Mengatasi Overthinking dengan Mindfulness agar Pikiran Lebih Tenang


Oleh: Siti Hajar

Ada masa dalam hidup ketika tubuh terlihat biasa saja, wajah masih bisa tersenyum, pekerjaan tetap berjalan, obrolan masih terdengar normal, tetapi di dalam kepala ada begitu banyak hal yang terus berputar tanpa henti. Pikiran terasa penuh. Hati terasa lelah. Bahkan saat malam datang dan tubuh ingin beristirahat, kepala justru sibuk memikirkan banyak kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai overthinking.

Overthinking adalah keadaan ketika seseorang berpikir terlalu banyak terhadap suatu masalah, situasi, perkataan orang lain, masa lalu, bahkan masa depan yang belum tentu terjadi. Pikiran terus berputar, mengulang kejadian, membayangkan kemungkinan buruk, menyesali keputusan, atau merasa takut terhadap sesuatu yang belum tentu nyata.

Seseorang yang mengalami overthinking sering kali terlihat diam, tetapi pikirannya sangat ramai. Hal kecil bisa dipikirkan berulang kali. Sebuah pesan yang belum dibalas, ekspresi seseorang yang berubah sedikit saja, atau kesalahan kecil di masa lalu bisa terus menghantui berhari-hari.

Yang melelahkan dari overthinking bukan hanya banyaknya pikiran, tetapi karena pikiran itu tidak pernah benar-benar selesai. Semakin dipikirkan, semakin muncul kemungkinan baru. Semakin dicari jawabannya, semakin muncul kecemasan lain.

Tidak jarang seseorang akhirnya merasa capek sendiri.

Mengapa seseorang mudah overthinking?

Jawabannya tidak sesederhana karena “terlalu banyak berpikir”. Ada banyak hal yang membuat seseorang lebih rentan mengalami overthinking.

Sebagian orang tumbuh di lingkungan yang penuh kritik sehingga terbiasa takut salah. Ada juga yang pernah mengalami kegagalan, kehilangan, penolakan, atau pengkhianatan sehingga pikirannya terus waspada agar tidak terluka lagi. Sebagian lainnya memiliki beban hidup yang berat tetapi terbiasa memendam semuanya sendiri.

Overthinking juga sering muncul pada orang yang terlalu ingin semuanya berjalan sempurna. Mereka takut mengecewakan orang lain, takut membuat kesalahan, takut dianggap buruk, atau takut kehilangan sesuatu yang berharga.

Ironisnya, orang yang sering overthinking biasanya adalah orang yang peduli. Mereka memikirkan banyak hal karena hati mereka tidak benar-benar cuek. Hanya saja, jika tidak dikelola dengan baik, kepedulian itu berubah menjadi kelelahan mental.

Media sosial juga ikut memperparah keadaan. Kita terlalu sering membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di layar. Akibatnya, pikiran menjadi penuh dengan rasa kurang, takut tertinggal, dan merasa diri tidak cukup baik.

Lalu bagaimana cara cerdas mengatasi overthinking?

Hal pertama yang perlu dipahami adalah overthinking tidak bisa diselesaikan hanya dengan berkata, “Sudah, jangan dipikirkan.” Pikiran manusia tidak bekerja sesederhana itu. Semakin dipaksa berhenti, kadang justru semakin ramai.

Yang lebih penting adalah belajar mengelola pikiran dengan lebih sehat.

Mulailah dengan menyadari bahwa tidak semua hal harus kita kontrol. Ada banyak hal di dunia ini yang memang berada di luar kendali manusia. Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kemungkinan buruk sampai lupa menikmati apa yang sedang ada di depan mata.

Belajar memilah mana masalah yang benar-benar perlu dipikirkan dan mana yang hanya asumsi juga sangat penting. Tidak semua ketakutan adalah kenyataan. Tidak semua yang ada di kepala benar-benar akan terjadi.

Menulis jurnal bisa membantu mengurangi kepadatan pikiran. Ketika isi kepala dituangkan ke tulisan, hati sering kali terasa lebih ringan. Pikiran yang tadinya terasa kusut mulai terlihat lebih jelas.

Selain itu, tubuh juga perlu diajak tenang. Tidur cukup, olahraga ringan, mengurangi konsumsi informasi berlebihan, dan memberi jeda pada diri sendiri sangat membantu menjaga kesehatan mental.

Bercerita kepada orang terpercaya juga penting. Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi rumit. Ia hanya perlu didengar agar tidak merasa sendirian menghadapi isi kepalanya sendiri.

Lalu, apakah mindfulness dapat membantu overthinking?

Jawabannya, iya.

Mindfulness adalah kemampuan untuk hadir penuh pada saat ini tanpa menghakimi diri sendiri secara berlebihan. Sederhananya, mindfulness membantu seseorang berhenti hidup terlalu jauh di masa lalu atau terlalu takut pada masa depan.

Orang yang overthinking biasanya hidup di dua tempat sekaligus: penyesalan masa lalu dan kecemasan masa depan. Sementara mindfulness mengajak kita kembali ke “hari ini”.

Ketika seseorang belajar mindfulness, ia mulai belajar menyadari napasnya, emosinya, pikirannya, dan keadaan tubuhnya tanpa panik. Pikiran buruk mungkin masih datang, tetapi tidak lagi langsung dipercaya mentah-mentah.

Mindfulness bukan membuat hidup bebas masalah. Ia membantu seseorang agar tidak tenggelam di dalam pikirannya sendiri.

Kadang ketenangan bukan tentang hilangnya masalah, tetapi tentang kemampuan untuk tetap bernapas tenang di tengah banyak hal yang belum selesai.

Dan mungkin, salah satu bentuk keberanian terbesar dalam hidup bukan menjadi kuat terus-menerus. Namun, berani mengakui bahwa, ”Aku sedang lelah. Aku butuh tenang.”[]

 

Lebih baru Lebih lama