Oleh: Siti Hajar
Mengenal diri sendiri secara psikologis menyentuh
wilayah yang lebih dalam daripada sekadar mengetahui hobi atau makanan favorit.
Ia berkaitan dengan cara kita berpikir, cara kita merasakan sesuatu, cara kita
merespons tekanan, bahkan cara kita membangun kedekatan dengan orang lain. Di
sanalah kualitas hidup banyak ditentukan.
Banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar.
Pekerjaan berjalan, peran sosial terpenuhi, tanggung jawab dilakukan. Namun di
dalam dirinya sering terjadi kebingungan yang tak terucap. Mengapa komentar
kecil bisa merusak suasana hati seharian? Mengapa konflik sederhana terasa
seperti ancaman besar? Mengapa dalam relasi tertentu selalu muncul rasa tidak
aman yang sama?
Jawabannya sering tersembunyi pada pola psikologis
yang tidak disadari.
Sejak kecil, setiap orang membentuk cara berpikir
dan merasakan berdasarkan pengalaman hidupnya. Cara orang tua merespons emosi
kita, lingkungan sekolah, peristiwa menyakitkan, pujian, penolakan—semuanya
meninggalkan jejak. Jejak itulah yang membentuk pola. Pola cara melihat diri,
pola cara melihat orang lain, dan pola cara menghadapi masalah.
Tanpa kesadaran diri, pola itu bekerja otomatis.
Kita bereaksi sebelum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam
diri. Kita marah padahal yang muncul adalah rasa takut. Kita menarik diri
padahal yang kita butuhkan adalah rasa aman. Kita keras pada orang lain karena
terlalu keras pada diri sendiri.
Mengenal diri secara psikologis membantu kita
keluar dari mode reaktif. Dalam psikologi, ini disebut sebagai
self-awareness—kemampuan untuk menyadari apa yang sedang terjadi di dalam
pikiran dan emosi kita. Kesadaran ini menjadi fondasi regulasi diri. Ketika
seseorang tahu bahwa ia mudah cemas dalam situasi tertentu, ia bisa menyiapkan
strategi untuk menenangkan diri. Ketika ia memahami bahwa kritik memicu luka
lama, ia dapat membedakan antara fakta dan interpretasi pribadi.
Kesadaran diri membuat respons menjadi pilihan,
bukan ledakan spontan.
Lebih jauh lagi, pemahaman psikologis tentang diri
membantu kita mengelola emosi secara sehat. Emosi bukan musuh. Marah memberi
sinyal bahwa ada batas yang perlu ditegaskan. Sedih menandakan adanya
kehilangan. Cemas memberi peringatan akan potensi ancaman. Namun tanpa
pemahaman, emosi dapat menguasai perilaku. Kita berbicara dengan nada tinggi,
membuat keputusan tergesa, atau menyimpan dendam yang pelan-pelan menggerogoti
relasi.
Orang yang mengenal dirinya tidak mematikan emosi.
Ia belajar membaca pesan di baliknya. Ia bertanya, “Apa yang sebenarnya aku
rasakan? Apa kebutuhanku saat ini?” Pertanyaan sederhana ini mampu mengubah
arah konflik menjadi dialog yang lebih tenang.
Mengenal diri juga berkaitan dengan kejelasan
nilai hidup. Banyak kelelahan batin muncul karena kita menjalani sesuatu yang
tidak selaras dengan nilai terdalam. Kita mengejar pencapaian karena tekanan
sosial. Kita mengatakan iya padahal hati ingin menolak. Lama-kelamaan muncul
rasa hampa yang sulit dijelaskan.
Ketika seseorang memahami dirinya—nilai yang ia
pegang, batas yang ia miliki, kapasitas emosinya—keputusan menjadi lebih
jernih. Ia tidak mudah terbawa arus perbandingan. Ia tahu apa yang penting dan
apa yang bisa dilepaskan. Hidup terasa lebih utuh karena dijalani dengan
kesadaran, bukan sekadar rutinitas.
Menariknya, semakin dalam seseorang mengenal
dirinya, semakin luas pula empatinya terhadap orang lain. Ia menyadari bahwa
setiap orang membawa sejarah psikologis masing-masing. Ada yang tumbuh dalam
kritik keras, ada yang dibesarkan dengan ketidakpastian, ada yang terbiasa
menyembunyikan emosi agar diterima. Kesadaran ini menumbuhkan kelembutan dalam
berinteraksi.
Relasi menjadi lebih sehat ketika kita tidak lagi
bereaksi dari luka lama.
Perjalanan mengenal diri memang membutuhkan
keberanian. Ada sisi yang perlu diterima dengan jujur. Ada pola yang perlu
diubah dengan sabar. Ada luka yang perlu diproses perlahan. Namun di sanalah
kedewasaan psikologis bertumbuh. Kita berhenti menyalahkan keadaan dan mulai
mengambil tanggung jawab atas respons kita sendiri.
