Resensi Buku Filosofi Teras Karya Henry Manampiring: Belajar Hidup Lebih Sadar

 


Oleh: Siti Hajar

Ada satu hal yang membuat saya menyukai buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Buku ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Tidak terasa seperti membaca buku filsafat yang berat dan jauh dari realitas, tetapi justru seperti membaca cermin yang memantulkan kembali kebiasaan hidup kita sehari-hari.

Di zaman digital seperti sekarang, kehidupan kita berjalan sangat cepat. Pagi hari dimulai dengan membuka ponsel, melihat pesan yang masuk, membaca berita yang berseliweran, lalu tanpa sadar kita sudah berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Media sosial membuat kita terus terhubung, tetapi pada saat yang sama sering membuat kita tidak benar-benar hadir dalam kehidupan yang sedang kita jalani. Banyak hal berlalu begitu saja tanpa kita sadari. Hari bergerak cepat, sementara kesadaran kita tertinggal di belakang. Kita hidup seperti sedang berada dalam mode auto-pilot.

Di titik inilah Filosofi Teras terasa begitu relevan. Buku ini memperkenalkan kembali pemikiran Stoikisme—sebuah filsafat kuno dari Yunani dan Romawi—dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Inti ajarannya sebenarnya tidak rumit: manusia perlu belajar membedakan mana yang berada dalam kendali dirinya dan mana yang tidak. Banyak kegelisahan muncul karena kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasa kita—pendapat orang lain, komentar di media sosial, berita yang membuat marah, atau kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna.

Ketika membaca buku ini, saya seperti diingatkan bahwa sebagian besar kegaduhan dalam hidup sering datang dari luar diri kita. Dunia digital menyediakan begitu banyak stimulus yang memancing emosi. Satu komentar kecil bisa membuat seseorang kesal sepanjang hari. Satu berita bisa membuat kita gelisah meskipun kita tidak punya kendali apa pun terhadapnya. Tanpa sadar, kita menjadi reaktif terhadap hampir semua hal.

Stoikisme yang dijelaskan Henry Manampiring justru menawarkan cara berpikir yang lebih tenang. Alih-alih bereaksi terhadap segala sesuatu, kita diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar berada dalam kendali saya? Jika tidak, mungkin tidak perlu menghabiskan energi pikiran untuk itu.

Bagi saya, kekuatan terbesar buku ini adalah kemampuannya menghubungkan filsafat kuno dengan kehidupan modern. Stoikisme yang lahir ribuan tahun lalu ternyata tetap relevan di era media sosial. Bahkan mungkin lebih relevan dari sebelumnya. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, manusia justru semakin membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan pikiran dan emosinya sendiri.

Membaca Filosofi Teras seperti diajak kembali mengambil kendali kecil atas diri kita. Bukan dengan cara melarikan diri dari dunia, tetapi dengan belajar lebih sadar terhadap apa yang sedang terjadi dalam pikiran kita. Jika selama ini kita sering hidup dalam mode auto-pilot, buku ini seperti mengingatkan bahwa manusia sebenarnya memiliki kemampuan untuk kembali “memegang kemudi”.

Buku ini tidak hanya berbicara tentang filsafat, tetapi juga tentang cara menjalani hidup dengan lebih tenang di tengah dunia yang bising. Dan mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa buku ini sangat relate dengan kehidupan mereka hari ini.

Hari ini saya mulai menerapkan prinsip mindfulness, awareness dan intentionality. Jadi saya belajar banyak dari buku ini. Mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran. ini penting untuk menjaga kesehatan mental dan juga membuat lebih bersemangat dengan tubuh yang sehat dan batin yang tenang

Ada satu hal yang perlahan saya sadari setelah membaca Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Buku ini bukan hanya menawarkan gagasan tentang filsafat Stoikisme, tetapi juga mengajak kita mengubah cara menjalani kehidupan sehari-hari.

Di tengah dunia yang dipenuhi notifikasi, media sosial, dan arus informasi yang tak pernah berhenti, sering kali kita hidup dalam mode auto-pilot. Tangan bergerak membuka ponsel, mata menelusuri layar, pikiran meloncat dari satu informasi ke informasi lain. Tanpa disadari, waktu berlalu begitu saja. Hari terasa sibuk, tetapi tidak selalu benar-benar kita jalani dengan penuh kesadaran.

Ketika membaca buku ini, saya seperti diingatkan kembali untuk memperlambat langkah. Ada tiga hal yang mulai saya coba praktikkan dalam kehidupan sehari-hari: mindfulness, awareness, dan intentionality. Tiga kata ini mungkin terdengar sederhana, tetapi maknanya cukup dalam.

Mindfulness mengajarkan kita untuk hadir sepenuhnya pada apa yang sedang kita lakukan. Ketika bekerja, kita benar-benar bekerja. Ketika berbicara dengan orang lain, kita benar-benar mendengarkan. Bahkan dalam aktivitas sederhana seperti minum teh atau berjalan kaki, kita belajar merasakan momen itu dengan lebih utuh.

Awareness membuat kita lebih peka terhadap apa yang sedang terjadi di dalam diri kita sendiri—pikiran, emosi, bahkan reaksi kecil yang sering muncul tanpa kita sadari. Kita mulai mengenali kapan kita sedang marah, kapan kita sedang cemas, dan kapan kita sedang terseret oleh sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Sedangkan intentionality mengajarkan bahwa setiap tindakan sebaiknya dilakukan dengan niat yang jelas. Bukan sekadar bergerak mengikuti kebiasaan atau dorongan sesaat, tetapi benar-benar memilih apa yang ingin kita lakukan dan mengapa kita melakukannya.

Ketika ketiga hal ini mulai dipraktikkan, ada perubahan kecil yang terasa. Pekerjaan terasa lebih fokus. Pikiran tidak terlalu mudah terpecah. Bahkan tubuh terasa lebih ringan karena batin tidak lagi terlalu dipenuhi oleh kegaduhan yang tidak perlu.

Bagi saya, inilah pelajaran penting dari Filosofi Teras. Filsafat tidak selalu harus menjadi sesuatu yang rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: belajar melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran.

Dan mungkin di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan untuk hidup dengan kesadaran seperti ini justru menjadi salah satu cara paling penting untuk menjaga kesehatan mental, menumbuhkan semangat hidup, serta merawat tubuh yang sehat dan batin yang tenang.
Lebih baru Lebih lama