Bagaimana Masing-masing Tipe Kepribadian Menghadapi Teman Kerja yang Toxic



Oleh: Siti Hajar

Di setiap tempat kerja, kita tidak selalu bisa memilih dengan siapa kita akan berinteraksi. Ada yang hangat dan suportif, ada pula yang tanpa sadar—or maybe justru sadar—membawa energi yang melelahkan. Kita menyebutnya toxic. Cara kita merespons situasi seperti ini sering kali bukan sekadar soal logika, tapi sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang kita miliki.

Tipe kepribadian sanguinis, misalnya, cenderung menghadapi situasi dengan ringan di awal. Mereka tetap ramah, bahkan bisa menertawakan hal-hal yang sebenarnya mengganggu. Namun ketika batas itu terlewati, respons mereka bisa berubah cepat—dari santai menjadi cukup tegas, meski sering kali tidak bertahan lama. Sanguinis tidak suka menyimpan beban terlalu lama, tapi justru di situlah tantangannya: menjaga konsistensi dalam menetapkan batas.

Berbeda dengan koleris yang sejak awal cenderung tidak memberi ruang bagi perilaku toxic. Mereka cepat mengenali mana yang menghambat dan tidak segan untuk bersikap tegas. Bagi koleris, menjaga produktivitas lebih penting daripada menjaga perasaan yang tidak sehat. Namun, ketegasan ini kadang terasa keras jika tidak dibalut dengan empati.

Sementara itu, tipe plegmatis memilih jalan damai. Mereka berusaha menghindari konflik, menjaga suasana tetap tenang, dan berharap semuanya akan membaik dengan sendirinya. Sayangnya, sikap ini sering membuat mereka terjebak lebih lama dalam situasi yang tidak sehat. Mereka bukan tidak tahu, hanya saja terlalu sabar untuk bereaksi.

Melankolis, di sisi lain, merasakan semuanya lebih dalam. Mereka peka terhadap perubahan sikap, kata-kata, bahkan nada bicara. Ketika berhadapan dengan teman toxic, mereka tidak hanya melihat apa yang terjadi di permukaan, tapi juga memaknainya. Inilah yang membuat mereka mudah terluka, karena yang diproses bukan hanya kejadian, tetapi juga arti di baliknya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang berada di antara dua dunia—seperti melankolis–plegmatis?

Aku adalah salah satunya.

Aku sering kali merasa dulu, baru kemudian memilih diam. Bukan karena tidak tahu harus berbuat apa, tapi karena hatiku terlalu sibuk memproses semuanya. Aku bisa langsung menyadari ketika sesuatu terasa tidak nyaman, namun di saat yang sama, aku juga ingin menjaga kedamaian. Jadi aku memilih menghindar, sambil berharap keadaan membaik dengan sendirinya.

Tapi ternyata, diam tidak selalu menyelesaikan.

Aku pernah berada di titik di mana aku merasa lelah tanpa tahu harus menjelaskan kepada siapa. Bukan karena pekerjaan, tapi karena energi yang terkuras dari interaksi yang tidak sehat. Aku memikirkannya terlalu dalam, menyimpannya terlalu lama, dan pada akhirnya menyakiti diriku sendiri.

Dari situ aku belajar, bahwa menjadi tenang bukan berarti harus selalu mengalah. Bahwa menjaga hubungan tidak boleh mengorbankan diri sendiri. Dan bahwa tidak semua orang perlu aku pahami sedalam itu.

Aku mulai belajar membuat batas, pelan-pelan. Tetap ramah, tapi tidak lagi terbuka sepenuhnya. Tetap hadir, tapi tidak lagi terlibat terlalu jauh. Aku memilih untuk tidak memasukkan semua sikap orang lain ke dalam hatiku.

Karena pada akhirnya, bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tapi juga tentang menjaga diri tetap utuh di tengah berbagai karakter yang kita temui.

Setiap tipe kepribadian punya caranya sendiri dalam menghadapi teman kerja yang toxic. Tidak ada yang paling benar, tidak ada yang paling kuat. Yang ada hanyalah bagaimana kita belajar menyeimbangkan diri—agar tetap menjadi diri sendiri, tanpa kehilangan batas yang seharusnya kita jaga.

Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan itu tumbuh, saat kita tetap lembut, tapi tidak lagi mudah runtuh. []

Lebih baru Lebih lama