Oleh: Siti Hajar
Ini tentang Buku Ikigai karya Héctor García & Francesc
Miralles dan kaitannya dengan belajar Psikologi
Di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin kompleks dan penuh
tantangan, manusia dihadapkan pada kebutuhan untuk menemukan keseimbangan
antara pencapaian, kesejahteraan emosional, dan makna hidup yang berkelanjutan.
Dalam konteks inilah buku Ikigai hadir sebagai sebuah karya inspiratif
yang menawarkan perspektif baru mengenai tujuan hidup melalui lensa budaya
Jepang yang kaya akan nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal.
Konsep ikigai dijelaskan sebagai sebuah kerangka holistik yang mencakup
berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari minat pribadi, kemampuan individu,
kontribusi terhadap masyarakat, hingga keberlanjutan ekonomi. Dengan memahami
ikigai, individu diharapkan mampu mengoptimalkan potensi diri secara menyeluruh
dan membangun kehidupan yang lebih seimbang serta bermakna dalam jangka
panjang.
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki ketertarikan pada bidang seni
dapat mengembangkan kemampuannya secara konsisten, lalu mengaitkannya dengan
kebutuhan sosial yang relevan. Dalam proses tersebut, individu tidak hanya
mencapai kepuasan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi
lingkungan sekitarnya. Contoh lain dapat ditemukan pada individu yang bekerja
di bidang pelayanan publik, di mana dedikasi dan konsistensi dipandang sebagai
elemen penting dalam membangun rasa tujuan dan kebermaknaan hidup.
Buku ini juga menyoroti pentingnya kebiasaan sehari-hari sebagai fondasi
utama dalam menciptakan kualitas hidup yang optimal. Melalui praktik sederhana
seperti menjaga pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik secara teratur,
serta membangun hubungan sosial yang sehat, individu dapat meningkatkan
kesejahteraan fisik dan mental secara berkelanjutan. Pendekatan ini menunjukkan
bahwa perubahan besar tidak selalu diperlukan untuk mencapai kehidupan yang
lebih baik, selama individu mampu menerapkan kebiasaan positif secara
konsisten.
Dalam pembahasan mengenai kebahagiaan, Ikigai menekankan bahwa
kebahagiaan tidak semata-mata dipahami sebagai kondisi emosional sementara.
Kebahagiaan diposisikan sebagai hasil dari proses panjang yang melibatkan
kesadaran diri, pengelolaan emosi, dan kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan. Sebagai ilustrasi, individu yang mampu menemukan kepuasan dalam
aktivitas rutin seperti bekerja, belajar, atau berinteraksi dengan orang lain
cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih stabil dibandingkan mereka
yang hanya berfokus pada pencapaian eksternal.
Selain itu, buku ini menggarisbawahi peran penting hubungan sosial dalam
membangun kehidupan yang bermakna. Keterhubungan dengan keluarga, teman, dan
komunitas dipandang sebagai faktor krusial yang mendukung kesehatan mental dan
emosional. Dalam hal ini, konsep kebersamaan dan dukungan sosial menjadi bagian
integral dari ikigai, karena manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial
yang membutuhkan interaksi dan rasa memiliki.
Dari sudut pandang kesehatan, Ikigai menawarkan pendekatan yang
moderat dan berimbang. Penulis tidak mendorong praktik ekstrem, melainkan
mengajak pembaca untuk menerapkan gaya hidup yang selaras dengan kemampuan dan
kondisi masing-masing individu. Misalnya, menjaga pola makan secukupnya, menghindari
perilaku berlebihan, serta mengelola stres melalui aktivitas yang menenangkan.
Pendekatan ini dianggap relevan dalam menghadapi tekanan kehidupan modern yang
sering kali menuntut performa tinggi secara terus-menerus.
Secara keseluruhan, buku Ikigai memberikan wawasan komprehensif
mengenai bagaimana individu dapat membangun kehidupan yang bermakna melalui
pemahaman diri, pengembangan potensi, dan keterlibatan sosial. Dengan
mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dan pendekatan kontemporer, buku ini
menjadi referensi yang relevan bagi siapa pun yang ingin meningkatkan kualitas
hidup secara menyeluruh dan berkelanjutan di tengah tantangan zaman.
