Oleh: Siti Hajar
Aku tidak mudik
tahun ini, sebuah keputusan yang mungkin bagi sebagian orang terasa tidak
biasa, namun bagiku justru terasa begitu tenang dan penuh kesadaran, karena aku
mulai memahami bahwa silaturahmi tidak harus selalu menunggu momen Idul Fitri,
tidak harus terikat oleh tanggal dan tradisi yang berulang setiap tahun, sebab
kedekatan itu bisa hidup kapan saja, tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil yang
sering kami sempatkan, dari kepulangan yang tidak harus serentak, dari obrolan
yang tidak harus menunggu hari raya.
Barangkali
karena itulah, tahun ini aku memilih cara yang berbeda, bukan karena menjauh,
melainkan karena ingin merasakan sesuatu yang lebih utuh, lebih jujur, dan
lebih dekat dengan diriku sendiri. Dan kalian tahu aku sudah melakukan ini
selama tiga tahun. Kini aku bebas melakukannya tanpa hambatan dan tanpa
tekanan.
Diam-diam, tanpa
banyak cerita kepada siapa pun, kami merencanakan sebuah perjalanan kecil ke
sebuah pulau yang tidak jauh dari tempat tinggal kami, sebuah tempat yang
mungkin tidak terlalu ramai, yang tidak dipenuhi hiruk-pikuk, tetapi justru
menawarkan keindahan yang sederhana—hamparan laut yang luas, suara ombak yang
datang dan pergi tanpa lelah, dan angin yang berhembus pelan seolah mengajak
siapa saja yang datang untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan. Ha aini sudah
bukan rahasia karena aku sudah mengatakannya kepada kalian. Pembaca setiaku 😊
Aku membayangkan
diriku duduk cukup lama di sana, tidak melakukan apa-apa yang besar, hanya
menatap laut yang seakan tidak pernah selesai bercerita, membiarkan
pikiran-pikiran yang selama ini berdesakan perlahan mengendur, memberi ruang
pada diri sendiri untuk bernapas lebih panjang, lebih dalam, tanpa
terburu-buru.
Kami tidak
membawa banyak rencana, tidak menyusun agenda yang padat, karena kali ini kami
benar-benar ingin menikmati, menikmati kebersamaan yang sering kali terselip di
antara kesibukan, menikmati percakapan yang mengalir tanpa arah namun justru
terasa paling jujur, dan menikmati jeda yang selama ini jarang kami beri tempat
dalam kehidupan yang berjalan cepat dari pagi hingga petang.
Di tengah semua
itu, aku mulai semakin mengenali diriku sendiri, bahwa aku adalah tipe yang
tidak pernah benar-benar puas merayakan sesuatu hanya di permukaannya, selalu
ada dorongan halus yang mengajakku untuk masuk lebih dalam, merasakan lebih
jauh, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa yang datang, mungkin inilah
yang sering disebut sebagai tipe insting, atau dalam bahasa yang lebih modern,
kepribadian seperti ENFP yang hidup dari rasa, dari kemungkinan, dan dari
harapan yang terus tumbuh bahkan di tengah kesederhanaan.
Mungkin karena
itulah, Lebaran kali ini tidak lagi terasa seperti sebuah rangkaian kegiatan
yang harus dijalani, tetapi berubah menjadi ruang yang perlahan mengajakku
kembali, kembali pada diri yang lebih tenang, kembali pada hati yang ingin
hadir sepenuhnya dalam setiap momen, tanpa distraksi, tanpa tekanan, tanpa
keharusan untuk terlihat sempurna.
Di tepi laut itu
nanti, di antara suara ombak yang berulang dan angin yang sejuk menyentuh
wajah, aku ingin membiarkan diriku benar-benar diam, bukan karena tidak
memiliki apa-apa untuk dipikirkan, tetapi karena akhirnya memberi kesempatan
pada diri sendiri untuk tidak selalu harus bergerak, tidak selalu harus
mengejar, tidak selalu harus memenuhi ekspektasi yang datang dari luar.
Dan dari diam
yang sederhana itu, aku percaya akan ada sesuatu yang perlahan kembali, energi
yang mungkin sempat terkuras tanpa terasa, semangat yang sempat meredup karena
rutinitas yang berulang, dan kesiapan untuk kembali menjalani hari-hari yang
menunggu dengan cara yang lebih ringan, lebih jernih, dan lebih utuh.
Karena pada
akhirnya, liburan ini bukan tentang menjauh dari tanggung jawab, bukan pula
tentang melarikan diri dari pekerjaan yang semakin hari terasa semakin
menantang, tetapi tentang bagaimana aku bisa kembali nanti dengan diri yang
lebih siap, lebih segar, dan lebih penuh, untuk menjalani semuanya dengan
semangat yang tidak lagi setengah-setengah.
Mungkin
beginilah caraku merayakan hari raya, sebagai seseorang yang lebih mengandalkan
rasa daripada sekadar bentuk, yang lebih mencari makna daripada sekadar
keramaian, bahwa kembali tidak selalu harus berarti pulang ke kampung halaman,
tetapi juga bisa berarti pulang ke dalam diri sendiri, menemukan kembali
bagian-bagian yang sempat lelah, lalu merangkulnya dengan lebih lembut.
Dan dari sana,
aku ingin melangkah lagi, bukan dengan tergesa, tetapi dengan keyakinan yang
tenang, bahwa apa pun yang menunggu di depan, aku akan menjalaninya dengan
versi diriku yang lebih utuh. Siti Hajar yang masih belajar dalam hal apapun.
Terus memperbaiki diri dari hari ke hari sampai ajal menjemput. Akhirnya ‘Selamat
Hari Raya Idul Fitri’ Mohon maaf Lahir dan Bathin. Salam….[]
