Oleh: Siti Hajar
Tidak ada orang yang tidak ingin terlihat keren di
tempat kerja. Kita semua ingin dihargai, diakui, dan dianggap profesional.
Namun, terlihat keren bukan berarti mencari muka, menjilat atasan, atau
melakukan hal-hal yang melanggar integritas. Keren yang sesungguhnya lahir dari
kualitas diri—cara berpikir, cara bersikap, dan cara bekerja.
Menjadi pribadi yang menyenangkan dan profesional
bukan hanya menguntungkan atasan, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang
nyaman. Ketika suasana kerja nyaman, semangat meningkat. Saat semangat
meningkat, target pribadi dan target perusahaan pun lebih mudah tercapai.
Profesionalisme itu menular. Energi positif juga demikian.
Jika kamu ingin terlihat keren—dalam arti yang
elegan dan bermartabat—di mata atasan dan rekan kerja, ada beberapa hal yang
bisa kamu lakukan.
Pertama, jadilah pribadi yang bisa diandalkan.
Kerjakan tugas sesuai tanggung jawab dan fungsi (tupoksi) dengan
sungguh-sungguh. Hindari kesalahan fatal yang sebenarnya bisa dicegah. Jika
belum memahami instruksi, jangan pura-pura mengerti. Lebih baik berkata, “Boleh
dijelaskan kembali?” atau “Saya akan pelajari dulu dan segera update.” Kalimat
seperti ini menunjukkan tanggung jawab, bukan kelemahan. Profesional sejati
bukan yang selalu bisa, tetapi yang selalu mau belajar.
Kedua, miliki empati. Empati tidak bisa
dibuat-buat. Ia lahir dari hati yang peduli. Ketika atasan atau rekan kerja
sedang menghadapi masalah, ucapkan dukungan dengan tulus. Kadang kalimat
sederhana seperti, “Saya turut prihatin. Jika ada yang bisa saya bantu, kabari
ya,” sudah sangat berarti. Lingkungan kerja bukan hanya soal target, tetapi
juga tentang manusia yang saling mendukung.
Ketiga, akui kesalahan. Ini ciri orang dewasa.
Mengakui kesalahan tidak membuatmu terlihat lemah, justru menunjukkan
kematangan. Semua orang bisa salah, tetapi tidak semua orang berani
mengakuinya. Yang terpenting adalah tidak mengulang kesalahan yang sama dan
berkomitmen untuk memperbaiki diri.
Keempat, ucapkan maaf dengan tulus. Kata “maaf”
adalah kata sederhana yang berdampak besar. Gunakan dengan bijak. Tidak perlu
berlebihan, tetapi ketika memang melakukan kesalahan atau belum maksimal dalam
bekerja, ucapkan dengan sungguh-sungguh. Lalu buktikan dengan perbaikan nyata,
bukan sekadar janji.
Kelima, bangun komunikasi yang terbuka dengan
atasan. Banyak miskomunikasi terjadi karena bawahan terlalu tertutup atau
atasan merasa tidak mengenal timnya. Tidak semua hal harus diceritakan, tentu
saja. Namun, komunikasi yang sehat dan jujur akan menciptakan rasa saling
percaya. Jangan terlalu menjaga jarak hingga dianggap sulit didekati.
Keenam, hargai pimpinanmu. Apa pun gaya
kepemimpinannya, tetap jaga sopan santun dan etika profesional. Menghargai
atasan bukan berarti tunduk tanpa berpikir, tetapi menunjukkan adab dalam
bekerja. Sikap hormat akan kembali dalam bentuk penghargaan. Jika ternyata
lingkungan kerja penuh dengan sikap tidak saling menghargai, mungkin itu
saatnya mengevaluasi pilihan kariermu. Karena bekerja bukan hanya soal gaji,
tetapi juga soal kenyamanan dan pertumbuhan diri.
Ketujuh, miliki
sense of humor yang sehat. Tempat
kerja yang terlalu tegang bisa melelahkan. Sedikit humor ringan yang tepat
situasi dapat mencairkan suasana. Namun ingat, humor yang cerdas dan tidak
menyinggung siapa pun. Keren itu tahu kapan serius dan kapan santai.
Terlihat keren di tempat kerja
bukan soal penampilan luar semata. Ini tentang integritas, empati,
profesionalisme, dan kemampuan beradaptasi. Keren adalah ketika orang lain
merasa nyaman bekerja bersamamu. Keren adalah ketika namamu disebut dengan rasa
hormat, bukan sekadar formalitas.
Semangat bekerja. Wujudkan mimpimu sendiri, lalu bantu orang lain mewujudkan mimpi mereka. Terus bertumbuh. Terus memperbaiki diri. Karena versi terbaik dari dirimu adalah proyek seumur hidup.[]