Pembahasan dalam buku Ikigai menunjukkan bahwa makna hidup bukan
sekadar tema filosofis atau budaya, melainkan faktor psikologis yang nyata
dalam menjaga keberfungsian individu. Cara orang Okinawa memaknai aktivitas
sederhana, mempertahankan peran sosial, dan merawat keterhubungan memberi
gambaran bahwa kesehatan mental tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari
rasa berarti yang terus dipelihara. Dari titik inilah konsep ikigai menjadi
relevan untuk ditinjau lebih jauh dalam konteks psikologi, khususnya bagi calon
psikolog yang kelak berhadapan dengan individu-individu yang kehilangan arah,
motivasi, atau alasan untuk terus bertahan dalam hidup.
Ikigai merupakan konsep psikologis-kultural yang berasal dari Jepang dan
sering diterjemahkan sebagai alasan hidup atau makna yang membuat seseorang
ingin terus menjalani kehidupannya. Bagi calon psikolog, ikigai tidak cukup
dipahami sebagai konsep populer tentang kebahagiaan atau karier, melainkan
sebagai kerangka pemahaman tentang motivasi hidup, keberfungsian psikologis,
dan ketahanan mental individu sepanjang rentang kehidupan.
Dalam konteks psikologi, ikigai berkaitan erat dengan makna hidup (meaning
in life), motivasi intrinsik, dan kesejahteraan psikologis (psychological
well-being). Ikigai tidak selalu berhubungan dengan pencapaian besar atau
tujuan jangka panjang yang ambisius. Pada banyak individu, ikigai justru hadir
dalam aktivitas sederhana yang dijalani secara konsisten dan dirasakan bermakna
secara personal. Pemahaman ini penting bagi calon psikolog agar tidak terjebak
pada definisi makna hidup yang sempit dan normatif.
Ikigai juga membantu calon psikolog memahami bahwa kesehatan mental tidak
selalu identik dengan perasaan bahagia. Banyak individu tetap berfungsi secara
sehat meskipun hidupnya diwarnai tekanan, kesedihan, atau keterbatasan, selama
mereka merasa hidupnya berarti dan memiliki alasan untuk terus bergerak. Dalam
hal ini, ikigai lebih dekat dengan konsep eudaimonic well-being daripada
hedonic well-being. Psikolog perlu mampu membedakan antara pencarian
kesenangan dan pencarian makna, terutama dalam praktik klinis.
Dalam asesmen psikologis, ikigai dapat dipahami sebagai bagian dari
sumber daya psikologis individu. Seseorang yang memiliki ikigai cenderung
menunjukkan ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi stres, kehilangan, dan
perubahan hidup. Bagi lansia, ikigai sering berkaitan dengan peran sosial dan
rasa dibutuhkan. Bagi dewasa muda, ikigai dapat muncul dalam proses belajar,
bekerja, atau membangun relasi. Calon psikolog perlu peka bahwa hilangnya
ikigai sering kali menjadi latar belakang masalah psikologis seperti depresi,
kelelahan hidup, dan perasaan hampa.
Ikigai juga relevan dalam psikologi perkembangan. Sepanjang hidup, ikigai
tidak bersifat statis. Ia dapat berubah seiring perubahan peran, kondisi fisik,
dan konteks sosial. Pemahaman ini mencegah psikolog memaksakan tujuan hidup
tertentu kepada klien. Tugas psikolog bukan menentukan apa ikigai seseorang,
melainkan membantu individu mengenali, merawat, atau membangun kembali ikigai
yang sesuai dengan fase hidupnya.
Bagi calon psikolog, ikigai juga penting secara reflektif. Profesi
psikologi menuntut keterlibatan emosional, empati, dan konsistensi jangka
panjang. Tanpa ikigai pribadi yang sehat, risiko kelelahan profesional (burnout)
menjadi tinggi. Oleh karena itu, memahami ikigai bukan hanya relevan untuk
klien, tetapi juga untuk keberlangsungan diri psikolog itu sendiri.
Dengan demikian, ikigai perlu dipahami sebagai konsep lintas budaya yang memperkaya pemahaman psikologi tentang makna hidup, motivasi, dan kesehatan mental. Calon psikolog yang memahami ikigai secara mendalam akan lebih mampu melihat manusia sebagai makhluk yang hidup dari makna sebagai manusia.[]
