tetapi dari keberanian merebut kembali cerita hidup. Menulis menjadi cara Aurelie berdamai dengan masa lalu, melepaskan rasa bersalah yang bukan miliknya, dan mengingatkan bahwa kekerasan—dalam bentuk apa pun—tidak pernah bisa dibenarkan.

Broken Strings bukan buku yang nyaman dibaca, tetapi penting. Ia mengingatkan bahwa anak-anak tidak selalu punya kata untuk membela diri, dan ketika mereka akhirnya berbicara, tugas kitalah untuk mendengar. Tidak menunda. Tidak meragukan. Tidak menutup mata. Karena satu suara yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka seumur hidup besok.[]

Lebih baru Lebih lama