Oleh: Siti Hajar
Banyak orang
mengira insomnia hanyalah kebiasaan tidur yang buruk. Padahal, di balik malam
yang panjang dan gelisah, terdapat proses biologis yang kompleks di dalam otak.
Salah satu aktor utamanya adalah amygdala, struktur kecil berbentuk almond yang
berada di bagian dalam lobus temporal dan berperan besar dalam mengatur emosi
serta respons terhadap ancaman.
Amygdala bekerja
layaknya sistem alarm. Setiap kali otak mendeteksi sesuatu yang dianggap
berbahaya atau penting secara emosional, bagian ini akan aktif dan mengirimkan
sinyal kewaspadaan ke seluruh tubuh. Detak jantung meningkat, napas menjadi
lebih cepat, dan hormon stres seperti kortisol dilepaskan. Dalam situasi
darurat, mekanisme ini sangat membantu karena mempersiapkan tubuh untuk
bereaksi cepat. Namun, pada penderita insomnia, sistem alarm ini sering kali
aktif di waktu yang tidak tepat—terutama pada malam hari ketika tubuh
seharusnya memasuki fase istirahat.
Dalam kondisi
insomnia, otak mengalami apa yang disebut sebagai hyperarousal, yaitu keadaan
siaga berlebihan. Amygdala menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan kecil,
bahkan terhadap pikiran internal seperti kekhawatiran ringan atau ingatan yang
tidak menyenangkan. Sesuatu yang seharusnya netral bisa terasa mengganggu.
Keheningan kamar tidur dapat memicu perasaan tidak nyaman, dan pikiran
sederhana dapat berkembang menjadi rangkaian overthinking yang sulit
dihentikan.
Secara normal,
aktivitas amygdala dikendalikan oleh prefrontal cortex, bagian otak depan yang
berfungsi dalam pengambilan keputusan dan pengaturan emosi. Prefrontal cortex
membantu menilai situasi secara rasional dan menenangkan respons emosional yang
berlebihan. Namun kurang tidur justru melemahkan fungsi pengendalian ini.
Ketika seseorang mengalami insomnia berulang, kemampuan prefrontal cortex untuk
menenangkan amygdala menurun. Akibatnya, reaksi emosional menjadi lebih intens
dan lebih sulit dikendalikan.
Interaksi ini
menciptakan lingkaran yang saling memperkuat. Ketika seseorang sulit tidur,
amygdala menjadi semakin sensitif keesokan harinya. Sensitivitas ini
meningkatkan kecemasan dan respons stres, yang pada malam berikutnya kembali
menghambat proses tidur. Dalam jangka panjang, pola ini dapat memengaruhi
stabilitas emosi, meningkatkan risiko gangguan kecemasan, dan menurunkan
kualitas hidup secara keseluruhan.
Insomnia, merupakan
kebiasaan atau kurang disiplin yang juga melibatkan dinamika antara sistem
emosi dan sistem regulasi otak. Amygdala yang terlalu waspada membuat otak
merasa seolah-olah masih ada ancaman, sehingga tubuh sulit berpindah ke mode
relaksasi yang diperlukan untuk tidur nyenyak.
Tidur proses
penting yang menentukan kesehatan fisik, mental, dan fungsi otak kita sehari‑hari.
Secara biologis, tidur adalah fase pemulihan. Di malam hari, otak membersihkan
sisa metabolisme dan zat sisa yang menumpuk selama kita terjaga. Proses ini
penting untuk menjaga kejernihan berpikir, daya ingat, dan kesehatan saraf
dalam jangka panjang. Tanpa tidur yang cukup, otak tidak sempat melakukan
“perawatan rutin” ini, sehingga kita merasa lebih lambat, sulit fokus, dan
mudah lupa.
Tidur juga
berperan besar dalam pembentukan memori. Informasi yang kita pelajari di siang
hari diproses ulang dan diperkuat saat tidur. Itulah sebabnya kurang tidur
dapat mengganggu konsentrasi dan kemampuan belajar, baik pada anak, remaja,
maupun orang dewasa.
Dari sisi
emosional, tidur membantu menstabilkan suasana hati. Saat kita kurang tidur,
bagian otak yang mengatur emosi menjadi lebih reaktif, sehingga kita lebih
mudah marah, cemas, atau sensitif. Tidur yang cukup membantu otak
menyeimbangkan kembali respons emosional sehingga kita lebih tenang dan
rasional.
Tubuh pun sangat
bergantung pada tidur. Saat tidur, terjadi perbaikan jaringan, pengaturan
hormon, dan penguatan sistem imun. Hormon pertumbuhan dilepaskan, sel‑sel
diperbaiki, dan sistem kekebalan bekerja lebih optimal. Kurang tidur dalam
jangka panjang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan
metabolisme, dan penurunan daya tahan tubuh.
Selain itu,
tidur berperan dalam keseimbangan hormon yang mengatur nafsu makan. Kurang
tidur dapat meningkatkan hormon yang memicu rasa lapar dan menurunkan hormon
yang memberi rasa kenyang, sehingga berpengaruh pada berat badan dan
metabolisme.
Secara
keseluruhan, tidur adalah fondasi kesehatan. Ia memengaruhi cara kita berpikir,
merasa, mengambil keputusan, dan menjaga tubuh tetap kuat. Tidur yang cukup adalah
kebutuhan biologis yang menentukan kualitas hidup kita setiap hari.
Jika Anda ingin,
saya bisa jelaskan berapa kebutuhan tidur ideal berdasarkan usia atau bagaimana
cara meningkatkan kualitas tidur secara alami.
Tidur dan
insomnia melibatkan mekanisme biologis yang kompleks di dalam otak. Ketika
tidur terganggu, yang terpengaruh termasuk sistem emosi, respons stres, dan
keseimbangan saraf yang mengatur rasa aman. Untuk memahami mengapa seseorang
bisa tetap terjaga meskipun tubuhnya lelah, kita perlu melihat lebih dalam pada
salah satu pusat emosi di otak yang berperan besar dalam kewaspadaan dan
kecemasan. Di sinilah peran amygdala menjadi penting untuk dibahas dalam
kaitannya dengan tidur dan gangguan insomnia. Semangat teman-teman semoga kita
termasuk orang-orang yang terbebas dari insomnia yang cukup melelahkan. Sehat
dan segar setiap hari dengan cukup tidur pada malam hari.
