Mengitip Malam Lailatul Qadar


Oleh: Siti Hajar

Bulan Ramadhan bagi umat Muslim adalah bulan yang sangat sakral. Ia bukan sekadar bulan puasa biasa, tetapi bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa puasa adalah ibadah yang pahalanya Allah sendiri yang menilai dan memberikannya secara langsung. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah lainnya.

Keistimewaan lain dari bulan Ramadhan adalah bahwa setan-setan yang biasanya menggoda manusia untuk berbuat keburukan diikat. Artinya, godaan yang datang kepada manusia menjadi jauh berkurang. Dalam keadaan seperti ini, manusia sebenarnya memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah, dan memperbanyak amal kebaikan.

Tidak hanya itu, dalam bulan Ramadhan juga terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu malam Lailatul Qadar. Malam ini menjadi misteri karena tidak diketahui secara pasti jatuh pada malam yang ke berapa. Namun banyak ulama menjelaskan bahwa kemungkinan besar ia berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk lebih giat beribadah pada malam-malam tersebut.

Pada sepuluh malam terakhir inilah semangat ibadah biasanya semakin ditingkatkan. Umat Muslim memperbanyak salat tarawih, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, serta melakukan berbagai amal kebaikan lainnya dengan harapan dapat meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Bagaimana, cara mengintip malam lailatul qadar?

Malam Lailatul Qadar dalam Islam memang sengaja dijadikan misteri oleh Allah. Tujuannya agar manusia tidak hanya beribadah pada satu malam saja, tetapi bersungguh-sungguh pada banyak malam, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Karena itu, dalam ajaran Islam sebenarnya tidak ada cara pasti untuk “mengintip” atau mengetahui secara langsung kapan tepatnya malam tersebut terjadi. Yang bisa dilakukan oleh manusia hanyalah mencari tanda-tandanya dan memperbanyak ibadah.

Beberapa ulama dan hadis Nabi menjelaskan bahwa Lailatul Qadar sering terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Karena itulah umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada malam-malam tersebut: shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan istighfar.

Ada juga beberapa tanda yang sering disebutkan dalam riwayat ulama, walaupun tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam itu berlalu. Misalnya, malam terasa sangat tenang dan damai, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Sebagian orang merasakan ketenangan batin yang luar biasa saat beribadah pada malam itu. Tanda lain yang sering disebut adalah matahari yang terbit keesokan paginya tampak lembut dan tidak menyilaukan.

Namun para ulama selalu mengingatkan bahwa tanda-tanda ini bukan cara pasti untuk memastikan. Bisa jadi seseorang merasakan ketenangan pada malam tertentu, tetapi belum tentu itu Lailatul Qadar. Karena itu, sikap terbaik adalah tidak sibuk mencari malamnya, tetapi memperbanyak ibadahnya.

Rasulullah sendiri memberi contoh yang sangat indah. Ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah bersama. Doa yang sangat dianjurkan pada malam-malam itu adalah:

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memberi maaf, maka maafkanlah aku.”

Jadi, cara “mengintip” Lailatul Qadar yang paling dekat dengan ajaran Islam sebenarnya bukan dengan mencari tanda-tanda secara berlebihan, tetapi dengan mempersiapkan hati dan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir. Dengan begitu, jika malam itu benar-benar datang, kita sedang berada dalam keadaan beribadah dan berharap mendapatkan keberkahannya.

Apa ganjarannya bagi yang beruntung beribadah pada malam lailatul qadar?

Ganjaran bagi orang yang beruntung beribadah pada malam Lailatul Qadar sangat besar dan luar biasa dalam ajaran Islam. Bahkan Al-Qur’an sendiri menggambarkan kemuliaan malam ini dengan bahasa yang sangat tinggi.

Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Seribu bulan itu kira-kira setara dengan lebih dari 83 tahun. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam itu—salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa—nilainya di sisi Allah bisa lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.

Selain pahala yang berlipat ganda, ada juga janji lain yang sangat besar. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan penuh harapan kepada Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Ini menunjukkan bahwa malam tersebut menjadi kesempatan besar bagi manusia untuk memulai hidup dengan hati yang lebih bersih.

Malam itu juga digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian. Para malaikat turun ke bumi membawa rahmat dan keberkahan sampai terbit fajar. Dalam suasana seperti itu, doa-doa yang dipanjatkan seorang hamba diyakini memiliki peluang yang sangat besar untuk dikabulkan.

Karena itulah banyak ulama mengatakan bahwa orang yang benar-benar meraih Lailatul Qadar adalah orang yang mendapatkan keberuntungan besar dalam hidupnya. Ia bukan hanya memperoleh pahala yang luar biasa, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki dirinya, memperbarui hubungannya dengan Allah, dan menata kembali arah hidupnya dengan lebih baik.

Mungkin itulah sebabnya, ketika sepuluh malam terakhir Ramadhan datang, banyak orang berusaha lebih tekun beribadah. Mereka berharap, di antara malam-malam sunyi itu, ada satu malam yang Allah pilihkan untuk mereka—malam yang nilainya lebih berharga daripada puluhan tahun kehidupan manusia.  Semoga kita menjadi muslim yang beruntung mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar. Aamiin. []

 

Lebih baru Lebih lama