Tiga Fase Pengasuhan Ala Saidina Ali Bin Abi Thalib

 
Oleh: Siti Hajar

Ada masa ketika anak begitu lekat di pelukan kita. Tangannya kecil, matanya jernih, dan dunia baginya hanya sebatas rumah serta wajah orang tuanya. Lalu tanpa terasa, ia mulai menutup pintu kamar lebih sering. Jawabannya menjadi singkat. Ceritanya tak lagi sepanjang dulu.

Banyak orang tua baru merasa kehilangan ketika anak memasuki usia remaja. Padahal, barangkali yang perlu kita periksa bukan hanya usia 17 tahunnya, tetapi tujuh tahun pertamanya.

Dalam tradisi Islam, ada ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib: didiklah anakmu tujuh tahun pertama sebagai raja, tujuh tahun kedua sebagai tawanan, dan tujuh tahun ketiga sebagai sahabat. Ali adalah suami dari Fatimah az-Zahra, putri dari Muhammad. Maka pola ini sering dipahami sebagai gambaran nilai pengasuhan dalam keluarga yang tumbuh di bawah cahaya kenabian.

Saya memaknai tiga fase ini bukan sebagai teori kaku, melainkan sebagai irama. Seperti napas yang harus teratur. Jika satu tarikan terlewat, keseimbangan ikut goyah.

Pada fase 0–7 tahun, anak diperlakukan sebagai raja. Artinya ia dimuliakan, dipenuhi cinta, disentuh dengan hangat, dipandang dengan bangga. Ia merasa aman. Ia tahu rumah adalah tempat kembali. Di usia ini, yang dibangun bukan aturan panjang, melainkan rasa percaya. Jika fase ini dilompati—anak terlalu cepat dituntut mandiri, terlalu sering dimarahi, atau jarang dipeluk—ia mungkin tumbuh dengan hati yang selalu bertanya: apakah aku cukup berharga? Saat remaja, ia bisa mencari pengakuan di luar rumah. Saat dewasa, ia mungkin sulit mempercayai cinta.

Memasuki usia 8–14 tahun, anak diperlakukan sebagai “tawanan”. Bukan untuk dikerasai, tetapi untuk dibatasi. Di sinilah disiplin diperkenalkan. Tanggung jawab mulai dibebankan. Ia belajar bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya. Jika fase ini diabaikan—karena orang tua merasa tidak enak menegur, atau terlalu sibuk untuk konsisten—anak bisa tumbuh tanpa kendali diri. Dunia terasa harus selalu mengalah padanya. Aturan sekolah dianggap penindasan. Nasihat orang tua dianggap gangguan. Namun jika fase ini dijalani tanpa fondasi cinta dari tujuh tahun pertama, disiplin berubah menjadi ketakutan. Anak mungkin patuh, tetapi hatinya menjauh.

Lalu tibalah usia 15–21 tahun. Di sinilah anak diperlakukan sebagai sahabat. Ia tak lagi cukup diperintah; ia perlu diajak bicara. Pendapatnya didengar. Pikirannya dihargai. Jika di usia ini orang tua masih memaksakan kontrol seperti pada anak kecil, yang lahir bukan kepatuhan, melainkan jarak. Anak akan tetap hidup di rumah, tetapi tak lagi tinggal di hati orang tuanya. Ia bercerita kepada teman, bukan kepada ibu. Ia meminta saran dari internet, bukan dari ayah.

Saya sering melihat orang tua kebingungan menghadapi anak remaja, bahkan tidak jarang saya sendiri mengalami ini. Padahal barangkali persoalannya bukan di hari ini. Bisa jadi ada pelukan yang kurang hangat di masa balita. Atau ada batasan yang tidak pernah ditegakkan di masa sekolah dasar. Tiga fase ini seperti anak tangga. Jika satu pijakan rapuh, langkah berikutnya goyah.

