Tanda-Tanda Burnout pada Ibu dan Cara Membereskannya


Oleh: Siti Hajar

Burnout pada seorang ibu jarang terjadi dalam semalam. Seperti air yang menetes terus-menerus di batu, lama-lama mengikis tanpa disadari.

Ada beberapa akar yang sering menjadi penyebabnya.

Pertama, beban peran yang berlapis. Seorang ibu hari ini bukan hanya pengurus rumah. Ia juga pekerja, pengatur keuangan, guru bagi anak, penenang emosi keluarga, bahkan sering menjadi “manajer” tak terlihat dari seluruh ritme rumah tangga. Peran yang banyak bukan masalah, tetapi ketika semuanya bertumpu pada satu orang tanpa distribusi yang adil, tubuh dan pikiran akhirnya kewalahan.

Kedua, mental load yang tak kasat mata. Bukan hanya pekerjaan fisik seperti mencuci atau memasak, tetapi memikirkan jadwal imunisasi, tugas sekolah anak, belanja bulanan, ulang tahun keluarga, sampai stok sabun di kamar mandi. Pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sedang duduk diam. Otak jarang benar-benar istirahat.

Ketiga, kurangnya dukungan emosional. Ada ibu yang secara fisik tidak sendirian, tetapi secara emosional merasa sendirian. Pasangan mungkin ada di rumah, tetapi tidak benar-benar hadir. Tidak ada ruang untuk didengar tanpa dihakimi. Lama-lama ia merasa memikul semuanya sendiri.

Keempat, ekspektasi yang terlalu tinggi—baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri. Media sosial sering menampilkan gambaran ibu yang selalu sabar, rumah rapi, anak berprestasi, karier stabil. Tanpa sadar, seorang ibu membandingkan dirinya dan merasa tidak pernah cukup. Padahal yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil kehidupan orang lain.

Kelima, kurangnya waktu untuk diri sendiri. Banyak ibu merasa bersalah ketika ingin istirahat. Seolah-olah mengambil waktu untuk membaca buku, berjalan santai, atau sekadar minum teh dalam diam adalah bentuk keegoisan. Padahal tanpa pengisian ulang, energi akan terus terkuras.

Keenam, konflik rumah tangga yang tak terselesaikan. Ketegangan dengan pasangan, pola komunikasi yang buruk, atau perasaan tidak dihargai bisa menjadi sumber stres kronis. Jika ini berlangsung lama, burnout bukan lagi kemungkinan—ia hampir pasti terjadi.

Dan ada satu lagi yang sering luput, kehilangan identitas diri. Setelah menikah dan punya anak, sebagian perempuan merasa dirinya hanya dikenali sebagai “ibu dari siapa” atau “istri siapa”. Hobi menghilang. Impian tertunda. Ruang personal menyempit. Ketika seseorang kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri, kelelahan menjadi lebih dalam dari sekadar capek.

Burnout bukan berarti tidak sayang keluarga. Justru sering terjadi karena terlalu sayang, terlalu bertanggung jawab, terlalu ingin semuanya baik-baik saja. Ia adalah akumulasi dari kelelahan fisik, mental, dan emosional yang tidak pernah diberi ruang untuk pulih.

Karena itu, memahami penyebabnya penting bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk menyadari bahwa seorang ibu tidak diciptakan untuk menanggung segalanya sendirian. Ada batas. Dan mengenali batas itu bukan kelemahan—itu kebijaksanaan.

Seringkali seorang merasa tidak mendapat dukungan dari pasangannya saat merasa lelah dan butuh di dengar. Mengapa ini terjadi?

Perasaan tidak didukung oleh pasangan saat sedang lelah adalah luka yang sunyi. Ia tidak selalu terlihat dalam pertengkaran besar. Kadang justru terasa dalam hal-hal kecil—jawaban singkat, tatapan yang tidak benar-benar menatap, atau respons yang terasa datar ketika kita sedang ingin didengar.

Mengapa ini bisa terjadi?

Pertama, perbedaan cara memproses masalah. Banyak pasangan—terutama dalam dinamika tradisional—terbiasa melihat masalah sebagai sesuatu yang harus segera “diselesaikan”, bukan “didengarkan”. Ketika seorang istri bercerita panjang tentang kelelahan, suami mungkin langsung memberi solusi singkat. Bagi dia itu bentuk membantu. Tetapi bagi istri, yang dibutuhkan saat itu bukan solusi, melainkan empati. Ketika respons tidak sesuai harapan, muncullah rasa: “Dia tidak peduli.”

Kedua, kurangnya literasi emosional. Tidak semua orang dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan cara mengenali dan mengekspresikan emosi. Ada yang sejak kecil terbiasa menahan perasaan, tidak terbiasa membicarakan lelah, sedih, atau kecewa. Ketika pasangannya datang dengan luapan emosi, ia bingung harus merespons bagaimana. Kebingungan itu sering terlihat seperti ketidakpedulian.