Pada akhirnya, mengenal diri secara psikologis
adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan mental. Ia membantu kita
mengelola stres, memperbaiki kualitas relasi, mengambil keputusan yang selaras
dengan nilai, serta menjalani hidup dengan kesadaran penuh.
Hidup akan selalu menghadirkan tantangan. Namun
ketika kita memahami diri sendiri, kita memiliki kompas batin. Kita tahu
mengapa kita terluka, tahu bagaimana menenangkan diri, dan tahu ke mana hendak
melangkah.
Dan dari sana, kehidupan terasa lebih
bermakna—karena dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar kebiasaan.
Apa yang terjadi bila kita tidakmengenal diri
sendiri kaitannya dengan empati dan cara memperlakukan orang lain?
Ketika seseorang tidak mengenal dirinya sendiri
secara psikologis, dampaknya jarang berhenti pada dirinya saja. Ia menjalar ke
cara ia memahami orang lain, cara ia bereaksi, dan cara ia memperlakukan orang
di sekitarnya. Di sinilah kaitannya dengan empati menjadi sangat jelas.
Empati lahir dari kesadaran. Untuk bisa memahami
perasaan orang lain, seseorang perlu terlebih dahulu akrab dengan perasaannya
sendiri. Jika ia tidak mampu mengenali emosinya—apakah itu marah, takut,
cemburu, kecewa, atau merasa tidak dihargai—maka ia akan kesulitan membaca
emosi orang lain dengan jernih. Yang terjadi justru proyeksi.
Proyeksi adalah ketika kita menempelkan isi batin
kita kepada orang lain. Misalnya, seseorang yang sebenarnya merasa tidak
percaya diri bisa menuduh orang lain sombong atau meremehkannya. Padahal yang
sedang aktif adalah rasa rendah diri di dalam dirinya sendiri. Karena ia tidak
sadar, ia menganggap emosinya sebagai fakta tentang orang lain.
Ketidaksadaran diri juga membuat seseorang mudah
defensif. Kritik kecil terasa seperti serangan pribadi. Saran terdengar seperti
penghinaan. Dalam kondisi ini, orang cenderung merespons dengan keras, sinis,
atau menarik diri. Relasi menjadi tegang bukan karena masalahnya besar, tetapi
karena responsnya tidak proporsional.
Lebih jauh lagi, ketika seseorang tidak mengenal
lukanya sendiri, ia berisiko melukai orang lain tanpa sadar. Orang yang
dibesarkan dengan pola komunikasi keras bisa menganggap nada tinggi sebagai hal
wajar. Ia mungkin berkata, “Saya memang begini orangnya,” tanpa menyadari
dampak emosional pada pasangan, anak, atau rekan kerja. Tanpa refleksi
psikologis, pola lama diteruskan begitu saja.
Kurangnya kesadaran diri juga membuat seseorang
sulit menghargai perbedaan. Ia cenderung melihat dunia dari sudut pandangnya
sendiri dan menganggap reaksinya sebagai standar. Ketika orang lain merespons
dengan cara berbeda, ia menilai, menghakimi, atau meremehkan. Padahal setiap
orang membawa latar belakang emosional yang unik.
Empati membutuhkan ruang batin yang tenang. Jika
di dalam diri penuh konflik yang tidak disadari, sulit bagi seseorang untuk
benar-benar hadir bagi orang lain. Ia mungkin terlihat mendengarkan, tetapi
pikirannya sibuk mempertahankan diri atau membandingkan pengalaman.
Ada pula risiko yang lebih halus: relasi menjadi
transaksional. Ketika seseorang tidak mengenal kebutuhan emosionalnya, ia bisa
menuntut orang lain memenuhinya secara berlebihan. Ia mencari validasi tanpa
henti, perhatian tanpa batas, atau pengakuan terus-menerus. Jika tidak
terpenuhi, ia kecewa dan menyalahkan. Padahal yang ia butuhkan adalah memahami
dan menguatkan dirinya sendiri.
Sebaliknya, orang yang mengenal dirinya cenderung
lebih stabil secara emosional. Ia tahu kapan ia sedang lelah dan tidak
memaksakan diskusi. Ia tahu kapan ia tersinggung dan mampu mengatakan dengan
tenang, “Ucapan tadi membuat saya kurang nyaman.” Ia tidak langsung menyerang,
karena ia sadar apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Empati bertumbuh dari pengenalan diri. Ketika kita
paham bahwa emosi kita dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kita juga belajar
bahwa reaksi orang lain mungkin dipengaruhi oleh pengalaman mereka. Kesadaran
ini menumbuhkan kelembutan. Kita berhenti cepat menghakimi.
Jadi, ketika kita tidak mengenal diri sendiri,
yang hilang bukan hanya kejelasan batin. Yang ikut tergerus adalah kualitas
relasi. Kita mudah salah paham, mudah tersinggung, mudah melukai, dan sulit
memahami.
Mengenal diri bukan tindakan egois. Ia justru
langkah awal untuk memperlakukan orang lain dengan lebih adil, lebih tenang,
dan lebih manusiawi. []