Menjadi orang tua memang tidak pernah sempurna. Kita lelah, kita khilaf, kita belajar sambil berjalan. Tetapi memahami irama ini membuat kita lebih tenang. Bahwa cinta ada waktunya untuk lembut. Disiplin ada waktunya untuk tegas. Dan pertemanan ada waktunya untuk setara.

Anak-anak tidak tiba-tiba menjauh. Mereka hanya tumbuh. Pertanyaannya, apakah kita tumbuh bersama mereka?

Aku baru tahu pada fase kedua-saat anak-anak harus diperlakukan sebagai tawanan. anak laki-laki harus dengan ibunya sementara anak perempuan harus dekat dengan ayahnya. Karena anak-laki akan belajar bagaimana memperlakukan perempuan dan anak perempuan ayahnya adalah cinta pertamanya.

Ketika Fase Kedua Tidak Dijalani dengan Tepat

Saya baru menyadari satu hal yang sering luput dibahas dalam pola tujuh tahunan itu. Pada fase 8–14 tahun—fase disiplin dan pembentukan karakter—kedekatan emosional anak justru perlu diarahkan secara khusus: anak laki-laki dikuatkan relasinya dengan ibu, dan anak perempuan didekatkan dengan ayah.

Bukan untuk membatasi peran orang tua, tetapi untuk membentuk cara pandang anak terhadap lawan jenis sejak dini.

Anak laki-laki yang dekat dengan ibunya belajar bagaimana menghormati perempuan. Ia melihat bagaimana ibunya berbicara, bekerja, menahan lelah, mencintai tanpa pamrih. Dari situ tumbuh empati. Ia tidak tumbuh dengan cara pandang meremehkan perempuan, karena sosok perempuan pertama yang ia hormati adalah ibunya sendiri.

Sebaliknya, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya belajar tentang rasa aman. Ia belajar bagaimana seorang laki-laki seharusnya berbicara, melindungi, dan bersikap. Banyak orang mengatakan bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Dari ayahlah ia membentuk standar tentang bagaimana dirinya layak diperlakukan.

Lalu apa yang terjadi jika fase ini tidak dijalani dengan baik?

Jika anak laki-laki jauh secara emosional dari ibunya—atau ibunya terlalu dingin dan tidak hadir—ia bisa tumbuh tanpa sensitivitas terhadap perempuan. Ia mungkin keras, tidak peka, atau melihat perempuan hanya sebagai pelengkap. Dalam relasi kelak, ia bisa kesulitan memahami perasaan pasangan karena tidak pernah belajar membacanya sejak kecil.

Sebaliknya, jika anak perempuan tidak merasakan kedekatan dan penghargaan dari ayahnya, ia bisa tumbuh dengan rasa haus validasi dari laki-laki lain. Ia mungkin mudah tersentuh oleh perhatian kecil, karena standar perlindungan dan penghargaan tidak terbentuk kuat di rumah. Atau sebaliknya, ia menjadi sangat tertutup dan tidak percaya pada laki-laki.

Fase ini sebenarnya bukan soal siapa lebih dekat secara fisik, tetapi siapa hadir secara emosional. Anak laki-laki perlu merasakan kelembutan ibunya sekaligus batasan yang tegas. Anak perempuan perlu merasakan kekuatan ayahnya sekaligus penerimaan yang hangat.

Jika kedekatan ini tidak dibangun di usia 8–14 tahun—saat anak mulai peka pada identitas dirinya—maka pembentukan citra tentang lawan jenis bisa banyak dipengaruhi oleh lingkungan luar: teman sebaya, media sosial, tontonan, bahkan pengalaman yang belum tentu sehat.

Di usia itu, mereka sedang belajar: bagaimana menjadi laki-laki yang menghormati,
dan bagaimana menjadi perempuan yang tahu harga dirinya.

Pengasuhan memang tidak pernah sempurna. Tetapi kesadaran untuk hadir—secara utuh—sering kali sudah menjadi separuh jawaban.

Apa yang terjadi jika pada fase 8-14 anak mengalami fatherless (ketiadaan ayah)?