Ketiga, sama-sama lelah. Kadang pasangan juga sedang memikul tekanan yang tidak diungkapkan. Pekerjaan, tanggung jawab finansial, tuntutan sosial. Dua orang yang sama-sama lelah bisa saling berharap untuk ditopang, tetapi tak ada yang cukup kuat untuk menopang lebih dulu. Akhirnya yang muncul adalah jarak.

Keempat, pola komunikasi yang sudah lama terbentuk. Jika sejak awal hubungan tidak terbiasa berbicara dari hati ke hati, maka ketika masalah datang, percakapan terasa kaku. Ada asumsi-asumsi yang tidak pernah diklarifikasi. Ada harapan yang tidak pernah diucapkan. Lama-lama keduanya merasa tidak dipahami.

Kelima, ekspektasi yang tidak selaras. Sering kali seseorang berharap pasangannya “mengerti tanpa perlu dijelaskan”. Padahal pasangan bukan pembaca pikiran. Ketika kebutuhan untuk didengar tidak diungkapkan secara jelas, pasangan bisa saja merasa semuanya baik-baik saja.

Namun penting juga untuk melihat bahwa merasa tidak didukung bukan selalu berarti pasangan tidak mencintai. Kadang itu hanya berarti cara mencintai dan cara membutuhkan belum bertemu di titik yang sama.

Di sinilah komunikasi menjadi kunci. Bukan komunikasi saat emosi memuncak, tetapi ketika suasana tenang. Bukan dengan kalimat menyalahkan seperti, “Kamu tidak pernah peduli,” melainkan dengan bahasa perasaan: “Aku merasa sendirian saat aku cerita dan tidak ditanggapi.” Kalimat seperti ini membuka ruang, bukan menutupnya.

Karena sering kali, yang dibutuhkan bukan pasangan yang sempurna. Hanya pasangan yang mau belajar hadir. Dan kehadiran emosional itu tidak selalu muncul otomatis. Ia dibangun, dilatih, dan diperjuangkan bersama.

Bagaimana mengatasi masalah rumit ini. Tentang hubungan yang tidak harmonis. ruang dialog seakan tertutup. Kadang sama-sama diam seolah waktu akan menyelesaikannya, tetapi yang ada hanya keadaan semakin mencekam

Hubungan yang tidak harmonis jarang hancur karena satu ledakan besar. Ia lebih sering retak karena diam yang terlalu lama. Dua orang tinggal dalam satu rumah, tetapi berjalan di lorong masing-masing. Tidak bertengkar, tetapi juga tidak benar-benar berbicara. Sama-sama berharap waktu akan memperbaiki keadaan. Padahal waktu tidak pernah menyelesaikan apa pun yang tidak disentuh dengan sadar.

Ketika ruang dialog terasa tertutup dan suasana makin mencekam, ada beberapa hal yang bisa dilakukan—pelan, tapi tegas.

Pertama, hentikan perang sunyi. Diam memang terasa aman, karena tidak ada konflik terbuka. Tetapi diam yang berkepanjangan adalah bentuk jarak emosional. Jika tidak ada yang memulai, hubungan akan terus membeku. Seseorang harus berani membuka percakapan, meski suaranya gemetar.

Namun waktu membuka percakapan itu penting. Jangan memulai saat sama-sama lelah atau sedang emosi. Pilih momen yang relatif tenang. Katakan dengan sederhana dan jujur, bukan dengan nada menyalahkan. Hindari “kamu selalu” atau “kamu tidak pernah”. Ganti dengan “aku merasa…” atau “aku butuh…”. Bahasa perasaan jauh lebih mudah diterima daripada bahasa tudingan.

Kedua, ubah tujuan dialog. Jangan berbicara untuk menang. Jangan berbicara untuk membuktikan siapa paling benar. Berbicaralah untuk memahami. Terkadang hubungan macet bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena dua orang merasa tidak didengar. Jika satu pihak berbicara, yang lain belajar mendengar tanpa langsung memotong atau membela diri.

Ketiga, sepakati satu hal kecil untuk diperbaiki, bukan semuanya sekaligus. Hubungan yang renggang tidak bisa diperbaiki dalam satu malam. Terlalu banyak masalah sekaligus justru membuat percakapan buntu. Mulailah dari satu kebiasaan sederhana—misalnya sepakat menyediakan waktu 20 menit setiap malam untuk berbicara tanpa gawai. Atau membagi ulang tugas rumah dengan lebih jelas. Perubahan kecil yang konsisten lebih efektif daripada janji besar yang tidak terwujud.

