Oleh: Siti Hajar
Fenomena
membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain di media sosial itu
sangat manusiawi. Apalagi sekarang, platform seperti Instagram, TikTok, atau Facebook
dipenuhi potongan-potongan hidup yang terlihat indah, rapi, dan seolah tanpa
cela.
Padahal, yang
kita lihat sering kali bukan kehidupan utuh—melainkan versi terbaik yang sudah
dipilih, diedit, bahkan difilter.
Ketika seseorang mulai membandingkan hidupnya
dengan orang lain, ada beberapa hal yang sebenarnya sedang terjadi di dalam
dirinya. Ia sedang menilai dirinya sendiri, mengukur pencapaiannya, bahkan
tanpa sadar mempertanyakan apakah dirinya “cukup”.
Apakah ini iri?
Bisa iya, bisa juga tidak.
Iri dalam arti negatif adalah ketika seseorang
merasa tidak suka melihat kebahagiaan orang lain, bahkan berharap orang itu
tidak memilikinya. Tapi yang sering terjadi di media sosial justru lebih halus
dari itu—bukan iri yang tajam, melainkan perasaan “mengapa hidupku tidak
seperti itu?” Ini lebih dekat pada rasa kurang, insecure, atau kehilangan rasa
syukur.
Dan ini penting: perasaan itu tidak membuat
seseorang buruk. Itu tanda bahwa ia sedang lelah, sedang butuh jeda, atau
sedang kehilangan arah pembanding yang sehat.
Seberapa besar pengaruhnya terhadap kesehatan
mental?
Cukup besar, terutama jika terjadi terus-menerus.
Dalam kajian Psikologi Sosial, ada konsep yang
disebut Social Comparison Theory—bahwa manusia secara alami membandingkan
dirinya dengan orang lain untuk memahami posisi dirinya. Masalahnya, di media
sosial kita hampir selalu membandingkan “belakang layar kita” dengan “panggung
depan orang lain”.
Akibatnya bisa
berupa:
- rasa
tidak percaya diri yang meningkat
- kecemasan dan overthinking
- merasa tertinggal dalam hidup
- bahkan
bisa memicu gejala seperti Depresi ringan hingga sedang jika tidak
dikelola
Yang paling halus tapi berbahaya adalah hilangnya
rasa cukup. Padahal, hidup seseorang sebenarnya sedang baik-baik saja—hanya
terasa kurang karena terlalu sering melihat hidup orang lain yang tampak
“lebih”.
Namun, media sosial tidak selalu buruk.
Jika digunakan dengan sadar, justru bisa menjadi
sumber inspirasi. Melihat orang lain sukses bisa menjadi pemantik semangat,
bukan pemicu rasa rendah diri. Kuncinya bukan pada apa yang kita lihat, tapi
bagaimana kita memaknainya.
Ada perbedaan tipis tapi penting:
- “Aku
ingin seperti dia, aku akan berusaha” → ini inspirasi
- “Aku
tidak akan pernah bisa seperti dia” → ini yang melemahkan
Mungkin yang perlu dijaga bukan hanya seberapa
lama kita menggunakan media sosial, tapi juga bagaimana kondisi hati saat
membukanya.
Kalau hati sedang lelah, membandingkan diri itu
jadi lebih mudah. Tapi kalau hati sedang penuh syukur, melihat hidup orang lain
justru terasa menyenangkan, bahkan ikut bahagia.
Pada akhirnya, setiap orang punya jalan hidup yang
berbeda. Media sosial hanya menampilkan hasil, bukan proses panjang di
belakangnya.
Dan hidup yang tidak terlihat di layar—yang
sederhana, yang tenang, yang penuh makna di rumah sendiri—sering kali justru
adalah hidup yang paling utuh.
Apa pesan bijak bagi orang sulit memfilter
diri dengan FYP yang datang pada media sosialnya
Ada satu kenyataan yang sering luput kita sadari:
FYP itu bukan “datang begitu saja”, tapi perlahan dibentuk dari apa yang kita
lihat, kita tonton, kita ulang, bahkan yang diam-diam kita sukai di dalam
hati—terutama di platform seperti TikTok atau Instagram.
Jadi ketika seseorang merasa sulit memfilter diri
dari FYP, sebenarnya ia bukan hanya sedang “diserang” oleh konten, tapi juga
sedang berhadapan dengan kebiasaan kecilnya sendiri yang terus memberi sinyal
pada algoritma.
Pesan bijaknya bukan sekadar “hindari” atau
“jangan lihat”, karena itu sering tidak realistis. Yang lebih penting adalah
membangun kesadaran saat sedang melihat.
Coba pegang satu prinsip sederhana:
“Tidak semua yang lewat di mataku harus
masuk ke dalam hatiku.”
Kita tidak selalu bisa mengontrol apa yang muncul,
tapi kita bisa memilih bagaimana meresponsnya.
Saat ada konten yang memicu perbandingan, rasa
kurang, atau gelisah—tidak perlu dilawan dengan keras. Cukup disadari: “Ini
bukan hidupku. Ini hanya potongan hidup orang lain.” Lalu geser.
Ada juga pesan yang lebih dalam, dan ini sering
terasa menenangkan:
“Apa yang sering kamu lihat, perlahan akan
membentuk apa yang kamu rasa.”
Kalau setiap hari yang dilihat adalah kemewahan,
kesempurnaan, atau pencapaian orang lain, hati akan pelan-pelan merasa
tertinggal. Tapi kalau yang dilihat mulai diubah—konten ilmu, ketenangan,
motivasi—maka rasa di dalam diri juga ikut berubah.
Jadi, memfilter diri bukan hanya soal menolak,
tapi juga mengganti.
Mulai dari hal
kecil:
- lebih
cepat skip konten yang membuat hati tidak nyaman
- lebih
sering menyimpan atau menyukai konten yang memberi nilai
- berani unfollow atau mute akun yang membuat lelah,
tanpa rasa bersalah
Dan yang paling penting, ingat ini baik-baik:
“FYP itu tidak lebih besar dari arah
hidupmu.”
Ia hanya arus kecil. Kamu tetap pemilik kendali.
Kalau hari ini terasa sulit, tidak apa-apa. Tidak
harus langsung sempurna. Cukup satu langkah kecil: lebih sadar, lebih memilih,
dan lebih menjaga hati.
Karena pada akhirnya, yang perlu kita lindungi
bukan mata kita—tapi ketenangan di dalam diri.
