
Oleh: Siti Hajar
- Orang
optimis melihat masalah sebagai tantangan yang bisa dihadapi, sedangkan
orang pesimis melihat masalah sebagai beban yang terasa mustahil
diselesaikan. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan cara seseorang
menafsirkan pengalaman hidupnya. Dua orang bisa mengalami kejadian yang
sama, tetapi cara berpikir mereka membuat perasaannya menjadi sangat
berbeda.
- Orang
optimis cenderung berkata, “Aku akan mencoba lagi,” sementara orang
pesimis lebih sering berpikir, “Percuma, hasilnya pasti sama saja.”
Kalimat kecil di dalam pikiran ternyata sangat memengaruhi semangat
seseorang dalam menjalani hidup sehari-hari.
- Saat
gagal, orang optimis menganggap kegagalan sebagai proses belajar. Mereka
percaya setiap orang pernah jatuh dan masih punya kesempatan memperbaiki
diri. Sebaliknya, orang pesimis sering menganggap kegagalan sebagai tanda
bahwa dirinya memang tidak berbakat atau tidak layak berhasil.
- Orang
optimis lebih mudah menjaga kesehatan mental karena memiliki harapan
terhadap masa depan. Harapan membuat seseorang merasa hidup masih punya
arah. Sedangkan orang pesimis lebih mudah tenggelam dalam kecemasan karena
pikirannya terus dipenuhi kemungkinan buruk.
- Dalam
hubungan sosial, orang optimis lebih terbuka membangun koneksi dan percaya
pada orang lain. Mereka biasanya lebih hangat dan mudah diajak bekerja
sama. Orang pesimis sering menjaga jarak karena takut kecewa, takut
ditolak, atau takut disakiti lagi.
- Orang
optimis biasanya fokus pada solusi. Ketika ada masalah, pikirannya
langsung mencari jalan keluar walaupun pelan-pelan. Sementara orang
pesimis lebih lama memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi sehingga
energi mentalnya cepat habis sebelum mencoba.
- Dalam
dunia kerja atau belajar, orang optimis lebih berani mengambil peluang
baru karena percaya dirinya bisa berkembang. Orang pesimis sering memilih
mundur sebelum mencoba karena takut gagal atau takut dipermalukan orang
lain.
- Orang
optimis memiliki self-talk atau cara berbicara kepada diri sendiri yang
lebih sehat seperti, “Aku belum berhasil sekarang, tapi aku masih bisa
belajar.” Sedangkan orang pesimis sering memakai kalimat yang terlalu
keras kepada dirinya sendiri seperti, “Aku memang selalu gagal,” atau “Aku
tidak akan pernah bisa.”
- Orang
optimis lebih cepat bangkit setelah mengalami tekanan emosional karena
pikirannya lebih fleksibel. Mereka mampu menerima rasa sedih tanpa merasa
hidupnya berakhir. Orang pesimis cenderung lebih lama terjebak dalam rasa
kecewa karena sulit melihat harapan baru.
- Menurut
Positive Psychology, optimisme bukan berarti selalu berpikir hidup akan
indah terus. Optimisme adalah kemampuan melihat kenyataan dengan lebih
seimbang dan tetap percaya bahwa keadaan bisa membaik. Sedangkan pesimisme
yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan motivasi, bahkan
sebelum mencoba melangkah.