Hei.. Ini Pizza Pertamaku


Oleh: Siti Hajar

Aku baru saja membeli oven baru. Alhamdulillah, beberapa hari terakhir dapurku terasa seperti ruang eksperimen kecil yang menyenangkan. Aku mulai dari yang sederhana. Mula-mula mencoba membuat bolu pisang. Aromanya manis dari pisang dan khas roti manis memenuhi dapur ketika keluar dari oven membuatku merasa seperti menemukan mainan baru. Lalu aku mencoba membuat roti isi cokelat dan pisang. Tidak sempurna, tapi suamiku mengatakan ini nilainya 85/100 olalala, hati riang gembira. Tentu saja, tapi cukup membuatku tersenyum puas. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan ketika sesuatu yang kita buat sendiri mengembang dengan baik di dalam oven.

Dan tahukah kamu, hari ini aku mencoba membuat pizza sederhana. Resepnya aku contek dari YouTube. Aku mengikuti langkah-langkahnya dengan cukup hati-hati, meskipun beberapa kali sempat ragu apakah adonannya sudah benar atau belum. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya aku benar-benar membuat pizza dari roti buatanku sendiri.

Topping-nya juga tidak rumit. Hanya sosis yang kupotong kecil-kecil, irisan bawang bombay, taburan keju cheddar, lalu dua jenis saus yang kebetulan ada di dapur: saus spageti bolognese dan saus pedas Indofood. Sederhana sekali sebenarnya. Bahkan mungkin terlalu sederhana jika dibandingkan dengan pizza yang biasa dijual di restoran.

Tetapi justru di situlah letak keindahannya.

Ketika loyang itu akhirnya masuk ke dalam oven, aku menunggu dengan perasaan campur aduk—antara penasaran dan sedikit khawatir. Apakah rotinya akan matang dengan baik? Apakah topping-nya akan terasa pas? Atau justru semuanya akan terasa aneh?

Beberapa menit kemudian, aroma roti yang dipanggang mulai memenuhi dapur. Bau bawang bombay yang sedikit manis bercampur dengan keju yang mulai meleleh. Aku membuka oven perlahan dan melihat pizza kecil itu berubah warna menjadi keemasan. Saat itulah ada rasa bahagia yang sederhana muncul begitu saja.

Ketika akhirnya aku mencicipinya, aku hampir tidak percaya pada diriku sendiri.

Ternyata jika aku mau, aku bisa membuat pizza.

Rasanya mungkin tidak sekelas pizza restoran besar, tetapi cukup enak menurut lidahku yang memang bukan penyuka pizza. Rotinya lembut, topping-nya terasa gurih, dan perpaduan sausnya memberi sedikit rasa pedas yang menyenangkan. Lebih dari sekadar rasa, ada kepuasan kecil yang tumbuh di dalam hati: kepuasan karena mencoba sesuatu yang baru dan ternyata berhasil.

Sudah seharusnya aku bersyukur bahwa jika kita mau dan mengerjakan dengan bersungguh-sungguh, apa yang kita mau tentu kitab isa melakukannya. Yang dibutuhkan hanya keberanian kecil untuk memulai—meskipun hanya dari sebuah resep sederhana yang kita tonton di YouTube.

Dan hari ini, dari sebuah pizza sederhana dengan topping yang tidak terlalu istimewa, aku belajar untuk sedikit lebih percaya pada diriku sendiri. Senangnya, akhirnya aku bisa membuat pizza kesukaan anak dan suamiku. Alhamdulillah. Jika mau kamu juga bisa.

 

Lebih baru Lebih lama