Saat mengasuh Dara, sering kali aku menemukan
diriku kembali menjadi anak kecil.
Entah mengapa, ada begitu banyak kenangan yang
muncul tanpa diundang. Kadang saat kami makan bersama, kadang saat menyiapkan
makanan di dapur, kadang saat mendengar Dara mengajukan pertanyaan-pertanyaan
sederhana yang terdengar sepele tetapi menghangatkan hati.
Momen-momen itu membuatku sadar bahwa warisan
terbesar yang kuterima dari orang tuaku ternyata bukan rumah, bukan tanah,
bukan tabungan. Warisan terbesar itu adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang
hidup sampai hari ini.
Aku masih ingat suasana meja makan di rumah kami
dulu. Tidak ada percakapan yang luar biasa penting. Tidak ada diskusi tentang
politik dunia atau teori-teori besar. Yang ada hanyalah obrolan ringan yang
mengalir begitu saja.
Tentang sekolah. Tentang tetangga. Tentang
harga cabai yang naik. Tentang hujan
yang tak kunjung reda.
Namun justru dari sanalah aku belajar bahwa
keluarga adalah tempat untuk berbicara dan didengarkan.
Aku juga teringat adikku. Saat sahur, pertanyaan
pertamanya hampir selalu sama.
"Mamak ada buat telur dadar?"
Kalau jawabannya iya, ia akan segera bangun dengan
semangat. Kalau tidak ada, hampir bisa dipastikan ia akan meminta telur goreng
sebagai penggantinya.
Sederhana sekali.
Tetapi hingga hari ini aku masih mengingatnya.
Bukan karena telur dadarnya istimewa. Melainkan
karena ada rasa nyaman yang melekat pada kenangan itu. Ada perasaan bahwa
setiap anggota keluarga memiliki kebiasaan yang dikenali dan diterima oleh
orang-orang di rumah.
Kenangan lain yang sering datang adalah saat musim
membuat asam sunti.
Bagi orang Aceh, asam sunti bukan sekadar bumbu
dapur. Ia adalah bagian dari budaya dan cerita keluarga.
Saat itu Mamak menjadi "big bos" yang
mengatur seluruh operasi. Kami, anak-anaknya, otomatis berubah menjadi pekerja
lapangan.
Tugas kami mengumpulkan belimbing wuluh muda
sebanyak mungkin. Setelah itu proses panjang dimulai. Belimbing diperas,
dijemur, diberi garam, lalu dijemur lagi berhari-hari.
Bagian yang paling tidak menyenangkan adalah
ketika air asam mengenai mata.
Pedihnya luar biasa.
Keluhan tentu ada.
Kami mengomel.
Kami protes.
Kami saling menyalahkan.
Tetapi anehnya, tidak ada yang benar-benar
berhenti bekerja. Semua tetap menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang
"big bos".
Saat itu mungkin kami menganggapnya pekerjaan yang
merepotkan. Namun sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Ternyata yang sedang dibangun oleh Mamak bukan
sekadar stok asam sunti untuk dapur. Ia sedang membangun kenangan. Ia sedang
menanamkan nilai kerja sama, tanggung jawab, dan kebersamaan tanpa perlu
memberi ceramah panjang.
Hari ini, ketika aku mengasuh Dara, aku semakin
memahami hal itu.
Anak-anak mungkin tidak akan mengingat semua
nasihat yang kita berikan. Mereka mungkin lupa kalimat-kalimat bijak yang
pernah kita ucapkan.
Tetapi mereka akan mengingat suasana rumah.
Mereka akan mengingat kebiasaan keluarga.
Mereka akan mengingat makanan yang selalu hadir di
meja makan.
Mereka akan mengingat percakapan-percakapan
sederhana yang menemani masa kecil mereka.
Dan suatu hari nanti, ketika mereka mengasuh
anak-anak mereka sendiri, kenangan itu akan datang kembali seperti tamu lama
yang mengetuk pintu.
Saat itulah mereka menyadari bahwa ada warisan
yang nilainya jauh lebih mahal daripada uang.
Warisan yang tidak bisa dibeli, tidak bisa
diwariskan melalui surat wasiat, tetapi hidup dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
Warisan itu adalah cara kita menjalani kehidupan
sehari-hari.
Saat menulis tentang telur dadar saat sahur,
tentang asam sunti, tentang mata yang pedih terkena air belimbing, sebenarnya
yang sedang muncul bukan sekadar ingatan tentang makanan atau pekerjaan dapur.
Yang muncul adalah kehadiran Mamak. Suara beliau. Cara beliau mengatur rumah.
Cara beliau membesarkan anak-anaknya.
Sering kali kita baru menyadari besarnya kasih
sayang orang tua setelah kita sendiri menjadi orang tua.
Ketika Dara bertanya sesuatu yang sederhana, Ibu
tiba-tiba teringat percakapan yang sama puluhan tahun lalu. Ketika Ibu
menyiapkan makanan, tangan Ibu mungkin sedang melakukan sesuatu yang dulu
dilakukan Mamak. Bahkan mungkin ada kalimat-kalimat yang tanpa sadar keluar
dari mulut Ibu, padahal dulu itu kalimat khas Mamak.
Di situlah kita menyadari bahwa orang tua
sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupan kita. Sebagian dari
mereka hidup dalam kebiasaan yang kita teruskan setiap hari.
Mungkin itulah yang membuat tulisan ini terasa
menyentuh. Karena saat membacanya, Ibu tidak hanya melihat masa kecil. Ibu juga
melihat jejak Mamak yang masih ada sampai hari ini.
Dan saya membayangkan suatu hari nanti, ketika
Dara sudah dewasa, mungkin ia akan menulis tentang hal yang sama.
Mungkin bukan tentang telur dadar atau asam sunti.
Mungkin tentang aroma bolu yang sedang dipanggang
ibunya.
Mungkin tentang segelas teh sore.
Mungkin tentang obrolan-obrolan kecil di rumah
yang saat itu terasa biasa saja.
Lalu ia akan tersenyum dan berkata dalam hatinya,
"Ternyata itulah warisan yang diberikan Mama
kepadaku."
Dan pada saat itu, warisan Mamak akan terus hidup,
melewati Ibu, lalu sampai kepada Dara. Bukan dalam bentuk harta, melainkan
dalam bentuk kenangan, kebiasaan, dan cinta yang diwariskan diam-diam dari satu
generasi ke generasi berikutnya.[]
