Ingin Terlihat Keren di Tempat Kerja? Lakukan Ini!

Oleh: Siti Hajar

Tidak ada orang yang tidak ingin terlihat keren di tempat kerja. Kita semua ingin dihargai, diakui, dan dianggap profesional. Namun, terlihat keren bukan berarti mencari muka, menjilat atasan, atau melakukan hal-hal yang melanggar integritas. Keren yang sesungguhnya lahir dari kualitas diri—cara berpikir, cara bersikap, dan cara bekerja.

Menjadi pribadi yang menyenangkan dan profesional bukan hanya menguntungkan atasan, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. Ketika suasana kerja nyaman, semangat meningkat. Saat semangat meningkat, target pribadi dan target perusahaan pun lebih mudah tercapai. Profesionalisme itu menular. Energi positif juga demikian.

Jika kamu ingin terlihat keren—dalam arti yang elegan dan bermartabat—di mata atasan dan rekan kerja, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan.

Pertama, jadilah pribadi yang bisa diandalkan. Kerjakan tugas sesuai tanggung jawab dan fungsi (tupoksi) dengan sungguh-sungguh. Hindari kesalahan fatal yang sebenarnya bisa dicegah. Jika belum memahami instruksi, jangan pura-pura mengerti. Lebih baik berkata, “Boleh dijelaskan kembali?” atau “Saya akan pelajari dulu dan segera update.” Kalimat seperti ini menunjukkan tanggung jawab, bukan kelemahan. Profesional sejati bukan yang selalu bisa, tetapi yang selalu mau belajar.

Kedua, miliki empati. Empati tidak bisa dibuat-buat. Ia lahir dari hati yang peduli. Ketika atasan atau rekan kerja sedang menghadapi masalah, ucapkan dukungan dengan tulus. Kadang kalimat sederhana seperti, “Saya turut prihatin. Jika ada yang bisa saya bantu, kabari ya,” sudah sangat berarti. Lingkungan kerja bukan hanya soal target, tetapi juga tentang manusia yang saling mendukung.

Ketiga, akui kesalahan. Ini ciri orang dewasa. Mengakui kesalahan tidak membuatmu terlihat lemah, justru menunjukkan kematangan. Semua orang bisa salah, tetapi tidak semua orang berani mengakuinya. Yang terpenting adalah tidak mengulang kesalahan yang sama dan berkomitmen untuk memperbaiki diri.

Keempat, ucapkan maaf dengan tulus. Kata “maaf” adalah kata sederhana yang berdampak besar. Gunakan dengan bijak. Tidak perlu berlebihan, tetapi ketika memang melakukan kesalahan atau belum maksimal dalam bekerja, ucapkan dengan sungguh-sungguh. Lalu buktikan dengan perbaikan nyata, bukan sekadar janji.

Kelima, bangun komunikasi yang terbuka dengan atasan. Banyak miskomunikasi terjadi karena bawahan terlalu tertutup atau atasan merasa tidak mengenal timnya. Tidak semua hal harus diceritakan, tentu saja. Namun, komunikasi yang sehat dan jujur akan menciptakan rasa saling percaya. Jangan terlalu menjaga jarak hingga dianggap sulit didekati.

Keenam, hargai pimpinanmu. Apa pun gaya kepemimpinannya, tetap jaga sopan santun dan etika profesional. Menghargai atasan bukan berarti tunduk tanpa berpikir, tetapi menunjukkan adab dalam bekerja. Sikap hormat akan kembali dalam bentuk penghargaan. Jika ternyata lingkungan kerja penuh dengan sikap tidak saling menghargai, mungkin itu saatnya mengevaluasi pilihan kariermu. Karena bekerja bukan hanya soal gaji, tetapi juga soal kenyamanan dan pertumbuhan diri.

Ketujuh, miliki sense of humor yang sehat. Tempat kerja yang terlalu tegang bisa melelahkan. Sedikit humor ringan yang tepat situasi dapat mencairkan suasana. Namun ingat, humor yang cerdas dan tidak menyinggung siapa pun. Keren itu tahu kapan serius dan kapan santai.

Terlihat keren di tempat kerja bukan soal penampilan luar semata. Ini tentang integritas, empati, profesionalisme, dan kemampuan beradaptasi. Keren adalah ketika orang lain merasa nyaman bekerja bersamamu. Keren adalah ketika namamu disebut dengan rasa hormat, bukan sekadar formalitas.

Semangat bekerja. Wujudkan mimpimu sendiri, lalu bantu orang lain mewujudkan mimpi mereka. Terus bertumbuh. Terus memperbaiki diri. Karena versi terbaik dari dirimu adalah proyek seumur hidup.[]

Lebih baru Lebih lama