Apa pentingnya menegakkan
aturan kepada anak?
Oleh: Siti Hajar
Anak yang dibesarkan tanpa batas
sering tumbuh bingung. Anak yang dibesarkan dengan batas yang sehat tumbuh
lebih percaya diri.
Sebagai orang tua atau pendidik,
kita tidak sedang membentuk anak untuk hari ini saja. Kita sedang membentuk
manusia yang kelak mampu berdiri sendiri, mengambil keputusan, dan memikul
tanggung jawabnya.
Menegakkan aturan kepada anak
adalah proses membangun fondasi karakter, rasa aman, dan kemampuan mengelola
diri yang akan mereka bawa sampai dewasa.
Pertama, aturan memberi rasa aman.
Anak-anak merasa lebih tenang ketika hidup mereka memiliki batas yang jelas.
Mereka tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Tanpa aturan, dunia terasa
membingungkan. Dengan aturan, mereka belajar bahwa hidup punya struktur.
Kedua, aturan melatih tanggung
jawab dan disiplin diri. Ketika anak tahu bahwa setiap tindakan ada
konsekuensinya, mereka belajar berpikir sebelum bertindak. Ini tentang memahami
hubungan sebab dan akibat. Misalnya, jika tidak mengerjakan tugas, waktu
bermain berkurang. Hubungan logis seperti ini membantu anak memahami realitas
kehidupan.
Ketiga, aturan membantu membentuk
kontrol diri (self-control). Banyak masalah remaja dan orang dewasa berakar
pada lemahnya kontrol diri. Anak yang sejak kecil terbiasa dengan batasan akan
lebih mampu menunda keinginan, mengatur emosi, dan mengambil keputusan dengan
lebih matang.
Keempat, aturan mengajarkan nilai
moral dan sosial. Anak belajar bahwa hidup tidak hanya tentang dirinya sendiri.
Ada orang lain yang perlu dihormati. Ada norma yang perlu dijaga. Di rumah,
aturan menjadi latihan kecil untuk hidup di masyarakat.
Yang terpenting adalah cara
menegakkan aturan. Aturan yang baik bersifat konsisten, disertai penjelasan,
tidak keras atau merendahkan, serta disesuaikan dengan usia anak.
Sebagai orang tua atau pendidik,
kita sedang membentuk manusia yang kelak mampu berdiri sendiri, mengambil
keputusan, dan memikul tanggung jawabnya.
Sejak usia kapan aturan mulai
diterapkan?
Aturan mulai diterapkan sejak
anak mulai memahami pola dan rutinitas, bahkan sejak usia bayi. Tentu bentuknya
berbeda sesuai tahap perkembangan.
Usia 0–2 tahun
Pada fase ini aturan hadir dalam
bentuk rutinitas dan konsistensi. Jam tidur yang teratur, waktu makan yang
jelas, cara berbicara yang lembut namun tegas. Bayi belajar dari pengulangan.
Mereka mulai mengenal batas melalui nada suara, ekspresi wajah, dan pola yang
stabil setiap hari.
Usia 2–5 tahun
Di usia ini anak mulai memahami
instruksi sederhana. Aturan bisa lebih konkret, seperti: merapikan mainan
setelah digunakan, mencuci tangan sebelum makan, tidak memukul teman.
Penjelasan perlu singkat dan konsisten. Konsekuensi juga harus sederhana dan langsung.
Usia 6–12 tahun
Anak sudah mampu memahami alasan
di balik aturan. Di tahap ini penting melibatkan mereka dalam diskusi ringan.
Misalnya, mengapa waktu bermain gadget dibatasi, atau mengapa harus mengerjakan
tugas sebelum bermain. Mereka belajar tanggung jawab dan berpikir logis.
Usia remaja
Aturan tetap diperlukan, namun
pendekatannya lebih dialogis. Remaja perlu merasa dihargai pendapatnya. Batas
tetap ada, hanya cara komunikasinya lebih dewasa.
Intinya, aturan diterapkan sejak
dini, namun bentuk dan cara penyampaiannya mengikuti usia dan kematangan anak.
Semakin konsisten sejak kecil, semakin mudah anak memahami batas saat ia tumbuh
besar.
Bagaimana bila aturan
dilanggar anak padahal sebelumnya anak patuh
Ketika anak yang biasanya patuh
tiba-tiba melanggar aturan, sering kali itu tanda ada sesuatu yang berubah
dalam dirinya. Perilaku adalah bahasa. Ia sedang menyampaikan sesuatu, hanya
saja belum mampu mengatakannya dengan kata-kata yang tepat.
Langkah pertama adalah menenangkan
diri lebih dulu. Reaksi orang tua menentukan arah situasi. Jika langsung marah,
anak bisa fokus pada ketakutan, bukan pada pembelajaran.
Kedua, cari tahu
penyebabnya. Tanyakan dengan nada tenang, “Ada apa hari ini?” atau “Kenapa kamu
memilih melakukan itu?” Bisa jadi ia lelah, kecewa, cemburu, ingin perhatian,
atau sedang menguji batas. Anak yang sebelumnya patuh kadang mulai mencoba
melihat seberapa konsisten orang tuanya.
