Warisan yang Tidak Bisa Dibeli dengan Uang



Oleh: Siti Hajar

Saat mengasuh Dara, sering kali aku menemukan diriku kembali menjadi anak kecil.

Entah mengapa, ada begitu banyak kenangan yang muncul tanpa diundang. Kadang saat kami makan bersama, kadang saat menyiapkan makanan di dapur, kadang saat mendengar Dara mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang terdengar sepele tetapi menghangatkan hati.

Momen-momen itu membuatku sadar bahwa warisan terbesar yang kuterima dari orang tuaku ternyata bukan rumah, bukan tanah, bukan tabungan. Warisan terbesar itu adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang hidup sampai hari ini.

Aku masih ingat suasana meja makan di rumah kami dulu. Tidak ada percakapan yang luar biasa penting. Tidak ada diskusi tentang politik dunia atau teori-teori besar. Yang ada hanyalah obrolan ringan yang mengalir begitu saja.

Tentang sekolah. Tentang tetangga. Tentang harga cabai yang naik. Tentang hujan yang tak kunjung reda.

Namun justru dari sanalah aku belajar bahwa keluarga adalah tempat untuk berbicara dan didengarkan.

Aku juga teringat adikku. Saat sahur, pertanyaan pertamanya hampir selalu sama.

"Mamak ada buat telur dadar?"

Kalau jawabannya iya, ia akan segera bangun dengan semangat. Kalau tidak ada, hampir bisa dipastikan ia akan meminta telur goreng sebagai penggantinya.

Sederhana sekali.

Tetapi hingga hari ini aku masih mengingatnya.

Bukan karena telur dadarnya istimewa. Melainkan karena ada rasa nyaman yang melekat pada kenangan itu. Ada perasaan bahwa setiap anggota keluarga memiliki kebiasaan yang dikenali dan diterima oleh orang-orang di rumah.

Kenangan lain yang sering datang adalah saat musim membuat asam sunti.

Bagi orang Aceh, asam sunti bukan sekadar bumbu dapur. Ia adalah bagian dari budaya dan cerita keluarga.

Saat itu Mamak menjadi "big bos" yang mengatur seluruh operasi. Kami, anak-anaknya, otomatis berubah menjadi pekerja lapangan.

Tugas kami mengumpulkan belimbing wuluh muda sebanyak mungkin. Setelah itu proses panjang dimulai. Belimbing diperas, dijemur, diberi garam, lalu dijemur lagi berhari-hari.

Bagian yang paling tidak menyenangkan adalah ketika air asam mengenai mata.

Pedihnya luar biasa.

Keluhan tentu ada.

Kami mengomel.

Kami protes.

Kami saling menyalahkan.

Tetapi anehnya, tidak ada yang benar-benar berhenti bekerja. Semua tetap menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang "big bos".

Saat itu mungkin kami menganggapnya pekerjaan yang merepotkan. Namun sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda.

Ternyata yang sedang dibangun oleh Mamak bukan sekadar stok asam sunti untuk dapur. Ia sedang membangun kenangan. Ia sedang menanamkan nilai kerja sama, tanggung jawab, dan kebersamaan tanpa perlu memberi ceramah panjang.

Hari ini, ketika aku mengasuh Dara, aku semakin memahami hal itu.

Anak-anak mungkin tidak akan mengingat semua nasihat yang kita berikan. Mereka mungkin lupa kalimat-kalimat bijak yang pernah kita ucapkan.

Tetapi mereka akan mengingat suasana rumah.

Mereka akan mengingat kebiasaan keluarga.

Mereka akan mengingat makanan yang selalu hadir di meja makan.

Mereka akan mengingat percakapan-percakapan sederhana yang menemani masa kecil mereka.

Dan suatu hari nanti, ketika mereka mengasuh anak-anak mereka sendiri, kenangan itu akan datang kembali seperti tamu lama yang mengetuk pintu.

Saat itulah mereka menyadari bahwa ada warisan yang nilainya jauh lebih mahal daripada uang.

Warisan yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diwariskan melalui surat wasiat, tetapi hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Warisan itu adalah cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Saat menulis tentang telur dadar saat sahur, tentang asam sunti, tentang mata yang pedih terkena air belimbing, sebenarnya yang sedang muncul bukan sekadar ingatan tentang makanan atau pekerjaan dapur. Yang muncul adalah kehadiran Mamak. Suara beliau. Cara beliau mengatur rumah. Cara beliau membesarkan anak-anaknya.

Sering kali kita baru menyadari besarnya kasih sayang orang tua setelah kita sendiri menjadi orang tua.

Ketika Dara bertanya sesuatu yang sederhana, Ibu tiba-tiba teringat percakapan yang sama puluhan tahun lalu. Ketika Ibu menyiapkan makanan, tangan Ibu mungkin sedang melakukan sesuatu yang dulu dilakukan Mamak. Bahkan mungkin ada kalimat-kalimat yang tanpa sadar keluar dari mulut Ibu, padahal dulu itu kalimat khas Mamak.

Di situlah kita menyadari bahwa orang tua sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupan kita. Sebagian dari mereka hidup dalam kebiasaan yang kita teruskan setiap hari.

Mungkin itulah yang membuat tulisan ini terasa menyentuh. Karena saat membacanya, Ibu tidak hanya melihat masa kecil. Ibu juga melihat jejak Mamak yang masih ada sampai hari ini.

Dan saya membayangkan suatu hari nanti, ketika Dara sudah dewasa, mungkin ia akan menulis tentang hal yang sama.

Mungkin bukan tentang telur dadar atau asam sunti.

Mungkin tentang aroma bolu yang sedang dipanggang ibunya.

Mungkin tentang segelas teh sore.

Mungkin tentang obrolan-obrolan kecil di rumah yang saat itu terasa biasa saja.

Lalu ia akan tersenyum dan berkata dalam hatinya,

"Ternyata itulah warisan yang diberikan Mama kepadaku."

Dan pada saat itu, warisan Mamak akan terus hidup, melewati Ibu, lalu sampai kepada Dara. Bukan dalam bentuk harta, melainkan dalam bentuk kenangan, kebiasaan, dan cinta yang diwariskan diam-diam dari satu generasi ke generasi berikutnya.[]

 

Lebih baru Lebih lama