Ketika Anak Mengalami Fatherless di Usia 8–14 Tahun

Usia 8–14 tahun adalah masa pembentukan disiplin, identitas, dan cara anak memandang dirinya di tengah dunia. Pada fase ini, figur ayah memegang peran penting—bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi sebagai simbol arah, batas, dan perlindungan.

Lalu apa yang terjadi ketika anak menjalani fase ini dalam kondisi fatherless—baik karena ayah wafat, berpisah, bekerja jauh tanpa kedekatan emosional, atau hadir secara fisik tetapi tidak benar-benar terlibat?

Dampaknya bisa berbeda pada anak laki-laki dan anak perempuan, meski tidak selalu sama pada setiap individu.

Pada Anak Laki-Laki

Di usia ini, anak laki-laki mulai belajar tentang maskulinitas. Ia mengamati bagaimana seorang pria bersikap, berbicara, menyelesaikan konflik, dan memperlakukan perempuan. Jika figur ayah tidak hadir, ia bisa kehilangan model langsung tentang kedewasaan laki-laki.

Sebagian anak tumbuh menjadi sangat mandiri lebih cepat dari usianya, seolah ingin mengisi kekosongan itu. Namun sebagian lain bisa mengalami kebingungan identitas. Ia mencari figur pengganti—kadang pada teman yang lebih dominan, tokoh di media, atau lingkungan luar yang belum tentu memberi contoh sehat.

Tanpa bimbingan yang kuat, ia bisa:

  • Sulit mengelola emosi marah,
  • Kurang percaya diri dalam mengambil keputusan,
  • Atau justru terlalu agresif sebagai bentuk kompensasi.

Namun perlu digarisbawahi, fatherless bukan vonis masa depan. Banyak anak laki-laki tetap tumbuh kuat ketika ibu, kakek, guru, atau figur laki-laki lain hadir memberi teladan yang konsisten.

Pada Anak Perempuan

Untuk anak perempuan, usia 8–14 adalah masa ia mulai menyadari dirinya sebagai perempuan. Di sinilah ayah berperan besar dalam membangun rasa aman dan harga diri.

Ketika ayah tidak hadir secara emosional, anak perempuan bisa:

  • Merasa kurang dilindungi,
  • Kurang yakin pada nilai dirinya,
  • Atau tumbuh dengan kebutuhan validasi yang besar dari laki-laki lain.

Sebagian menjadi sangat mandiri dan menutup diri. Sebagian lagi mudah tersentuh oleh perhatian kecil karena ia tidak terbiasa mendapat pengakuan dari figur ayah.

Ayah yang hadir bukan hanya melindungi, tetapi memberi pesan tanpa kata: kamu berharga, kamu layak dihormati. Pesan ini membentuk standar relasi di masa depan.

Namun, Ada Harapan

Kita juga perlu adil pada keadaan. Tidak semua keluarga memiliki struktur ideal. Ada ayah yang wafat, ada yang terpaksa bekerja jauh demi kehidupan, ada yang diuji dengan konflik rumah tangga.

Yang lebih penting dari sekadar kehadiran biologis adalah kehadiran emosional dan figur pengganti yang sehat. Seorang paman, kakek, guru, atau pembimbing rohani bisa menjadi jangkar. Seorang ibu yang kuat dan stabil juga mampu menjadi benteng yang kokoh.

Anak tidak hanya dibentuk oleh siapa yang tidak ada, tetapi juga oleh siapa yang tetap setia ada.

Usia 8–14 memang masa sensitif. Jika terjadi kekosongan, ia perlu diisi dengan kehangatan, komunikasi terbuka, dan batasan yang konsisten. Anak yang merasa dicintai dan diarahkan tetap punya peluang besar untuk tumbuh utuh, meski jalannya tidak persis seperti yang kita bayangkan.

Karena pada akhirnya, yang paling membekas dalam ingatan anak bukanlah struktur keluarga yang sempurna, melainkan rasa aman yang ia rasakan di dalamnya. []

Lebih baru Lebih lama