Aku baru saja
membeli oven baru. Alhamdulillah, beberapa hari terakhir dapurku terasa seperti
ruang eksperimen kecil yang menyenangkan. Aku mulai dari yang sederhana.
Mula-mula mencoba membuat bolu pisang. Aromanya manis dari pisang dan khas roti
manis memenuhi dapur ketika keluar dari oven membuatku merasa seperti menemukan
mainan baru. Lalu aku mencoba membuat roti isi cokelat dan pisang. Tidak
sempurna, tapi suamiku mengatakan ini nilainya 85/100 olalala, hati riang
gembira. Tentu saja, tapi cukup membuatku tersenyum puas. Ada rasa senang yang
sulit dijelaskan ketika sesuatu yang kita buat sendiri mengembang dengan baik
di dalam oven.
Dan tahukah
kamu, hari ini aku mencoba membuat pizza sederhana. Resepnya aku contek dari
YouTube. Aku mengikuti langkah-langkahnya dengan cukup hati-hati, meskipun
beberapa kali sempat ragu apakah adonannya sudah benar atau belum. Bagaimanapun
juga, ini adalah pertama kalinya aku benar-benar membuat pizza dari roti
buatanku sendiri.
Topping-nya juga
tidak rumit. Hanya sosis yang kupotong kecil-kecil, irisan bawang bombay,
taburan keju cheddar, lalu dua jenis saus yang kebetulan ada di dapur: saus
spageti bolognese dan saus pedas Indofood. Sederhana sekali sebenarnya. Bahkan
mungkin terlalu sederhana jika dibandingkan dengan pizza yang biasa dijual di
restoran.
Tetapi justru di
situlah letak keindahannya.
Ketika loyang
itu akhirnya masuk ke dalam oven, aku menunggu dengan perasaan campur
aduk—antara penasaran dan sedikit khawatir. Apakah rotinya akan matang dengan
baik? Apakah topping-nya akan terasa pas? Atau justru semuanya akan terasa
aneh?
Beberapa menit
kemudian, aroma roti yang dipanggang mulai memenuhi dapur. Bau bawang bombay
yang sedikit manis bercampur dengan keju yang mulai meleleh. Aku membuka oven
perlahan dan melihat pizza kecil itu berubah warna menjadi keemasan. Saat
itulah ada rasa bahagia yang sederhana muncul begitu saja.
Ketika akhirnya
aku mencicipinya, aku hampir tidak percaya pada diriku sendiri.
Ternyata jika
aku mau, aku bisa membuat pizza.
Rasanya mungkin
tidak sekelas pizza restoran besar, tetapi cukup enak menurut lidahku yang
memang bukan penyuka pizza. Rotinya lembut, topping-nya terasa gurih, dan
perpaduan sausnya memberi sedikit rasa pedas yang menyenangkan. Lebih dari
sekadar rasa, ada kepuasan kecil yang tumbuh di dalam hati: kepuasan karena
mencoba sesuatu yang baru dan ternyata berhasil.
Sudah seharusnya
aku bersyukur bahwa jika kita mau dan mengerjakan dengan bersungguh-sungguh,
apa yang kita mau tentu kitab isa melakukannya. Yang dibutuhkan hanya
keberanian kecil untuk memulai—meskipun hanya dari sebuah resep sederhana yang
kita tonton di YouTube.
Dan hari ini,
dari sebuah pizza sederhana dengan topping yang tidak terlalu istimewa, aku
belajar untuk sedikit lebih percaya pada diriku sendiri. Senangnya, akhirnya
aku bisa membuat pizza kesukaan anak dan suamiku. Alhamdulillah. Jika mau kamu
juga bisa.
