Waktu SMA dulu, aku punya seorang teman laki-laki.
Sebut saja namanya Sofyan. Ia tidak tinggi, setidaknya tidak sesuai dengan
standar “ideal” yang sering dilekatkan pada tubuh laki-laki. Namun ada satu hal
yang langsung terasa ketika ia hadir di sebuah ruangan: kepercayaan dirinya.
Sofyan pintar, dan di mataku ia juga gagah—bukan karena fisiknya, melainkan
karena caranya membawa diri. Ia berjalan tegap, dada sedikit dibusungkan,
langkahnya mantap, seolah ia tahu betul ke mana ia pergi dan apa yang ia tuju.
Suatu hari, di mading sekolah, Sofyan menuliskan
sebuah catatan sederhana tentang cara meningkatkan kepercayaan diri. Tidak ada
teori rumit, tidak ada istilah psikologis yang berat. Hanya tips-tips kecil
yang tampak sepele, tetapi jika diperhatikan, justru itulah yang ia praktikkan
setiap hari.
Menurut Sofyan, kepercayaan diri bisa dimulai dari
cara berjalan. Ia menyarankan agar berjalan dengan dada sedikit dibusungkan,
bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk memberi pesan pada tubuh bahwa
kita berdiri kokoh. Postur tubuh, katanya, bukan hanya soal penampilan, tapi
juga cara kita berkomunikasi dengan diri sendiri. Ketika tubuh tegak, pikiran
ikut menyesuaikan.
Tips kedua adalah menambah sedikit kecepatan
langkah, kira-kira setengah kali lebih cepat dari biasanya. Orang yang terlalu
lambat sering terlihat ragu, seolah tidak yakin dengan arah yang dituju.
Langkah yang lebih mantap memberi kesan bahwa kita punya tujuan, meski
sebenarnya kita masih belajar mencarinya.
Yang ketiga, pandangan diarahkan lurus ke depan.
Bukan menatap tajam, bukan pula menunduk ke tanah. Pandangan ke depan membuat
kita hadir di ruang publik tanpa rasa ingin bersembunyi. Dunia terasa lebih
setara ketika kita berani menatapnya.
Tips keempat berkaitan dengan cara membawa kepala
dan tubuh saat berinteraksi. Sofyan menulis agar tidak menundukkan kepala saat
berbicara dengan orang lain. Sejajarkan posisi kepala, dengarkan, dan
berbicaralah dengan tenang. Sikap ini bukan tentang dominasi, melainkan tentang
menghargai diri sendiri sebagai seseorang yang layak didengar.
Terakhir, ia menyarankan untuk membuka bahasa
tubuh. Hindari menyilangkan tangan di dada atau terus-menerus menyembunyikan
tangan di saku. Tubuh yang terbuka menciptakan kesan aman, baik bagi orang lain
maupun bagi diri sendiri. Tanpa disadari, tubuh yang terbuka membantu kita
merasa lebih diterima.
Kini, bertahun-tahun setelah lulus SMA, aku
menyadari bahwa catatan Sofyan di mading itu bukan sekadar tips remaja. Ia
adalah pelajaran tentang bagaimana kepercayaan diri sering kali tidak lahir
dari kata-kata motivasi besar, melainkan dari keputusan-keputusan kecil yang
kita ulang setiap hari. Cara kita berjalan, menatap, dan berdiri—semuanya
perlahan membentuk cara kita memandang diri sendiri.
Seiring bertambahnya usia, aku semakin paham
mengapa catatan Sofyan di mading itu begitu membekas. Ia bukan sedang
mengajarkan cara terlihat hebat, melainkan cara hadir dengan utuh sebagai diri
sendiri. Barangkali karena itulah, tanpa sadar, aku sering membandingkannya
dengan sebagian laki-laki yang kutemui kemudian—mereka yang tubuhnya mungkin
lebih tinggi, penampilannya rapi, tetapi cara berjalan dan berbicaranya terasa
ragu, terlalu menutup, bahkan seperti meminta maaf pada ruang yang sedang ia
masuki.
Aku menyadari, penilaianku ini sangat subjektif.
Ada bias pribadi di sana. Namun bagiku, kepercayaan diri selalu berkaitan
dengan ketegasan sikap, bukan semata suara atau gestur yang terlalu
dibuat-buat. Nada yang terlalu gemulai, langkah yang setengah hati, atau bahasa
tubuh yang seolah ingin mengecilkan diri sendiri justru membuat pesan kehadiran
seseorang terasa melemah—bukan karena ia salah, tetapi karena ia tampak belum
berdamai dengan dirinya.
Di titik ini, tips Sofyan terasa relevan kembali.
Ia tidak pernah bicara tentang menjadi maskulin atau feminin. Ia hanya
menekankan satu hal: jangan meminta izin untuk menjadi diri sendiri. Ketika
seseorang berjalan tegap, menatap lurus ke depan, dan membuka tubuhnya, ia
sedang berkata pada dunia—dan pada dirinya—bahwa ia tidak malu berada di sana.
Mungkin inilah yang dulu secara naluriah kurasakan pada Sofyan. Bukan soal tinggi badan, bukan pula soal gaya bicara, melainkan tentang keberanian untuk tidak menyusutkan diri. Dan bagiku, kepercayaan diri memang sering kali terasa “menjijikkan” ketika dibuat-buat—ketika ia berubah menjadi gestur kosong yang tidak lahir dari penerimaan diri. Sebab percaya diri yang sejati tidak berisik, tidak berlebihan, dan tidak perlu topeng. Ia tenang, tegap, dan jujur. []
