Ada beberapa
kemungkinan yang sering terjadi.
Pertama, memilih
jurusan bukan dari kesadaran diri, melainkan karena tekanan atau dorongan luar.
Bisa karena orang tua, tren, gengsi, atau sekadar “yang penting kuliah dulu”.
Saat usia 17–18 tahun, banyak anak belum benar-benar mengenal dirinya. Mereka belum
paham minat sejatinya, gaya belajarnya, bahkan belum memahami kekuatan dan
kelemahan diri sendiri. Maka ketika masuk semester tiga atau empat, saat materi
makin spesifik dan menuntut kedalaman, barulah muncul rasa: “Ini bukan aku.”
Kedua,
ekspektasi tidak sesuai dengan realitas. Ada yang masuk jurusan karena bayangan
indah tentang profesi tertentu. Tetapi ketika perkuliahan berjalan, ternyata
isinya lebih banyak teori, statistik, hitungan, atau praktik yang tidak ia
nikmati. Gambaran yang dulu romantis berubah menjadi rutinitas yang melelahkan.
Ketiga,
perkembangan identitas. Pada usia mahasiswa, seseorang sedang berada dalam fase
pencarian jati diri. Nilai hidup bisa berubah. Minat bisa bergeser. Seseorang
yang dulu ingin menjadi insinyur, misalnya, tiba-tiba menemukan ketertarikan
besar pada dunia psikologi, pendidikan, atau seni setelah terpapar pengalaman
baru. Ini bukan inkonsistensi. Ini dinamika pertumbuhan.
Keempat,
lingkungan belajar yang tidak nyaman. Bukan jurusannya yang salah, tetapi
budaya akademiknya, metode mengajarnya, atau tekanan kompetisi yang terlalu
tinggi membuat seseorang kehilangan rasa aman. Lama-lama ia mengira dirinya
tidak cocok dengan bidangnya, padahal mungkin ia hanya tidak cocok dengan
suasana yang ia alami.
Kelima,
kelelahan mental. Ada mahasiswa yang sebenarnya mampu, tetapi mengalami
burnout. Tugas menumpuk, tuntutan tinggi, kurang dukungan emosional. Dalam
kondisi lelah, apa pun terasa salah. Jurusan pun menjadi kambing hitam dari
rasa capek yang tak terurai.
Dan ada satu hal
yang jarang dibicarakan: kadang seseorang merasa tidak cocok karena ia belum
menemukan makna. Ketika belajar hanya untuk nilai, IPK, atau kelulusan, bukan
untuk pemahaman dan kontribusi, maka jurusan sehebat apa pun akan terasa hampa.
Namun penting
juga membedakan antara “tidak cocok” dan “tidak nyaman sementara”. Tidak nyaman
bisa jadi fase adaptasi. Tidak cocok adalah ketika, setelah refleksi jujur dan
cukup waktu mencoba, hati tetap terasa asing.
Jika merasa
tidak cocok apa yang harus dilakukan, bagaimana memutuskannya. Bisa saja ini
hanya bosan sesaat?
Kalau seorang
mahasiswa merasa tidak cocok, jangan langsung mengambil keputusan besar. Jangan
pula langsung menekan perasaan itu. Yang pertama dilakukan adalah berhenti
sejenak dan jujur pada diri sendiri.
Coba beri jarak
waktu. Misalnya satu semester penuh untuk benar-benar mengamati. Apakah rasa
tidak nyaman itu muncul setiap hari, setiap kali masuk kelas, setiap kali
mengerjakan tugas? Atau hanya muncul saat tugas menumpuk dan badan lelah? Kalau
hanya muncul saat stres, bisa jadi itu bukan soal jurusan, tapi soal manajemen
energi dan tekanan.
Lalu tanyakan
pada diri sendiri beberapa hal penting.
Apakah saya
tidak suka proses belajarnya, atau saya tidak suka hasil yang akan saya jalani
nanti?
Apakah saya masih bisa menikmati satu atau dua mata kuliah, atau semuanya
terasa asing?
Apakah saya pernah mencoba belajar dengan cara berbeda?
Sering kali rasa
“tidak cocok” sebenarnya adalah rasa tidak percaya diri. Materi makin sulit,
teman-teman terlihat lebih cepat paham, lalu muncul pikiran: “Mungkin ini bukan
tempatku.” Padahal itu bisa saja fase adaptasi menuju kedewasaan akademik.
