Setiap Kali Membuat Bolu, Aku Mengingat Ibu

Oleh: Siti Hajar

Ada banyak hal yang membuat seseorang teringat kepada ibunya. Kadang bukan karena sebuah peristiwa besar, melainkan karena hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari.

Aku misalnya. Entah mengapa, hampir setiap kali berada di dapur, ingatanku selalu melayang kepada ibu. Saat membersihkan rumah, saat duduk santai menikmati secangkir kopi, bahkan ketika sedang membuat bolu, bayangan tentang beliau hadir begitu saja. Seolah-olah ada jejak-jejak kecil yang ditinggalkannya di setiap sudut kehidupan sehari-hari.

Ibuku adalah perempuan sederhana. Beliau membesarkan delapan putra dan putri dengan penuh kesabaran. Tidak ada gelar yang hebat, tidak ada pencapaian yang sering diberitakan orang, tetapi di mataku beliau adalah perempuan luar biasa yang menjalani hidup dengan ketulusan yang jarang disadari banyak orang.

Aku masih ingat bagaimana beliau begitu senang memasak. Dapur menjadi ruang yang sangat akrab dengannya. Dari sana lahir berbagai masakan yang mengenyangkan keluarga besar kami. Dari sana pula tercium aroma bolu yang sering beliau buat untuk memenuhi pesanan tetangga dan saudara-saudara. Tangan beliau seakan tidak pernah lelah mengaduk adonan, menyiapkan bahan, lalu menunggu kue matang dengan senyum yang tenang.

Kini setiap kali aku membuat bolu, ada rasa yang sulit dijelaskan. Aroma mentega yang meleleh, bunyi mixer yang berputar, atau saat adonan mulai mengembang di dalam oven, semuanya seperti membuka kembali lembaran-lembaran kenangan lama. Sejenak aku merasa ibu sedang berada di dekatku, sibuk dengan pekerjaannya sambil sesekali memberikan petunjuk sederhana.

Selain memasak, ibu juga senang menjahit. Aku masih dapat membayangkan suara mesin jahit yang menemani sore-sore di rumah. Kain-kain yang terlipat rapi, benang warna-warni, dan kesabaran beliau saat memperbaiki pakaian keluarga menjadi bagian dari masa kecil yang kini terasa begitu berharga.

Beliau juga tipe perempuan yang tidak betah melihat rumah berantakan. Ada saja yang dikerjakannya. Menyapu, mengepel, merapikan perabot, membersihkan halaman, atau sekadar menata ulang barang-barang agar terlihat lebih nyaman. Saat itu semua tampak biasa saja. Namun setelah dewasa, aku menyadari bahwa rumah yang terasa hangat dan nyaman ternyata lahir dari tangan seorang ibu yang bekerja tanpa banyak mengeluh.

Yang paling membekas adalah kesabarannya. Kesabaran yang tumbuh dari hari ke hari, tahun demi tahun. Beliau mendampingi bapak kami yang juga hidup dalam kesederhanaan. Bapakku seorang guru. Sosok yang tenang, tidak banyak menuntut, dan menjalani hidup apa adanya. Mereka berdua mungkin tidak memiliki banyak kemewahan, tetapi mereka menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga bagi anak-anaknya: keteladanan.

Dari mereka kami belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari banyaknya harta. Kebahagiaan bisa tumbuh dari meja makan sederhana yang mengumpulkan keluarga setiap hari. Dari secangkir kopi yang dinikmati bersama. Dari rumah yang bersih. Dari pakaian yang dijahit dengan penuh kasih. Dari kue bolu yang dibuat dengan tangan seorang ibu yang ingin melihat orang-orang di sekitarnya tersenyum.

Kini waktu telah berjalan jauh. Anak-anaknya telah dewasa dan menempuh jalan hidup masing-masing. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah. Setiap kali aku berada di dapur, setiap kali membersihkan rumah, setiap kali menyeruput kopi hangat, atau ketika aroma bolu memenuhi ruangan, aku selalu teringat ibu.

Dan di saat-saat seperti itu, aku menyadari bahwa seseorang tidak benar-benar pergi ketika kenangannya masih hidup dalam kebiasaan-kebiasaan yang kita jalani setiap hari. Ibu mungkin tidak lagi terlihat oleh mata, tetapi nilai-nilai yang beliau ajarkan tetap hadir dalam setiap pekerjaan sederhana yang kulakukan.

Barangkali itulah cara Allah menjaga seorang ibu tetap dekat dengan anak-anaknya. Bukan melalui kehadiran fisik, melainkan melalui kenangan-kenangan kecil yang terus muncul di sela-sela kehidupan. Kenangan yang membuat hati hangat, meski terkadang diiringi air mata yang diam-diam jatuh saat tak seorang pun melihatnya. []

Lebih baru Lebih lama