Optimisme VS Pesimisme



Oleh: Siti Hajar

  1. Orang optimis melihat masalah sebagai tantangan yang bisa dihadapi, sedangkan orang pesimis melihat masalah sebagai beban yang terasa mustahil diselesaikan. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan cara seseorang menafsirkan pengalaman hidupnya. Dua orang bisa mengalami kejadian yang sama, tetapi cara berpikir mereka membuat perasaannya menjadi sangat berbeda.
  2. Orang optimis cenderung berkata, “Aku akan mencoba lagi,” sementara orang pesimis lebih sering berpikir, “Percuma, hasilnya pasti sama saja.” Kalimat kecil di dalam pikiran ternyata sangat memengaruhi semangat seseorang dalam menjalani hidup sehari-hari.
  3. Saat gagal, orang optimis menganggap kegagalan sebagai proses belajar. Mereka percaya setiap orang pernah jatuh dan masih punya kesempatan memperbaiki diri. Sebaliknya, orang pesimis sering menganggap kegagalan sebagai tanda bahwa dirinya memang tidak berbakat atau tidak layak berhasil.
  4. Orang optimis lebih mudah menjaga kesehatan mental karena memiliki harapan terhadap masa depan. Harapan membuat seseorang merasa hidup masih punya arah. Sedangkan orang pesimis lebih mudah tenggelam dalam kecemasan karena pikirannya terus dipenuhi kemungkinan buruk.
  5. Dalam hubungan sosial, orang optimis lebih terbuka membangun koneksi dan percaya pada orang lain. Mereka biasanya lebih hangat dan mudah diajak bekerja sama. Orang pesimis sering menjaga jarak karena takut kecewa, takut ditolak, atau takut disakiti lagi.
  6. Orang optimis biasanya fokus pada solusi. Ketika ada masalah, pikirannya langsung mencari jalan keluar walaupun pelan-pelan. Sementara orang pesimis lebih lama memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi sehingga energi mentalnya cepat habis sebelum mencoba.
  7. Dalam dunia kerja atau belajar, orang optimis lebih berani mengambil peluang baru karena percaya dirinya bisa berkembang. Orang pesimis sering memilih mundur sebelum mencoba karena takut gagal atau takut dipermalukan orang lain.
  8. Orang optimis memiliki self-talk atau cara berbicara kepada diri sendiri yang lebih sehat seperti, “Aku belum berhasil sekarang, tapi aku masih bisa belajar.” Sedangkan orang pesimis sering memakai kalimat yang terlalu keras kepada dirinya sendiri seperti, “Aku memang selalu gagal,” atau “Aku tidak akan pernah bisa.”
  9. Orang optimis lebih cepat bangkit setelah mengalami tekanan emosional karena pikirannya lebih fleksibel. Mereka mampu menerima rasa sedih tanpa merasa hidupnya berakhir. Orang pesimis cenderung lebih lama terjebak dalam rasa kecewa karena sulit melihat harapan baru.
  10. Menurut Positive Psychology, optimisme bukan berarti selalu berpikir hidup akan indah terus. Optimisme adalah kemampuan melihat kenyataan dengan lebih seimbang dan tetap percaya bahwa keadaan bisa membaik. Sedangkan pesimisme yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan motivasi, bahkan sebelum mencoba melangkah.

 

 

Lebih baru Lebih lama