Langkah
berikutnya adalah berbicara. Bukan ke teman yang sama-sama bingung, tetapi ke
dosen pembimbing akademik, konselor kampus, atau orang dewasa yang netral.
Perspektif luar sering membantu melihat apakah ini krisis sementara atau sinyal
serius.
Jika setelah
refleksi, mencoba memperbaiki pola belajar, mengatur ulang ritme hidup, dan
memberi waktu yang cukup, perasaan asing itu tetap kuat dan konsisten—bahkan
ketika kondisi sudah stabil—maka itu perlu dipertimbangkan lebih dalam.
Terutama jika jurusan tersebut benar-benar bertentangan dengan nilai hidup dan
minat utama.
Namun keputusan
pindah jurusan atau ikut ujian masuk lagi bukan hanya soal perasaan. Ia harus
dipikirkan secara realistis. Bagaimana kesiapan mental? Bagaimana kesiapan
finansial? Bagaimana rencana jangka panjangnya? Jangan pindah hanya karena
ingin lari, tapi pindah karena sudah yakin ingin menuju sesuatu.
Cara paling aman
memutuskan adalah dengan tiga langkah ini: refleksi jujur, uji waktu, dan
diskusi terbuka. Jika setelah tiga hal itu dilakukan dan hati tetap mantap,
biasanya keputusan terasa lebih tenang, bukan panik.
Karena keputusan
yang lahir dari emosi sesaat terasa mendesak dan gelisah.
Sedangkan keputusan yang lahir dari kesadaran terasa berat, tetapi damai.
Dan damai itu
biasanya pertanda kita tidak sedang lari. Kita sedang memilih.
Mencoba
bertahan dan mengikuti perkuliahan sampai akhir bukan juga pilihan yang salah.
banyak juga kemudian berhasil jadi sarjana dan juga memilih bekerja di
bidangnya
Betul sekali.
Bertahan dan menyelesaikan sampai akhir juga bukan pilihan yang salah. Bahkan
dalam banyak kasus, itu justru menjadi keputusan yang matang dan membuahkan
hasil yang baik.
Ada mahasiswa
yang di semester tiga merasa jenuh, merasa salah jurusan, merasa tertinggal.
Tetapi ia memilih bertahan. Ia memperbaiki cara belajar, memperluas relasi,
mulai mencari sisi menarik dari bidangnya. Perlahan, rasa asing itu berubah
menjadi akrab. Yang dulu terasa berat menjadi tantangan yang bisa ditaklukkan.
Dan ketika wisuda tiba, ia tidak hanya membawa gelar, tetapi juga ketahanan
mental.
Banyak pula yang
akhirnya bekerja di bidang yang sama dengan jurusannya dan justru menemukan
makna setelah terjun langsung ke dunia kerja. Kadang yang tidak kita sukai saat
belajar, ternyata menjadi sesuatu yang kita pahami dan kuasai setelah praktik.
Ada perbedaan besar antara belajar teori dan menjalani profesi secara nyata.
Bertahan juga
melatih satu hal penting: komitmen. Hidup tidak selalu tentang mencari yang
paling nyaman, tetapi tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Tidak semua
ketidaknyamanan adalah tanda untuk pindah. Ada yang memang harus dilalui agar
kita tumbuh.
Namun bertahan
yang sehat berbeda dengan bertahan karena takut. Bertahan yang sehat lahir dari
keputusan sadar: “Saya mungkin tidak jatuh cinta, tapi saya mampu dan saya mau
menuntaskan ini.” Itu berbeda dengan bertahan karena tertekan, merasa tidak
punya pilihan, atau terus-menerus merasa terpaksa.
Pindah maupun
bertahan, keduanya bisa menjadi jalan yang benar—tergantung alasan di baliknya.
Yang penting bukan sekadar lulus cepat atau pindah cepat, tetapi apakah
keputusan itu membuat seseorang bertumbuh.
Karena hidup
bukan hanya tentang menemukan jurusan yang tepat.
Kadang hidup adalah tentang belajar menjadi pribadi yang kuat di jurusan yang
awalnya terasa tidak tepat.[]
