Aku perempuan
yang ingin hidup tenang. Bukan hidup yang sepi tanpa kegiatan, tapi hidup yang
tidak terlalu ramai oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Aku mulai lelah
dengan kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa tujuan. Rasanya waktu habis
begitu saja, sementara yang benar-benar penting justru tertunda.
Aku ingin setiap
hariku bermanfaat. Bekerja, menulis, melakukan hal-hal yang memang ada gunanya.
Membaca sudah menjadi kebiasaanku setiap ada waktu. Kadang sebelum berangkat
bekerja, ketika rumah masih cukup hening. Kadang juga saat santai bersama
keluarga. Tidak jarang aku membawa buku saat duduk minum kopi di kafe bersama
pasanganku. Bagiku, itu cara sederhana untuk tetap terhubung dengan diri
sendiri.
Aku ingin
memulai hidup yang lebih pelan. Slow living. Hidup yang tidak selalu tergesa,
tidak merasa harus mengikuti semua hal. Aku ingin memilih dengan sadar apa yang
perlu kulakukan, apa yang perlu kupikirkan, dan apa yang sebaiknya kulepaskan.
Tidak semua hal harus direspons. Tidak semua pesan harus langsung dibalas.
Tidak semua kabar harus diketahui.
Tapi ini bukan
berarti aku menutup diri. Aku tetap membuka ruang untuk keluarga dan
teman-teman yang sudah seperti keluarga. Aku punya beberapa sahabat yang
menurutku sudah terseleksi oleh waktu. Mereka tidak banyak, tapi cukup. Bersama
mereka, aku bisa berbicara tanpa harus berpura-pura. Kami tidak selalu bertemu,
tapi ada rasa saling mengerti yang tidak mudah hilang. Hubungan seperti itu
yang ingin kujaga, bukan relasi yang hanya ramai di permukaan.
Bagi seseorang
yang ingin hidup sehat lahir dan batin, ada beberapa hal yang menurutku
penting. Tubuh perlu dijaga dengan pola makan yang baik, istirahat yang cukup,
dan aktivitas fisik yang teratur. Tapi kesehatan tidak berhenti di situ.
Pikiran juga perlu dijaga. Mengurangi hal-hal yang membuat cemas, membatasi
paparan informasi yang berlebihan, memilih lingkungan yang mendukung, dan
menyediakan waktu untuk refleksi atau berdoa. Ketenangan tidak datang begitu
saja, ia perlu dirawat.
Hari ini kita
hidup di tengah arus informasi yang nyaris tanpa batas. Setiap saat ada berita
baru, opini baru, isu baru. Jika tidak hati-hati, kita bisa ikut terseret dalam
kebisingan itu. Padahal tidak semua informasi relevan dengan hidup kita. Tidak
semua kabar layak memenuhi ruang pikiran kita.
Karena itu,
mungkin yang perlu kita latih adalah kebijaksanaan dalam menyaring. Memilih
mana yang perlu diketahui dan mana yang cukup dilewatkan. Hidup sudah cukup
sibuk dengan tanggung jawab dan pekerjaan. Jangan sampai energi kita habis
hanya karena terlalu banyak mengonsumsi hal-hal yang sebenarnya tidak memberi
nilai tambah.
Aku ingin hidup
yang sederhana tapi terarah. Tidak heboh, tidak berisik. Hanya hari-hari yang
diisi dengan kerja yang jujur, hubungan yang tulus, dan waktu yang benar-benar
terasa.
Aku sudah sangat
jarang membeli pakaian baru. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa
tidak perlu. Lemari pakaianku sudah cukup. Aku tidak ingin lagi membeli sesuatu
hanya karena sedang tren atau sekadar ingin merasa “baru”. Rasanya lebih ringan
ketika tidak terus-menerus merasa kurang.
Aku juga tidak
lagi memenuhi semua undangan makan-makan, kenduri, atau acara yang sebenarnya
bisa kutinggalkan tanpa rasa bersalah. Dulu aku sering datang karena tidak enak
hati. Takut dianggap tidak peduli. Takut dinilai menjauh. Padahal sepulang dari
sana, tubuh lelah dan pikiran penuh. Sekarang aku belajar jujur pada diri
sendiri. Jika memang tidak sanggup atau tidak terlalu penting untuk hadir, aku
memilih tidak datang.
