Saat Aku Memasak dengan Penuh Kesadaran


 Oleh: Siti Hajar

Aku tidak tahu sejak kapan semuanya mulai terasa berbeda.

Hal-hal yang dulu kulakukan sekadar untuk selesai, kini justru ingin kunikmati lebih lama. Seperti memasak. Sesederhana itu, tapi entah kenapa kini terasa lebih hidup.

Aku pergi ke pasar, memilih sendiri bahan-bahan yang kubutuhkan. Memegang sayur, memilih yang segar, membayangkan akan menjadi apa nanti di dapurku. Tidak terburu-buru. Tidak sekadar membeli. Aku memilih bahan-bahan terbaik versi aku. Tentu saja menyesuaiakannya denga nisi dompetku. Hihihi ….

Lalu di rumah, aku memulai prosesnya. Pelan-pelan sambil. Aku mempercantik bentuk dan ukuran sayurnya.

Saat membuat bolu, Mulai dari menimbang tepung. Mengocok telur dan gula dengan mixer, mendengar suaranya yang berputar seperti irama kecil di dapurku. Menambahkan margarin, sedikit garam, dan sedikit pengembang. Tidak ada yang istimewa, sebenarnya. Tapi aku ada di sana. Sepenuhnya.

Aku menunggui. Sampai alarm berbunyi. Tanda bahwa bolu pisang itu sudah matang.

Dan entah kenapa, momen seperti itu terasa penuh.

Begitu juga kemarin, saat aku memasak sayur asem.

Menu yang mungkin bagi orang lain biasa saja. Tapi tidak untukku. Itu adalah makanan kesukaan suamiku. Dan lucunya, aku baru benar-benar memasaknya setelah hampir sepuluh tahun pernikahan kami.

Aku melihatnya makan.

Lahap. Tenang. Tanpa banyak kata. Bahkan ia menghabiskan kuahnya sampai tersisa bersih di piring.

Dan di situlah aku mengerti…

Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk pujian. Tidak selalu dalam kalimat, “masakanmu enak sekali.” Tapi justru dalam hal yang lebih jujur—yang tidak dibuat-buat, yang tidak disembunyikan.

Ia bahagia. Dan aku melihat itu.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar menikmati momen itu.

Mungkin ini yang disebut hadir.
Tidak hanya sekadar melakukan, tapi benar-benar berada di dalam setiap prosesnya.

Dan ternyata… hidup bisa sesederhana ini, tapi terasa hidup benar-benar hidup. []

 

Lebih baru Lebih lama