Di setiap tempat
kerja, kita tidak selalu bisa memilih dengan siapa kita akan berinteraksi. Ada
yang hangat dan suportif, ada pula yang tanpa sadar—or maybe justru
sadar—membawa energi yang melelahkan. Kita menyebutnya toxic. Cara kita
merespons situasi seperti ini sering kali bukan sekadar soal logika, tapi
sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang kita miliki.
Tipe kepribadian sanguinis,
misalnya, cenderung menghadapi situasi dengan ringan di awal. Mereka tetap
ramah, bahkan bisa menertawakan hal-hal yang sebenarnya mengganggu. Namun
ketika batas itu terlewati, respons mereka bisa berubah cepat—dari santai
menjadi cukup tegas, meski sering kali tidak bertahan lama. Sanguinis tidak
suka menyimpan beban terlalu lama, tapi justru di situlah tantangannya: menjaga
konsistensi dalam menetapkan batas.
Berbeda dengan
koleris yang sejak awal cenderung tidak memberi ruang bagi perilaku toxic.
Mereka cepat mengenali mana yang menghambat dan tidak segan untuk bersikap
tegas. Bagi koleris, menjaga produktivitas lebih penting daripada menjaga
perasaan yang tidak sehat. Namun, ketegasan ini kadang terasa keras jika tidak
dibalut dengan empati.
Sementara itu,
tipe plegmatis memilih jalan damai. Mereka berusaha menghindari konflik,
menjaga suasana tetap tenang, dan berharap semuanya akan membaik dengan
sendirinya. Sayangnya, sikap ini sering membuat mereka terjebak lebih lama
dalam situasi yang tidak sehat. Mereka bukan tidak tahu, hanya saja terlalu
sabar untuk bereaksi.
Melankolis, di
sisi lain, merasakan semuanya lebih dalam. Mereka peka terhadap perubahan
sikap, kata-kata, bahkan nada bicara. Ketika berhadapan dengan teman toxic,
mereka tidak hanya melihat apa yang terjadi di permukaan, tapi juga
memaknainya. Inilah yang membuat mereka mudah terluka, karena yang diproses
bukan hanya kejadian, tetapi juga arti di baliknya.
Lalu bagaimana
dengan mereka yang berada di antara dua dunia—seperti melankolis–plegmatis?
Aku adalah salah
satunya.
Aku sering kali
merasa dulu, baru kemudian memilih diam. Bukan karena tidak tahu harus berbuat
apa, tapi karena hatiku terlalu sibuk memproses semuanya. Aku bisa langsung
menyadari ketika sesuatu terasa tidak nyaman, namun di saat yang sama, aku juga
ingin menjaga kedamaian. Jadi aku memilih menghindar, sambil berharap keadaan
membaik dengan sendirinya.
Tapi ternyata,
diam tidak selalu menyelesaikan.
Aku pernah
berada di titik di mana aku merasa lelah tanpa tahu harus menjelaskan kepada
siapa. Bukan karena pekerjaan, tapi karena energi yang terkuras dari interaksi
yang tidak sehat. Aku memikirkannya terlalu dalam, menyimpannya terlalu lama,
dan pada akhirnya menyakiti diriku sendiri.
Dari situ aku
belajar, bahwa menjadi tenang bukan berarti harus selalu mengalah. Bahwa
menjaga hubungan tidak boleh mengorbankan diri sendiri. Dan bahwa tidak semua
orang perlu aku pahami sedalam itu.
Aku mulai
belajar membuat batas, pelan-pelan. Tetap ramah, tapi tidak lagi terbuka
sepenuhnya. Tetap hadir, tapi tidak lagi terlibat terlalu jauh. Aku memilih
untuk tidak memasukkan semua sikap orang lain ke dalam hatiku.
Karena pada
akhirnya, bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tapi juga tentang
menjaga diri tetap utuh di tengah berbagai karakter yang kita temui.
Setiap tipe
kepribadian punya caranya sendiri dalam menghadapi teman kerja yang toxic.
Tidak ada yang paling benar, tidak ada yang paling kuat. Yang ada hanyalah
bagaimana kita belajar menyeimbangkan diri—agar tetap menjadi diri sendiri,
tanpa kehilangan batas yang seharusnya kita jaga.
Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan itu tumbuh, saat kita tetap lembut, tapi tidak lagi mudah runtuh. []