Aku benar-benar
mengatur aktivitasku sedemikian rupa. Aku melihat kembali jadwalku, menilai
mana yang perlu dan mana yang hanya kebiasaan. Tidak ada lagi memaksakan diri
hanya demi terlihat aktif atau dianggap produktif. Aku ingin energiku cukup
untuk hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab dan pilihan sadar.
Hidup pelan
membuatku lebih mengenal batas. Ada hari ketika aku memilih pulang lebih cepat
dan duduk tenang di rumah. Ada waktu ketika aku sengaja tidak membuka media
sosial. Ada akhir pekan yang sengaja kubiarkan kosong, tanpa agenda. Awalnya
terasa aneh, seolah ada yang kurang. Tapi lama-lama justru di situlah aku
merasa utuh.
Aku tidak sedang
lari dari dunia. Aku hanya sedang memilih cara yang lebih sehat untuk
menjalaninya. Aku ingin hidup yang tidak penuh tekanan sosial, tidak penuh
tuntutan yang datang dari luar. Aku ingin cukup dengan apa yang ada, dekat
dengan orang-orang yang benar-benar berarti, dan fokus pada pekerjaan yang bisa
kupertanggungjawabkan.
Mungkin
beginilah caraku bertumbuh sekarang. Lebih sederhana, lebih sadar, dan lebih
jujur pada diri sendiri.
Saat ini bagiku
yang paling penting adalah membahagiaka diriku sendiri dan orang-orang
terdekat. Terus belajar hal-hal baru. Menghargai setiap waktu yang dihabiskan.
Oh ya aku mulai merenungi hidup yang mungkin tidak lama lagi akan meninggalkan
semua hal. Aku ingin hari-hariku berkualitas. Aku senang membantu orang.
Mungkin juga kebahagian yang terpenting bagiku ada di situ. aku bahagaia saat
orang lain bahagia
Saat ini, bagiku
yang paling penting adalah membahagiakan diriku sendiri dan orang-orang
terdekat. Bukan dengan hal besar atau mewah, tapi dengan perhatian, waktu, dan
kehadiran yang sungguh-sungguh. Aku ingin pulang ke rumah tanpa sisa emosi yang
melelahkan. Aku ingin duduk bersama keluarga tanpa terganggu notifikasi yang
tidak penting.
Membaca buku
yang membuka cara pandang, mencoba hal kecil yang belum pernah kulakukan,
berdiskusi tanpa merasa harus selalu benar. Belajar membuatku merasa hidup. Ada
rasa tumbuh di dalam diri, dan itu menyenangkan.
Aku mulai sering
merenungi hidup. Bukan dengan rasa takut, tapi dengan kesadaran bahwa waktu
kita tidak selamanya panjang. Mungkin tidak lama lagi kita akan meninggalkan
semua yang hari ini terasa penting. Rumah, pekerjaan, pakaian, bahkan
percakapan-percakapan yang dulu terasa mendesak. Kesadaran itu membuatku ingin
lebih hati-hati menggunakan waktu. Aku ingin hari-hariku berkualitas, bukan
sekadar terlewati.
Aku senang
membantu orang. Entah itu dengan mendengarkan, memberi waktu, atau sekadar
hadir ketika mereka butuh teman bicara. Mungkin di situlah salah satu
kebahagiaan terbesarku. Aku bahagia saat orang lain bahagia. Ada rasa hangat
yang sulit dijelaskan ketika melihat seseorang merasa lebih ringan setelah
berbicara, atau merasa terbantu oleh hal kecil yang bisa kulakukan.
Hidup yang tenang, memperjelas tujuan. Tentang tahu apa yang benar-benar berarti. Tentang
menyadari bahwa waktu terbatas, sehingga setiap hari layak dijalani dengan
sadar.
Aku ingin hidup yang seperti itu. Tidak berisik, tidak berlebihan. Hanya hari-hari yang dijalani dengan penuh kesadaran, dengan hati yang cukup, dan dengan niat untuk memberi manfaat selama masih diberi kesempatan. Teman-teman ayo kita bersama menjalani hidup yang bermanfaat sebelum ajal menjemput. []
