Puasa Ramadhan, Tarawih, Tilawah, Sedekah, dan Memudahkan Urusan Orang Lain

 

Oleh: Siti Hajar

Memaknai puasa dengan memperbanyak ibadah berarti kita sedang menjalankan perintah Allah. Amalan yang Allah sendiri yang memberi pahalanya. Tentu saja kita igin memperbanyak amalan dalam bulan mulia ini. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yaitu malam Lailatul Qadar yang Allah janjikan ibadah pada malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Tentu saja itu tidak akan kita dapatkan bila di awal Ramadan kita tidak melatih diri untuk memperbanyak amala di malam hari. 

Berikut adalah beberapa amalan yang bisa tingkatkan di bulan Ramadan:

🌙 Salat Tarawih: Menghidupkan Malam Ramadan

Salat tarawih bukan hanya tentang rakaat yang panjang, tetapi tentang kesediaan kita berdiri lebih lama di hadapan Allah. Dalam lelah setelah beraktivitas seharian, kita memilih tetap datang ke masjid atau membentangkan sajadah di rumah. Di situlah latihan keikhlasan terjadi. Tarawih membentuk disiplin ruhani—bahwa cinta kepada Allah perlu dijaga dengan komitmen.

📖 Membaca Al-Qur’an: Mengisi Jiwa dengan Cahaya

Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Ketika kita memperbanyak tilawah, sebenarnya kita sedang membersihkan hati yang mungkin selama sebelas bulan terakhir tertutup debu kesibukan. Tidak harus banyak sekaligus. Yang penting konsisten dan penuh penghayatan. Satu halaman dengan tadabbur kadang lebih menguatkan daripada banyak halaman tanpa rasa.

🤲 Bersedekah: Melatih Hati Agar Tidak Melekat pada Dunia

Saat kita merasakan lapar, kita lebih mudah memahami arti kekurangan. Sedekah di bulan puasa bukan hanya tentang memberi harta, tetapi tentang melapangkan hati. Memberi makanan berbuka, membantu tetangga, atau sekadar mentransfer sejumlah kecil uang dengan niat tulus—semuanya menjadi latihan empati.

🌿 Memudahkan Urusan Orang Lain: Ibadah yang Kadang Terlupakan

Ini yang paling indah. Kadang kita sibuk memperbanyak ibadah ritual, tetapi lupa bahwa memudahkan hidup orang lain adalah ibadah sosial yang besar nilainya. Membantu menyelesaikan administrasi, mengajari anak yang kesulitan belajar, menenangkan teman yang sedang gundah, atau sekadar tersenyum dan tidak menyulitkan—itu semua bagian dari puasa yang hakiki.

🍽️ Memberi Makan untuk Berbuka: Amal Sederhana, Pahala Berlipat

Yang indah, amalan ini tidak harus besar. Tidak harus satu meja penuh hidangan. Kadang hanya dengan sekotak nasi sederhana, segelas air, atau beberapa butir kurma yang kita berikan dengan tulus, itu sudah bernilai besar di sisi Allah. Bahkan membagikan takjil kecil di pinggir jalan pun bisa menjadi ladang pahala yang tak terduga.

Dan mungkin, di situlah letak rahasianya. Ramadan mengajarkan kita bahwa kebaikan tidak selalu tentang jumlah, tetapi tentang niat dan kepedulian. Saat kita membantu orang lain berbuka, kita tidak hanya mengenyangkan perut mereka, tetapi juga sedang melatih hati kita agar lebih ringan memberi.

Rasulullah bersabda bahwa siapa yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Jadi betapa luasnya rahmat Allah di bulan ini—kita bisa mendapatkan pahala puasa hanya dengan berbagi makanan.

Ramadan akan membentuk orang menjadi lebih baik. Lebih sabar. Lebih lembut. Lebih ringan tangan. Lebih cepat memaafkan.

Mungkin inilah makna terdalam puasa, tidak hanyamenahan diri dari yang halal di siang hari, tetapi menahan diri dari menyakiti sesama sepanjang waktu.

Puasa membuat kita belajar menahan diri. Menahan kata yang bisa melukai, menahan emosi yang bisa meledak, dan menahan keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian. Ramadan mengajari kita bahwa kekuatan sejati justru lahir dari pengendalian diri.

Di antara tarawih yang mungkin terasa lelah, lembaran Al-Qur’an yang kita baca meski mata mengantuk, dan sedekah yang kita sisihkan diam-diam, ada satu hal yang sering kali tak terlihat yaitu hati yang sedang dibentuk. Hati yang pelan-pelan menjadi lebih peka. Lebih ringan memaafkan. Lebih mudah memudahkan.

Semoga setelah Ramadan berlalu, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang takjil dan jadwal sahur, tetapi kebiasaan untuk terus berbuat baik. Terus melapangkan. Terus menjadi jalan kemudahan bagi orang lain. Karena mungkin, di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya. []

Selamat menjalan ibadah puasa, kamu readernya sitihajarinspiring.com yang aku banggakan.

Lebih baru Lebih lama