Ketiga, tegakkan konsekuensi yang
sudah disepakati. Konsistensi sangat penting. Jika aturan tentang waktu bermain
sudah jelas, maka konsekuensinya tetap berjalan. Nada tetap hangat, sikap tetap
tegas. Anak belajar bahwa aturan tetap berlaku meskipun orang tua sedang sayang
atau sedang kecewa.
Keempat, setelah situasi tenang,
lakukan refleksi singkat. Ajak anak memikirkan pilihannya dan dampaknya. Bantu
ia menyusun rencana agar lain kali bisa mengambil keputusan yang lebih baik.
Jika pelanggaran hanya sesekali,
itu bagian dari proses tumbuh. Anak sedang belajar mengelola dorongan dan
emosi. Namun jika mulai sering terjadi, mungkin aturan perlu ditinjau ulang:
apakah terlalu berat, kurang jelas, atau kurang konsisten diterapkan.
Yang terpenting, pisahkan antara perilaku
dan harga diri anak. Tindakan yang keliru perlu diperbaiki, namun kasih sayang
tetap utuh. Ketika anak tahu bahwa ia tetap diterima, ia lebih mudah kembali
pada jalur yang benar.
Sebagai orang tua atau pendidik,
kita tidak sedang mengejar kesempurnaan anak. Kita sedang membimbing proses
belajarnya menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Bagaimana caranya memberitahu
orang tua semacam kampanye atau belajar parenting tentang aturan ini
Memberi pemahaman kepada orang
tua tentang pentingnya aturan perlu dilakukan dengan pendekatan yang bijak dan
menyentuh hati. Banyak orang tua sebenarnya ingin mendidik dengan baik, hanya
saja belum memiliki referensi atau pengalaman yang cukup.
Pertama, mulai dari bahasa yang
membumi. Hindari istilah yang terlalu teoritis. Gunakan contoh keseharian.
Misalnya, anak yang terbiasa tidur teratur biasanya lebih mudah bangun sekolah
dan emosinya lebih stabil. Orang tua lebih mudah tersentuh ketika melihat
manfaat yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.
Kedua, gunakan cerita dan
pengalaman nyata. Kisah sederhana tentang perubahan perilaku anak setelah
aturan diterapkan dengan konsisten jauh lebih kuat daripada sekadar teori.
Cerita membuat orang tua merasa terhubung dan tidak dihakimi.
Ketiga, kemas dalam bentuk kegiatan
yang ramah dan hangat. Bisa melalui pertemuan wali murid, kajian keluarga, grup
WhatsApp sekolah, atau kelas parenting singkat. Buat suasana dialogis, bukan
menggurui. Beri ruang bagi orang tua untuk berbagi tantangan mereka.
Keempat, sampaikan bahwa aturan
adalah bentuk kasih sayang. Banyak orang tua mengira kelembutan berarti
membiarkan. Padahal, batas yang sehat justru membuat anak merasa aman. Tekankan
bahwa tegas dan hangat bisa berjalan bersama.
Kelima, berikan panduan praktis. Misalnya:
– Buat 3–5 aturan inti di rumah
– Sepakati konsekuensi yang jelas
– Terapkan konsisten
– Evaluasi bersama anak setiap minggu
Orang tua lebih mudah bergerak
ketika diberi langkah konkret.
Jika Ibu sebagai pendidik ingin membuat kampanye, bisa
dibuat tema sederhana seperti:
“Rumah yang Hangat Punya Batas yang Jelas”
atau
“Aturan Hari Ini, Karakter Esok Hari. Atau kita bisa melakukan keduanya sekaligus?"
Pendekatan yang empatik dan tidak
menyalahkan akan lebih mudah diterima. Tujuannya bukan membuat orang tua merasa
kurang, melainkan menguatkan mereka bahwa mendidik dengan aturan adalah
investasi jangka panjang bagi masa depan anak.
Aturan dalam pengasuhan adalah
fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Aturan menghadirkan rasa aman,
membentuk tanggung jawab, melatih kontrol diri, serta menanamkan nilai moral
dan sosial sejak dini. Ia perlu diterapkan sejak awal kehidupan, disesuaikan
dengan tahap perkembangan anak, dan ditegakkan secara konsisten.
Ketika aturan dilanggar, respons
orang tua sebaiknya tenang dan reflektif. Pelanggaran sering menjadi sinyal
adanya kebutuhan emosional atau perubahan dalam diri anak. Konsekuensi tetap
berjalan, kasih sayang tetap utuh. Pendekatan hangat dan tegas membantu anak
belajar tanpa merasa ditolak.
Dalam konteks yang lebih luas,
edukasi kepada orang tua tentang pentingnya aturan perlu dilakukan dengan
empati. Bahasa yang sederhana, contoh nyata, suasana dialogis, serta panduan
praktis akan membuat pesan lebih mudah diterima. Kampanye parenting yang
menyentuh hati dapat menguatkan kesadaran bahwa batas yang jelas adalah bentuk
cinta yang bertanggung jawab.
Intinya, aturan hari ini membentuk karakter esok hari. Pengasuhan yang konsisten dan penuh kehangatan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak. []
