Oleh: Siti Hajar
“Menurutku, walau belum ada
pernyataan resmi, saat ini World War III sudah dimulai.”
Kalimat itu mungkin terdengar
berlebihan bagi sebagian orang. Namun jika kita memperhatikan dunia hari ini
dengan sedikit lebih tenang, perasaan seperti itu sebenarnya tidak muncul tanpa
alasan. Kita hidup pada masa ketika ketegangan antarnegara terasa semakin
terbuka. Bahasa politik menjadi lebih keras, perlombaan senjata kembali
menguat, dan konflik muncul di banyak tempat seolah menjadi kabar yang terus
berulang.
Kegelisahan seperti ini membuat
kita kembali bertanya pada satu hal yang sangat mendasar: mengapa manusia terus
berperang?
Pertanyaan itu sebenarnya sudah
lama dibahas dalam psikologi, sejarah, bahkan filsafat. Ada pandangan yang
melihat perang sebagai bagian dari naluri manusia untuk bertahan hidup dan
mempertahankan kelompoknya. Dalam kajian psikologi evolusioner, laki-laki dalam
sejarah panjang manusia sering mengambil peran sebagai pelindung kelompok dan
pemburu. Hormon seperti testosteron juga dikaitkan dengan kecenderungan
kompetisi, dominasi, dan keberanian mengambil risiko. Itu tidak berarti semua
laki-laki agresif, tetapi secara statistik kecenderungan kompetitif memang
lebih tinggi.
Namun penjelasan biologis saja
tidak cukup. Sejarah juga menunjukkan bahwa budaya memiliki peran besar. Selama
ribuan tahun, struktur kekuasaan hampir selalu berada di tangan laki-laki—raja,
panglima perang, hingga presiden modern. Dalam banyak budaya, kekuatan dan
kepemimpinan sering dihubungkan dengan kemampuan mengalahkan lawan. Dalam
logika seperti ini, perang sering dipandang sebagai cara menunjukkan kekuasaan.
Di dunia modern, keputusan untuk
berperang jarang berdiri hanya pada emosi seorang pemimpin. Perang sering lahir
dari kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan yang rumit. Perebutan wilayah,
pengaruh geopolitik, sumber daya alam, dan rasa saling curiga antarnegara dapat
menjadi bahan bakar konflik yang perlahan membesar.
Jika melihat tokoh seperti Donald
Trump, misalnya, bahasa politik yang keras atau sikap konfrontatif sering juga
merupakan bagian dari strategi politik. Beberapa pemimpin menggunakan retorika
yang tegas untuk menunjukkan kekuatan kepada lawan politik atau negara lain.
Dalam banyak kasus, bahasa seperti ini lebih merupakan pesan diplomatik
daripada rencana perang yang benar-benar akan dijalankan.
Namun sejarah tetap memberi
pelajaran yang tidak bisa diabaikan. Perang hampir selalu membawa kerugian yang
jauh lebih besar daripada kemenangan yang diraih. Dalam perang, yang hilang
bukan hanya tentara di medan tempur. Yang hilang adalah ayah yang tidak pulang
ke rumah, ibu yang kehilangan anaknya, rumah-rumah yang berubah menjadi puing,
serta masyarakat yang dipaksa membangun kembali hidup mereka dari kehancuran.
Peristiwa seperti World War I
menunjukkan bagaimana perang besar bisa muncul dari rangkaian ketegangan yang
panjang. Banyak orang mengingat perang itu dimulai dari pembunuhan Archduke
Franz Ferdinand pada tahun 1914. Tetapi para sejarawan sepakat bahwa peristiwa
itu hanyalah pemicu. Di baliknya sudah ada nasionalisme yang memanas,
perlombaan senjata, dan sistem aliansi antarnegara yang membuat konflik kecil
berubah menjadi perang yang melibatkan banyak negara.
Dunia seolah belum sepenuhnya
belajar dari tragedi itu. Dua puluh tahun kemudian, dunia kembali jatuh ke
dalam perang yang lebih dahsyat, yaitu World War II. Tokoh seperti Adolf Hitler
sering disebut sebagai figur utama yang memicu perang tersebut. Namun
penyebabnya juga jauh lebih kompleks: krisis ekonomi, ketidakstabilan politik,
serta kegagalan diplomasi internasional untuk meredakan konflik sebelum
terlambat.
Karena itu, ketika kita bertanya
siapa yang harus bertanggung jawab terhadap dampak buruk perang dunia,
jawabannya hampir tidak pernah sederhana. Tanggung jawab itu jarang berada pada
satu orang saja. Ia tersebar pada banyak keputusan, pada sistem politik yang
memungkinkan konflik membesar, dan juga pada kegagalan dunia internasional
untuk menghentikannya sejak awal.
Yang lebih menyedihkan lagi,
kemenangan perang sering hanya dinikmati oleh segelintir elite kekuasaan.
Sementara rakyat biasa justru menanggung sebagian besar penderitaan. Mereka
kehilangan rumah, kehilangan keluarga, dan kehilangan masa depan yang seharusnya
mereka miliki.
Setelah tragedi besar Perang Dunia
II, dunia mencoba membangun sistem untuk mencegah perang besar kembali terjadi.
Salah satu upaya itu adalah pembentukan United Nations, sebuah organisasi
internasional yang diharapkan mampu menyelesaikan konflik melalui diplomasi dan
dialog.
Namun realitas dunia tidak selalu
berjalan sesuai harapan. Persaingan kekuatan global tetap ada. Ketakutan,
ambisi politik, perebutan pengaruh, dan kepentingan ekonomi sering kembali
membawa negara-negara pada ketegangan yang berbahaya.
Karena itu sebagian pengamat
mengatakan bahwa jika suatu hari Perang Dunia III benar-benar terjadi,
bentuknya mungkin tidak akan sama seperti perang-perang besar sebelumnya. Ia
mungkin hadir dalam bentuk perang ekonomi, perang teknologi, perang siber, atau
konflik yang terjadi melalui negara-negara perantara di berbagai wilayah dunia.
Di tengah semua itu, satu hal tetap
terasa jelas: perang selalu meninggalkan luka yang jauh lebih besar daripada
kemenangan yang dirayakan. Sejarah manusia sudah berkali-kali memperlihatkan
hal itu. Namun manusia juga terus berusaha belajar dari masa lalunya, dengan
harapan bahwa suatu hari kebijaksanaan akan lebih kuat daripada dorongan untuk
saling menghancurkan.
