Oleh: Siti Hajar
Dalam sebuah hubungan, setiap orang tentu memiliki
kekurangan. Tidak ada pasangan yang sempurna. Ada yang keras kepala, ada yang
mudah marah, ada pula yang sulit mengungkapkan perasaan. Namun, ada kalanya
kita berhadapan dengan seseorang yang seolah menjadikan dirinya sebagai pusat
dari segala hal. Perasaannya harus selalu didahulukan, pendapatnya harus selalu
dianggap benar, dan kebutuhan orang lain sering kali dianggap tidak penting.
Dalam dunia psikologi, perilaku seperti ini sering dikaitkan dengan sifat
narsistik, atau pada tingkat yang lebih berat dikenal sebagai Narcissistic
Personality Disorder (NPD).
Awalnya mungkin tidak terasa. Bahkan terkadang
orang dengan sifat narsistik justru tampak menarik. Mereka percaya diri, pandai
berbicara, dan terlihat memiliki kendali atas banyak hal. Namun seiring
berjalannya waktu, hubungan dengan mereka dapat menjadi sangat melelahkan
secara emosional. Kita mulai merasa tidak didengar. Setiap kali mencoba
menyampaikan perasaan, justru kitalah yang dianggap berlebihan. Setiap konflik
berakhir dengan kita yang meminta maaf, meskipun bukan selalu kita yang
bersalah.
Yang lebih berat lagi, perlahan-lahan kita mulai
meragukan diri sendiri. Apakah aku terlalu sensitif? Apakah aku memang kurang
bersyukur? Apakah semua ini salahku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar
di kepala hingga tanpa sadar harga diri kita terkikis sedikit demi sedikit.
Dalam situasi seperti ini, penting untuk memahami
bahwa kita tidak dapat mengubah seseorang yang tidak merasa dirinya memiliki
masalah. Banyak orang menghabiskan bertahun-tahun mencoba menyenangkan pasangan
narsistik dengan harapan suatu hari mereka akan berubah. Sayangnya, perubahan
hanya mungkin terjadi jika orang tersebut menyadari perilakunya dan memiliki
kemauan untuk memperbaiki diri.
Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan
bukanlah berusaha mengubah pasangan, melainkan menjaga diri sendiri. Kita perlu
memiliki batasan yang sehat. Tidak semua ucapan harus diterima. Tidak semua
perlakuan harus ditoleransi. Menghormati pasangan bukan berarti mengorbankan
harga diri sendiri.
Saya sering berpikir bahwa dalam hubungan yang
sehat, cinta seharusnya membuat seseorang bertumbuh, bukan menyusut. Cinta yang
baik membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri. Kita boleh berbeda
pendapat tanpa takut dihina. Kita boleh melakukan kesalahan tanpa terus-menerus
direndahkan. Kita boleh memiliki kebutuhan tanpa dianggap egois.
Ketika hubungan justru membuat seseorang
kehilangan rasa percaya diri, merasa selalu salah, atau hidup dalam kecemasan
yang berkepanjangan, maka sudah waktunya untuk berhenti sejenak dan bertanya
kepada diri sendiri: apakah hubungan ini masih memberi ruang bagi saya untuk
hidup dengan sehat, tenang, dan bermartabat?
Mencari dukungan dari keluarga, sahabat, konselor,
atau psikolog bukanlah tanda kelemahan. Justru itu adalah bentuk keberanian
untuk menjaga diri. Sebab terkadang kita terlalu lama berada di dalam sebuah
situasi sehingga sulit melihatnya secara jernih. Kehadiran orang lain dapat
membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Setiap orang berhak mendapatkan hubungan yang
penuh penghargaan, bukan sekadar hubungan yang bertahan. Kita berhak didengar,
dihargai, dan dicintai dengan cara yang sehat. Sebab cinta yang sejati tidak
membuat seseorang kehilangan dirinya. Cinta yang sejati justru membantu
seseorang menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Fenomena pasangan dengan kecenderungan narsistik
memang terasa semakin sering dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Namun
pertanyaannya, apakah jumlahnya benar-benar meningkat, atau kita hanya semakin
menyadarinya?
Mungkin jawabannya adalah kombinasi keduanya.
Dahulu, banyak perilaku narsistik dianggap biasa.
Suami yang selalu ingin menang dalam perdebatan dianggap tegas. Atasan yang
tidak peduli pada perasaan bawahan dianggap berwibawa. Orang yang gemar
memamerkan diri dianggap sukses. Tidak banyak yang memiliki bahasa untuk
menjelaskan pengalaman mereka ketika merasa dimanipulasi, diremehkan, atau
dibuat meragukan diri sendiri.
Kini, masyarakat semakin
mengenal istilah seperti gaslighting, love bombing, emotional
abuse, dan narcissistic behavior. Media sosial, buku psikologi populer, podcast, dan berbagai konten edukasi
membuat orang lebih mampu mengenali pola hubungan yang tidak sehat. Apa yang
dulu hanya dianggap sebagai "pasangan yang egois" sekarang dapat
dipahami dengan lebih jelas sebagai perilaku yang merugikan secara emosional.
Di sisi lain, perkembangan budaya modern juga
tampaknya ikut berperan. Kita hidup di era yang sangat menekankan pencitraan
diri. Media sosial mendorong orang untuk terus menampilkan versi terbaik
dirinya, mencari validasi melalui jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar.
Tidak berarti semua pengguna media sosial menjadi narsistik, tentu tidak. Namun
lingkungan seperti ini dapat memperkuat kecenderungan untuk lebih fokus pada
penampilan, pengakuan, dan citra dibandingkan hubungan yang autentik.
Ada pula faktor pola asuh. Sebagian ahli psikologi
berpendapat bahwa baik pola asuh yang terlalu memanjakan maupun terlalu
mengkritik dapat berkontribusi pada berkembangnya sifat narsistik. Anak yang
terus-menerus dipuji tanpa belajar empati dapat tumbuh dengan rasa superioritas
yang berlebihan. Sebaliknya, anak yang sering direndahkan terkadang membangun
"topeng" narsistik sebagai mekanisme pertahanan untuk menutupi luka
batinnya.
Menariknya, di balik sikap narsistik yang tampak
percaya diri, sering kali terdapat rasa tidak aman yang sangat dalam. Mereka
membutuhkan kekaguman dari luar karena tidak memiliki rasa aman yang kokoh di
dalam dirinya. Karena itu, ketika dikritik, mereka bisa bereaksi sangat
defensif atau bahkan menyerang balik.
Namun ada satu hal yang menurut saya paling
penting untuk direnungkan. Mungkin yang benar-benar meningkat bukan hanya
perilaku narsistik, tetapi juga kesadaran kita tentang pentingnya kesehatan
mental dan hubungan yang sehat. Generasi sekarang lebih berani bertanya,
"Apakah hubungan ini membuat saya bertumbuh?" Mereka tidak lagi
sekadar bertahan karena tuntutan sosial, tetapi mulai mempertimbangkan kualitas
hubungan itu sendiri.
Tantangan terbesar zaman ini mungkin bukan sekadar menghadapi orang-orang yang narsistik. Namun, bagaimana kita tetap memelihara empati di tengah budaya yang semakin mendorong setiap orang untuk menampilkan dirinya, mempromosikan dirinya, dan berlomba mendapatkan perhatian. Sebab hubungan yang sehat tidak dibangun oleh siapa yang paling menonjol, melainkan oleh dua orang yang sama-sama mampu melihat, mendengar, dan menghargai satu sama lain. []