Keempat, periksa kembali ekspektasi. Kadang kita berharap pasangan menjadi sumber semua kebutuhan emosional kita. Padahal ia juga manusia dengan keterbatasan. Mengurangi ekspektasi yang tidak realistis bukan berarti menurunkan standar, tetapi memberi ruang untuk melihat pasangan apa adanya.

Kelima, jika komunikasi sudah benar-benar buntu dan setiap percakapan berakhir dengan ketegangan, jangan ragu mencari bantuan profesional. Konseling pasangan bisa menjadi ruang netral untuk membuka kembali dialog yang tertutup. Kadang kehadiran pihak ketiga yang terlatih membantu dua orang melihat pola yang selama ini tidak mereka sadari.

Yang paling penting adalah ini: jangan menunggu sampai rasa hormat benar-benar habis. Cinta bisa naik turun, tetapi ketika rasa hormat hilang, hubungan menjadi jauh lebih rapuh.

Diam tidak pernah menyembuhkan luka yang tidak dibicarakan.Ia hanya membuat luka itu mengeras di dalam.

Jika hari ini hubungan terasa mencekam, mungkin yang dibutuhkan bukan keputusan besar, tetapi keberanian kecil untuk berkata, “Kita tidak baik-baik saja. Dan aku tidak ingin kita terus seperti ini.”

Dari kalimat sederhana itu, ruang dialog bisa perlahan terbuka kembali.

Kapan dibutuhkan orang ketiga, bantuan profesional psikolog atau konselor?

Ada fase dalam hubungan ketika dua orang sebenarnya masih ingin bersama, tetapi sudah tidak tahu bagaimana caranya berbicara. Kata-kata selalu salah tempat. Percakapan berubah menjadi perdebatan. Atau lebih buruk lagi—tidak ada percakapan sama sekali.

Di titik seperti itu, bantuan profesional bukan tanda kegagalan. Ia justru tanda bahwa hubungan ini masih dianggap berharga untuk diperjuangkan.

Kapan orang ketiga, keluarga dekat, teman atau psikolog/konselor dibutuhkan?

Pertama, ketika pola konflik terus berulang tanpa solusi. Masalah yang sama muncul lagi dan lagi. Topiknya bisa berbeda, tetapi polanya sama: salah paham, defensif, saling menyalahkan, lalu diam. Jika sudah berbulan-bulan atau bertahun-tahun seperti itu, biasanya pasangan sudah terjebak dalam pola komunikasi yang tidak sehat dan sulit keluar sendiri.

Kedua, ketika ruang dialog benar-benar tertutup. Jika setiap usaha berbicara berakhir dengan ledakan atau penghindaran total, bantuan profesional bisa menjadi ruang aman dan netral. Konselor tidak memihak, tetapi membantu masing-masing pihak merasa didengar.

Ketiga, ketika emosi mulai tidak terkendali. Misalnya kemarahan yang berlebihan, kata-kata yang melukai, ancaman, atau sikap merendahkan yang terus-menerus. Jika rasa hormat mulai terkikis, itu tanda serius. Jangan tunggu sampai luka makin dalam.

Keempat, ketika salah satu atau keduanya mengalami tekanan mental yang signifikan—seperti kecemasan berat, depresi, burnout berkepanjangan—yang memengaruhi hubungan. Kadang masalahnya bukan semata hubungan, tetapi kondisi psikologis individu yang belum tertangani.

Kelima, ketika ada peristiwa besar yang mengguncang kepercayaan, seperti perselingkuhan, masalah finansial berat, atau konflik keluarga besar yang tajam. Peristiwa seperti ini jarang bisa diselesaikan hanya dengan “bicara biasa”. Ia membutuhkan fasilitasi yang terstruktur.

Namun penting dipahami: datang ke psikolog atau konselor bukan berarti hubungan pasti bermasalah parah. Banyak pasangan datang bukan karena hampir berpisah, tetapi karena ingin memperbaiki komunikasi sebelum terlambat.

Dan jika dalam prosesnya ditemukan gejala yang lebih kompleks—misalnya gangguan mood berat, trauma mendalam, atau kondisi medis yang memengaruhi emosi—maka psikiater mungkin diperlukan untuk evaluasi lebih lanjut.

Yang perlu diubah adalah cara pandang kita. Mencari bantuan profesional bukan membuka aib. Itu seperti membawa tubuh ke dokter saat sakit. Kita tidak menunggu sampai pingsan untuk memeriksakan diri.

Hubungan pun begitu.

Jika dua orang sudah berusaha, sudah mencoba berbicara, tetapi tetap terasa buntu dan menyakitkan, mungkin bukan karena kurang cinta. Bisa jadi karena kurang alat untuk memperbaikinya. Tentu butuh kesadaran yang tinggi dari kedua belah pihak untuk bersedia mengembalikan keharmonisan dalam rumah tangga. []

 

Lebih baru Lebih lama