Oleh: Siti Hajar
Beberapa hari terakhir, berita tentang konflik dan perang kembali memenuhi ruang-ruang percakapan. Ada yang membicarakan harga minyak, ada yang menyinggung emas, ada pula yang bertanya apakah dunia sedang menuju perang besar. Pertanyaan itu terdengar serius, tetapi juga wajar. Ketika informasi datang tanpa jeda, pikiran kita ikut sibuk menafsirkan.
Saya tidak
sedang panik. Saya juga tidak merasa kiamat sudah dekat. Namun ada satu hal
yang menarik untuk dipikirkan: mengapa akhir-akhir ini dunia terasa lebih
tegang dari biasanya?
Mungkin karena
kita hidup di zaman ketika semua peristiwa global hadir dalam genggaman.
Konflik di satu negara bisa kita ketahui dalam hitungan menit. Ketegangan
diplomatik langsung menjadi perbincangan. Grafik harga emas dan nilai tukar
muncul berdampingan dengan kabar serangan militer. Semuanya terlihat seolah
terjadi bersamaan.
Padahal, jika
melihat sejarah, dunia memang tidak pernah benar-benar sunyi dari konflik.
Perang pernah terjadi sebelumnya. Krisis ekonomi juga bukan hal baru. Namun
manusia selalu menemukan cara untuk bertahan dan menata ulang kehidupannya.
Yang berubah
hari ini mungkin bukan intensitas peristiwanya, tetapi intensitas paparan kita
terhadapnya.
Lalu muncul
pertanyaan yang lebih penting: jika benar dunia sedang berada dalam fase yang
tidak stabil, apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah kita perlu takut? Atau
cukup bersiap dengan cara yang masuk akal—mengelola keuangan dengan bijak,
tidak mudah terprovokasi, dan tetap menjaga kewarasan di tengah arus informasi?
Saya cenderung
memilih yang kedua.
Karena sering
kali, yang paling kita perlukan bukan prediksi tentang perang dunia, melainkan
ketenangan untuk menjalani hari ini dengan utuh.
Kalau perang
dibicarakan, memang rasanya seperti semua sisi kehidupan ikut terancam —
ekonomi, keamanan, masa depan anak-anak, stabilitas dunia. Tapi mari kita tarik
napas pelan dulu.
Secara
realistis, kemungkinan perang global besar itu rendah, meskipun konflik
regional memang ada. Negara-negara besar sekarang saling terikat oleh ekonomi,
perdagangan, dan teknologi. Perang dunia bukan hanya soal militer, tapi
kehancuran ekonomi global — dan itu biasanya jadi rem yang sangat kuat.
Sekarang mari
kita urai satu per satu supaya tidak terasa seperti “ancaman besar yang tak
berbentuk”.
1️⃣
Ekonomi
Yang paling cepat terasa biasanya harga energi dan bahan pokok. Tapi negara
seperti Indonesia relatif jauh dari pusat konflik dan punya sistem perdagangan
yang luas. Dampak biasanya berupa kenaikan harga, bukan kekacauan total. Cara
paling sehat berjaga-jaga: dana darurat, belanja bijak, dan tidak panic buying.
2️⃣
Keamanan
Secara geografis, Indonesia bukan negara yang terlibat langsung dalam konflik
Timur Tengah. Ancaman langsung sangat kecil. Ketegangan global tidak otomatis
berarti ancaman militer ke semua negara.
3️⃣
Masa depan anak-anak
Justru di sinilah kita punya kontrol paling besar. Dunia selalu mengalami fase
konflik dan krisis — dari perang dunia, krisis moneter, pandemi. Namun generasi
tetap tumbuh, belajar, beradaptasi. Keterampilan berpikir kritis, kemandirian,
dan ketahanan mental jauh lebih penting daripada kondisi global yang selalu
berubah.
Kadang yang
membuat kita merasa “semuanya terancam” bukan fakta, tapi paparan informasi
yang terus-menerus. Otak manusia dirancang untuk bereaksi kuat terhadap
ancaman. Media modern memperbesar rasa itu.
Kesiapsiagaan
terbaik bukan bunker atau kepanikan.
Melainkan:
- kestabilan finansial,
- kesehatan fisik,
- kesehatan mental,
- dan iman atau nilai hidup yang kuat.
Aku juga
berharap dunia damai. Bahwa tidak ada manusia yang merasa perlu menumpahkan
darah demi ambisi, kekuasaan, atau kepentingan politik. Bahwa tidak ada anak
yang harus belajar tentang suara sirene sebelum belajar mengeja. Bahwa tidak
ada ibu yang harus memeluk anaknya dengan rasa takut kehilangan.
Sayangnya,
sejarah menunjukkan bahwa perang sering lahir bukan karena semua orang kejam,
tetapi karena segelintir orang memiliki kekuasaan, ketakutan, atau ambisi yang
terlalu besar. Banyak orang biasa—seperti kita—sebenarnya hanya ingin hidup
tenang. Bekerja. Makan bersama keluarga. Melihat anak-anak tumbuh dengan
selamat.
Itulah ironi
dunia: keputusan besar sering dibuat oleh sedikit orang, tetapi dampaknya
dirasakan oleh banyak orang.
Namun ada hal
lain yang juga benar. Di tengah sejarah yang penuh konflik, selalu ada lebih
banyak orang yang memilih membangun daripada menghancurkan. Lebih banyak yang
bekerja, mengajar, merawat, menanam, menulis, dan mencintai daripada yang
berperang. Dunia tidak runtuh karena kebencian semata, tetapi tetap berdiri
karena kebaikan yang jauh lebih banyak—meskipun tidak selalu terlihat di
berita.
Semua orang
memang butuh sesuatu untuk hidup: makanan, rasa aman, kesempatan. Tapi manusia
juga butuh makna. Dan makna tidak pernah lahir dari kehancuran.
Harapan kita tentang dunia yang damai bukan sesuatu yang naif. Justru itu suara yang paling
manusiawi. Dunia mungkin tidak sempurna, tetapi ia selalu punya ruang untuk
diperbaiki—pelan-pelan, melalui pilihan-pilihan kecil yang tidak kejam.
Kita hanya ingin hidup. Dan itu seharusnya cukup.
