Oleh: Siti Hajar
Stres sering kita anggap sebagai musuh. Sesuatu yang harus dihindari, ditekan, atau bahkan disembunyikan. Padahal, jika dipahami dengan tenang, stres sebenarnya hanyalah alarm alami yang dipasang oleh tubuh untuk memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa sistem perlindungan diri sedang bekerja.
Ketika tekanan
datang, otak membaca situasi sebagai ancaman. Tubuh pun langsung masuk ke mode
siaga. Jantung berdetak lebih cepat, napas menjadi pendek, otot menegang, dan
pikiran terasa penuh. Semua itu terjadi bukan karena kita tidak kuat, tetapi
karena tubuh sedang berusaha menjaga kita. Masalahnya muncul ketika alarm ini
terus berbunyi tanpa henti, bahkan saat sebenarnya tidak ada bahaya nyata.
Mengelola stres
dengan bijak dimulai dari satu langkah sederhana namun sering sulit dilakukan,
yaitu menerima bahwa merasa lelah, khawatir, atau tertekan adalah bagian normal
dari menjadi manusia. Banyak orang justru menambah beban dengan menyalahkan diri
sendiri karena tidak bisa selalu tenang. Padahal, penerimaan adalah pintu
pertama menuju ketenangan. Saat kita berhenti melawan perasaan yang datang,
ketegangan biasanya mulai melunak.
Dalam kondisi
stres, bagian otak yang mengatur emosi bekerja lebih dominan dibandingkan
bagian yang bertugas berpikir jernih. Karena itu, mencoba menenangkan diri
hanya dengan nasihat logis sering tidak langsung berhasil. Yang lebih efektif
justru menenangkan tubuh terlebih dahulu. Napas yang diperlambat, bahu yang
dilonggarkan, dan jeda singkat untuk duduk diam bisa memberi sinyal pada otak
bahwa keadaan aman. Ketika tubuh mulai rileks, pikiran biasanya ikut mereda.
Langkah
berikutnya adalah mengenali sumber stres yang sebenarnya. Tidak jarang yang
membuat kita lelah bukanlah masalah itu sendiri, melainkan pikiran yang
berputar-putar tanpa henti tentang kemungkinan terburuk. Dengan bertanya jujur
pada diri—apa yang benar-benar terjadi sekarang, mana yang bisa dikendalikan,
dan mana yang hanya kekhawatiran—kita membantu otak berpindah dari mode panik
ke mode memahami.
Mengelola stres
juga berarti berani mengurangi tekanan, bukan memaksakan diri untuk selalu
kuat. Tubuh dan pikiran memiliki batas. Mengatur ritme antara bekerja dan
beristirahat bukan tanda kemalasan, melainkan bentuk kebijaksanaan. Tidak semua
hal harus diselesaikan sekaligus, dan tidak semua tuntutan harus dipenuhi saat
itu juga. Terkadang yang paling menyembuhkan justru izin untuk berhenti sejenak
tanpa rasa bersalah.
Di sisi lain,
emosi juga membutuhkan ruang untuk diisi ulang. Percakapan hangat, langkah kaki
yang pelan, tulisan sederhana di atas kertas, atau doa yang lirih dapat menjadi
cara halus untuk menenangkan sistem saraf. Aktivitas yang tampak kecil sering
memberi dampak besar karena dilakukan dengan kesadaran, bukan pelarian.
Penting juga
untuk menyadari bahwa sering kali masalah hanya satu, tetapi pikiran tentang
masalah bisa berlapis-lapis. Cerita yang terus berulang di kepala dapat
memperbesar tekanan melebihi kenyataan. Saat kita mampu berkata dalam hati
bahwa ini hanyalah kecemasan yang sedang lewat, jarak emosional mulai tercipta.
Dari jarak itu, kita bisa melihat situasi dengan lebih jernih.
Mengelola stres
dengan bijak bukan berarti menjadi pribadi yang selalu tenang tanpa gejolak.
Kebijaksanaan justru lahir ketika kita mengenal sinyal tubuh, memahami batas
diri, dan tahu kapan harus melangkah serta kapan perlu berhenti. Stres tetap
akan datang sebagai bagian dari kehidupan, tetapi ia tidak harus menetap dan
menguasai.
Stres adalah alarm. Ia berguna ketika berbunyi pada saat yang tepat. Namun tubuh dan jiwa juga membutuhkan kemampuan untuk mematikannya, agar keseimbangan kembali hadir. Ketika otak merasa aman, detak jantung melambat, napas menjadi dalam, dan pikiran menemukan ruangnya kembali. Di sanalah kita belajar bahwa ketenangan bukan berarti tanpa tekanan, melainkan kemampuan untuk kembali pulang ke dalam diri setiap kali dunia terasa terlalu bising.[]
