Mohon Ampun, Berikhtiar dan Bertawakkal kepada Allah

Oleh: Siti Hajar

Aceh sedang berada pada luka yang dalam. Bencana datang tidak hanya merobohkan rumah-rumah, tetapi juga merenggut nyawa, memupus harapan, dan memisahkan banyak keluarga dari tempat yang selama ini mereka sebut rumah. Tempat ibadah runtuh, sekolah hancur, kampung-kampung tertimbun lumpur yang tebal hingga menyisakan sunyi dan tangis. Banyak penyintas kehilangan pekerjaan sekaligus sumber penghidupan. Dalam kondisi serba terbatas, uluran tangan dari orang-orang baik—dalam bentuk doa, donasi, dan kepedulian—menjadi penopang penting agar para korban tetap bisa bertahan dari hari ke hari.

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, pemerintah terus berupaya melakukan penanganan. Hunian sementara mulai dibangun agar para penyintas memiliki tempat berlindung yang lebih layak, sementara perencanaan hunian tetap disiapkan sebagai ikhtiar jangka panjang untuk memulihkan kehidupan mereka. Proses ini tentu tidak mudah dan tidak singkat, tetapi setiap langkah kecil adalah bentuk tanggung jawab dan harapan agar Aceh dapat kembali bangkit, meski dengan wajah yang mungkin tak lagi sama.

Bagi orang-orang beriman, musibah ini bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian, sekaligus peringatan dari Allah Swt., Sang Maha Pencipta. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia. Ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusia pun ikut merasakan akibatnya. Bencana mengajak kita menundukkan kepala, bercermin, dan bertanya dengan jujur: sejauh mana kita telah menjaga amanah bumi yang dititipkan kepada kita?

Seharusnya adalah memohon ampun, berikhtiar dan bertawakkal kepada Allah. Terus saja mengingat Allah.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh para penyintas dan kita, saudara-saudara mereka? Tidak ada jalan lain selain bersabar, tetap kuat, dan bertawakal kepada Allah. Bagi penyintas, bertahan hidup hari ini saja sudah merupakan bentuk keberanian yang luar biasa. Bagi kita yang menyaksikan dari kejauhan, hadir dengan empati, bantuan, dan doa adalah wujud persaudaraan yang sejati. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Barangsiapa yang bersabar, maka surgalah tempatnya.

Musibah ini seharusnya mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak dan melakukan introspeksi diri. Apa yang selama ini telah kita lakukan, jalan mana yang telah kita tempuh, dan dosa apa yang mungkin tanpa sadar terus kita ulangi. Bencana mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari luar, tetapi dari dalam diri masing-masing. Saatnya menata ulang niat, menjauh dari perbuatan dosa, memperbanyak istighfar, dan dengan rendah hati memohon ampunan kepada Allah. Sebab hanya kepada Allah kita meminta bantuan dan pertolongan, dan hanya kepada-Nya pula tempat kita kembali menggantungkan harapan.

Pada akhirnya, di hadapan kuasa-Nya, kita menyadari betapa kecil dan rapuhnya manusia. Semua yang kita miliki bisa hilang dalam sekejap, dan semua yang kita rencanakan bisa berubah tanpa aba-aba. Maka hanya satu kalimat yang pantas kita genggam erat dalam situasi seperti ini: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh—tidak ada daya dan upaya pada diri kita, kecuali dengan pertolongan Allah Swt. Semoga musibah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menjadi muslim yang lebih baik dari hari ke hari, menggantungkan seluruh doa dan harapan hanya kepada Allah semata.[]


Lebih baru Lebih lama